Sepatu Baru Buat Sarip

Cerpen oleh Gol A Gong

Stadion kota. Beberapa anak di lintasan lari. Anak-anak masa depan bangsa itu  sedang bersiap-siap adu lari 100 meter di final. Dan Sarip ada di lintasan 4.

Anisa dan kawan-kawannya berjingrak-jingkrak di tribun bersama Glen yang memakai kruk di sebelahnya. Kakak Anisa berteriak-teriak menyemangati.

Anisa melirik kepada Glen, “Glen,” suaranya pelan. “Awas, jangan bilang-bilang sama mamamu, kalau kecelakaan motor ini sebetulnya pura-pura,” kedua mata Anisa melihat ke lutut kaki kiri Glen yang diperban.

Glen meringis, “Tapi Kak Roni nyenggolnya beneran.”

Cerpen: Akbar

Oleh Gol A Gong

Akbar membuka laci meja kerjanya. Amplop tebal itu masih tergolek di laci meja kerjanya. Dia mengusap wajahnya yang berkeringat dengan tissue. Diambilnya remote AC yang tergeletak di dekat laptop dengan gambar buah apel digigit. Dipijitnya lagi, sudah mentok di angka “17”.

Dia meraih gawai yang tergeletak di meja. Buru-buru kedua jempolnya memijiti huru-huruf, “Aku mau balikin amplop dulu ke Wisnu, Bu. Pulang agak maleman, ya,” begitu pesan yang dia tulis lewat WA kepada isterinya.

Centang dua, belum biru.

Pintu diketuk.

“Masuk!”

Pintu terbuka. Sebuah kepala muncul dan terdengar suara yang bernada hati-hati, “Pulang sekarang, Pak?”

Cerpen: Sarah dan Satpam

Oleh Gol A Gong

Sarah mendorong seorang petugas laki-laki di mini market yang menarik tas jinjingnya. Tas itu terjatuh. Dua bungkus susu kotak, lima bungkus mie, dua kaleng kornet, dan tiga bungkus cemilan untuk anak kecil berceceran ke lantai. Wajah Sarah yang pucat terlindung masker, tapi kedua bola matanya begerak-gerak.

“Maliiiing!” teriak si petugas mini market memunguti makanan itu.

Sarah tidak bisa ke mana-mana, karena para pengunjung di mini market itu mengepungnya.
Puluhan pasang mata yang sedang berbelanja menancap ke hati Sarah dan suara mereka mendengung seperti majikan kepada bawahannya.

Tukang Koran Jadi Tokoh Jahat di Cerpen yang Kita Tulis

Masihkah Anda menemukan orang membeli koran dan membacanya di taman-taman? Jika Anda menemukan orang menjual koran di perempatan jalan, belilah satu atau dua koran; anggap saja bersedekah.

Nah, si penjual koran bisa kita jadikan “tokoh” dalam cerpen kita. Kemudian kita kembangkan karaktrenya jadi antagonis. Konfliknya akan terasa kuat. “Sudah miskin, kok, jahat!” kira-kira seperti itu yang akan muncul di hati pembaca.

Cerpen: Gadis Pemulung Masuk Televisi

Karya Gol A Gong

Aini duduk di pos ronda. Karung teronggok di tiang. Dia menyeka keningya. Punggung tangannya basah. Ini hari panas sekali. Mungkin pertanda akan hujan. Dia baru sekitar 1 jam mengelilingi perumahan; mencari-cari rongsokan. Karungnya baru terisi seperempat. Di bak sampah tikungan jalan komplek, dia hanya memperoleh beberapa botol minuman plastik. Di bak sampah rumah nomor 9, hanya ada 2 botol plastik minuman ukuran besar.  

Belajar Menulis Nama Tokoh

Setiap menulisnovel, ingat, jangan sembarangan memberi nama tokoh. Seperti jugadi dunia nyata, nama adalah doa, di dalam novel juga begitu. Harus ada latar belakang ceritanya supaya memiliki karakter yang unik dan kuat.

Latihan Membuat Kalimat Pembuka Dari Peristiwa Bulan Purnama di Pekuburan Dengan Melibatkan Tokoh

Kamu kesulitan membuka ceritamu dengan kalimat apa dan bagaimana? Untuk sekadar latihan, sering-serinlah berlatih membuat kalimat berdasarkan foto. Itu latihan yang efektif. Sekarang saya ingin mengajak kamu berlatih mmbuat kalimat pembuka dengan melihat fenomena alam di sekitar kita. Misalnya bintang di langit, bulan purnama, sungai banjir, gunung yang gundul, dan masih banyak lagi. Kali ini saya akan mengajak kamu berlatih berdasarkan sebuah foto di internet, karya *) Foto: Eko Adri Wahyudiono. Kita mulai, ya.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)