Sejak lama, saya punya kebiasaan kecil: duduk bersama orang-orang sepuh dan mendengarkan cerita mereka. Kadang di teras rumah, kadang di pojok warung kopi, kadang di bus, atau di ruang tunggu kantor layanan pemerintah. Mereka tidak pernah kehabisan cerita. Tentang masa muda, tentang anak-anak yang kini sibuk, tentang tubuh yang tak lagi setia. Saya jarang memotong. Sebab saya tahu, yang mereka butuhkan bukan jawaban, tapi pendengar yang baik.
Dari perbincangan-perbincangan itulah saya mulai memahami: orang yang menua sering kali hanya ingin dikenang sebagai seseorang yang pernah utuh. Mereka ingin bercerita bukan karena mereka kesepian semata, tapi karena cerita adalah satu-satunya cara mereka tetap ada. Dikenang. Diingat. Dirasa masih berarti.
Puisi-puisi ini lahir dari pengamatan, perbincangan, dan juga bayangan saya sendiri ketika nanti saya juga menjadi tua dan sepuh. Tentang ruang-ruang yang mulai kosong, waktu yang terasa lambat, dan ingatan yang semakin banyak menumpuk di dalam laci kepala. Tapi juga tentang harapan kecil: bahwa akan selalu ada seseorang yang sudi duduk dan mendengarkan.
Alex Karci Kurniawan



Puisi Alex Karci Kurniawan
Laci yang Tak Pernah Ditutup
aku duduk di ruang tamu
yang sudah tak banyak tamunya.
kopi pagi tak pernah habis,
bukan karena tak enak
tapi karena tak ada yang menunggu
untuk kucepat-cepatkan.
di dinding, jam berdetak seperti ragu—
mengingatkan aku pada pertanyaan yang tak terjawab:
kapan terakhir aku dipeluk tanpa alasan?
aku ingat hujan,
tapi lupa wajah anakku saat pertama kali bicara.
mereka tumbuh seperti rumput setelah hujan
dan aku—akar yang tertinggal di tanah.
hari ini aku menyiram bunga,
besok mungkin bunga menyiramku dengan kenangan.
aku tidak kesepian,
hanya sering berbicara dengan angin
dan mendengar jawabannya dalam detak jantung
yang makin pelan.
sebuah laci di kepalaku selalu terbuka:
penuh nama, tanggal,
dan lagu-lagu lama
yang tak bisa kudendangkan
tanpa air mata.
(2025)

Puisi Alex Karci Kurniawan
Tanda Kurung Terakhir
kubur ini,
tidak punya nama.
atau mungkin punya,
tapi huruf-hurufnya
sudah berhenti bicara.
aku datang,
dengan lutut yang gemetar
dan ingatan yang suka berdusta.
bukan karena lupa—
tapi karena kenangan juga bisa lelah.
kau ingat waktu kita menertawakan kematian?
sambil menonton tukang gali
menyeruput kopi hitam dari gelas plastik
seperti sedang menyambut tamu?
hari ini aku tamunya.
tapi kau terlalu diam.
terlalu sopan.
terlalu mati.
aku bawa sebungkus rokok,
yang dulu kita sembunyikan dari istri-istri
dan anak-anak yang sok tahu soal paru-paru.
aku letakkan di atas nisan.
semoga Tuhan izinkan satu isapan untukmu.
di antara batu-batu nisan,
aku bukan yang paling tua,
hanya yang paling hidup—
sementara itu pun sebentar lagi akan berubah status.
“apa kabar?” tanyaku.
lalu diam,
karena tak ada yang perlu dijawab.
aku pulang
dengan sepatu berlumpur,
dan kepala yang tiba-tiba terasa ringan.
mungkin karena angin,
mungkin karena kau masih
menemaniku berjalan,
dalam diam yang sangat panjang,
dan sangat dalam.
(2025)

Puisi Alex Karci Kurniawan
Rumah ini terlalu besar untuk satu orang dan bayangannya
di rumah, suara paling keras adalah ingatan.
kadang aku dengar istriku memanggil dari dapur—
padahal dia sudah tiada sejak televisi masih kotak.
lantai kayu tidak bicara,
tapi mereka mengeluh setiap kali aku lewat.
mereka tahu: aku juga lelah berpura-pura
jadi bagian dari sesuatu.
jam berdetak.
dinding dingin.
aku bicara pada cermin
yang sudah berhenti memantulkan harapan.
“Apa aku pindah saja ke panti jompo?”
di sana, katanya:
ada jadwal senam,
acara karaoke,
dan orang-orang yang lupa nama tapi masih ingat cara tertawa.
mungkin di sana, aku bisa bernama lagi.
bukan hanya “ayahnya siapa”,
tapi “Pak Joko yang suka main catur,”
atau “yang suka nyanyiin lagu Koes Plus jam 5 sore.”
(2025)

Puisi Alex Karci Kurniawan
Badan Pegal-Pegal
badan ini seperti rumah tua
yang pernah jadi ramai,
sekarang hanya gemeretak tiap digerakkan
leher enggan menoleh jauh
pundak mengeluh tanpa suara
punggung seperti menyimpan
seluruh cerita semalam—
terlalu banyak duduk, terlalu sedikit tidur
badan ini ingin dibaringkan
di bawah langit
bukan di kasur
tapi di hamparan angin
agar semua beban bisa terbang
tapi hidup,
tak memberi jeda yang cukup panjang
untuk benar-benar rebah
(2025)

Puisi Alex Karci Kurniawan
Maaf, Tadi Aku Sedang Bicara
Aku sedang menceritakan sesuatu—
tentang sepatu bot dan jembatan tua
atau mungkin tentang anjing yang bisa mengeja namaku
(aku yakin itu pernah terjadi).
Mereka duduk mengelilingiku,
mata mereka seperti televisi tanpa sinyal.
Aku bilang:
“Dulu, aku melawan sesuatu. Entah cinta, entah tentara.
Sulit membedakan waktu itu.”
Aku mengangkat tangan,
menunjuk sudut ruangan,
tempat kenangan biasanya bersembunyi.
Tapi tidak ada yang muncul
selain bayangan kipas angin dan
harapan yang tersesat.
Kata-kataku mulai kabur,
seperti huruf-huruf di air hujan.
Aku masih bicara,
tapi kalimatku mulai berbaring.
Lalu,
kepalaku pelan-pelan condong ke kanan—
tidak dramatis, hanya malas.
Gelap datang seperti tamu tak diundang.
Tiba-tiba saja aku
berhenti.
Berhenti bicara.
Berhenti menjadi suara.
Masuk ke tempat di mana tidak ada pertanyaan,
dan jawabannya pun tidak penting.
Mungkin aku akan melanjutkan cerita nanti.
Atau tidak.
Siapa tahu.
(2025)


TENTANG PENULIS: Alek Karci Kurniawan tinggal di Pekanbaru. Kolumnis Asia Times (Hong Kong) dan Daily California (Amerika Serikat). Buku fiksinya berjudul “Jemuran di Musim Penghujan” terbit pada tahun 2020.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


