Twenty Five Twenty One dan Kenyataan Anak Muda Korea yang Tertekan

Oleh: Natasha Harris

Pernah gak sih ngerasa kalau hidup kita kayak udah ditentuin dari kecil, apalagi soal pendidikan? Di Korea Selatan, hal ini jadi isu yang besar banget. Banyak orang tua di sana naruh harapan besar ke anak-anaknya buat sukses lewat jalur akademik. Mereka percaya, masa depan cerah itu datang dari sekolah top, nilai tinggi, dan lulus 수능 ‘suneung’ (ujian masuk universitas) yang susah, dan jadi penentu hidup banyak siswa di sana.

Menariknya, isu ini udah banyak diangkat di drama-drama Korea. Salah satunya Twenty Five Twenty One. Dalam dramanya, Na Heedo pengen banget jadi atlet anggar profesional. Tapi, ibunya gak mendukung dan nyuruh dia fokus belajar, karena menurut sang ibu, pendidikan itu prioritas utama. Konflik ini nyentil realita banyak anak muda di Korsel yang harus berjuang keras buat ngeyakinin orang tua kalau mimpi mereka juga layak diperjuangkan, bukan cuma soal nilai ujian atau ranking kelas.

Tekanan ini gak muncul begitu aja. Korsel punya budaya kompetitif yang tinggi banget, dari sekolah sampai dunia kerja. Banyak orang tua yang merasa udah ngerasain susahnya hidup, cenderung pengen anaknya punya hidup lebih stabil. Makanya mereka maksa anaknya buat jalan di jalur “aman”, meskipun itu bukan jalan yang diinginkan si anak.

Pola asuh orang tua tsb juga dikenal dengan tiger parenting (tipe yang super disiplin dan punya kotrol tinggi demi hasil yang maksimal). Tujuannya sih baik ya, tapi efeknya bisa bikin anak ngerasa gak punya ruang buat gagal dalam langkahnya. Hal ini tuh sejalan sama data tinggi angka bunuh diri remaja di Korsel, yang udah jadi rahasia publik.

Kalau dipikir-pikir, kondisi kayak gini juga terjadi di Indonesia ya. Di sini masih banyak orang tua yang nganggep nilai bagus dan kuliah di jurusan “favorit” itu segalanya. Meskipun tekanannya gak sekeras di Korsel, dan orang tua juga ngelakuin itu karena ingin yang terbaik untuk anaknya, tapi ekspektasinya tetap bikin anak gak bebas milih jalannya sendiri. Menurutmu, siapa yang bisa disalahin di sini? Atau gak ada yang salah?

*) Natasha Harris, mahasiswa Pendidikan Bahasa Korea, UPI Bandung.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==