Puisi Esai Gen Z: Siaga Tiga di Dada Reta Karya Aditya Perdana Saputra

Badan Geologi Kementerian ESDM melaporkan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Terbaru, pukul 03.53 WIB, erupsi terekam selama 30 detik.

“Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Minggu, 6 September 2026, pukul 03.53 WIB. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 46 mm dan durasi 30 detik,” demikian keterangan Badan Geologi di akun X-nya, Minggu (6/9/2026).

Sementara itu, situs Magma Kementerian ESDM menyebutkan bahwa erupsi masih berlangsung. Namun, tinggi kolom abu tidak teramati. Badan Geologi meminta warga menjauhi radius 3 km dari kawah.

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8650370/anak-krakatau-erupsi-lagi-dengan-durasi-30-detik-jauhi-radius-3-km

Siaga Tiga di Dada Reta

I. Anak yang Mendengar Getaran Sebelum Orang Lain

Reta baru saja terlelap ketika ponselnya bergetar tiga kali berturut-turut.
Bukan pesan biasa,
tapi notifikasi peringatan dini: abu vulkanik, status siaga tiga, bandara ditutup.

Ia sudah lama tahu jantungnya bekerja berbeda dari teman-temannya.
Detaknya bisa jadi terlalu cepat hanya karena satu kabar buruk di layar,
jauh sebelum tubuh yang lain sempat panik.

Malam itu,
tangannya lebih dulu gemetar
daripada kakinya sempat berdiri dari kasur.

II. Rumah yang Mendadak Berisik

Ibunya berteriak menyuruh berkemas,
adiknya menangis karena boneka kesayangan tertinggal,
televisi menyala,
menampilkan wajah pejabat yang berbicara tenang
tentang sesuatu yang sama sekali tidak terasa tenang
di dada Reta.

Ia mencoba menarik napas panjang
seperti yang diajarkan di video,
tapi paru-parunya terasa seperti diisi abu duluan,
sebelum abu itu benar-benar sampai ke kotanya.

Ia berdiri di tengah rumah
yang berkemas terburu-buru,
merasa seperti satu-satunya orang
yang panik dua kali:
pada gunung,
dan pada dirinya sendiri.

III. Yang Bilang Jangan Berlebihan

“Udah, jangan lebay. Orang dewasa aja tenang,”
kata pamannya sambil mengangkat koper ke mobil.

Grup keluarga di ponsel penuh info simpang siur,
video-video dramatis dibagikan
tanpa dicek dulu kebenarannya,
setiap yang membaca
ikut menambah cemas tanpa sadar.

Tak ada yang bertanya
kenapa Reta lebih diam dari biasanya,
tak ada yang tahu
bahwa yang membuatnya sulit bernapas
bukan cuma abu vulkanik di udara,
tapi juga rasa takut
yang tak diberi tempat untuk diucapkan.

IV. Yang Disimpan di Balik Napas yang Diatur-atur

Reta duduk di kursi belakang mobil,
memeluk tasnya erat,
mencoba menghitung napas
seperti biasa saat cemas datang.

Tapi kali ini hitungannya kacau,
karena yang ia takutkan
bukan hanya letusan di kejauhan,
melainkan perasaannya sendiri
yang terasa asing,
yang tak pernah benar-benar ia pahami,
yang selalu ia sembunyikan
supaya tidak dibilang berlebihan.

V. Setelah Kabar Itu Disiarkan

Di radio mobil,
terdengar imbauan resmi:
tetap tenang,
tetap waspada,
percaya sumber tepercaya.

Reta ingin tertawa kecil,
entah kenapa,
karena kalimat itu terdengar mudah diucapkan
oleh siapa pun yang tidak sedang berjuang
hanya untuk menenangkan tubuhnya sendiri.

Ibunya,
di lampu merah,
akhirnya menoleh dan bertanya,
“Kamu kenapa diam terus dari tadi?”

Reta tidak langsung menjawab,
tapi untuk pertama kalinya malam itu,
ia tidak buru-buru bilang,
“nggak apa-apa.”

Ia hanya menggenggam tangan ibunya,
membiarkan hening itu berbicara
lebih jujur dari kata tenang
yang terus diulang di radio.

Tentang Penulis

Aditya Perdana Saputra adalah guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang mengabdi di Lampung Barat, Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Pendidikan Indonesia pada 2023 dan Pendidikan Profesi Guru Prajabatan di Universitas Pendidikan Indonesia pada 2024 di bidang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==