Di Meja Makan: Manfaat Taman Bacaan Masyarakat Bernama Rumah Dunia

Putri kami – Nabila Nurhalishah Harris – pada Jauari 2020 pulang berlibur ke Indonesia.Dia mendapat beasiswa S1 dari Sun Yat Sen University, Tiongkok. Kemudian meledak Covid-19 di Wuhan. Hingga 2 tahun berselang, dia hanya kuliah online dan belum bisa kembali. Kami menemani hatinya yang gundah gulana soal kuliahnya. Di meja makan, kami berdiskusi tentang kemungkinan terbaik, seperti misalnya pindah kuliah di indonesia. Tapi putri kami tetap merawat mimpinya kembali kuliah di Tiongkok. >>> ke halaman berikutnya.

Tak Ada Lagi Nasi Uduk Saat Sarapan tapi Berganti Rebusan Daun Sirsak Penurun Kolestrol

Ya, harus saya akui, di meja makan saya kali ini berbeda. Tak ada lagi nasi uduk atau nasi goreng. Ya, setiap pulang dari traveling mengampanyelan literasi baca dan tulis, tubuh saya penuh racun berbahaya, yaitu kolesterol. Apalagi setelah pulang dari Sumbawa, 7 – 12 September 2022, kuliner soto dagingnya luar biasa. Tiada hari tanpa daging. Di sela-sela itu tentu nasi Padang dengan kikil dan gulai kepala ikannya.

Seminggu sebelumnya di Bukittinggi lebih parah. Empat hari berturu-turut selalu dihiasi pesta duren. Tentu rumah makan Padang di kampungny sendiri plus teh telur. Komplet. Saya pernah mengalami kepala mulai pening, yang saya lakukan adalah jalan kaki di pagi hari.

Kini saya mengikuti saran isteri tercinta. Sarapan jus wortel di pagi hari. Disambung dengan ubi yang direbus, juga minuman daun sirsak. Di halaman samping memang tumbuh pohon sirsak yang rimbun daunnya.

Namanya ikhtiar, semoga aroa di meja makan saya sehat dan penuh kegembiraan. Kami ingin hidup lebih bahagia, tentu agar bisa melihat cucu-cucu kami nanti. Aminkan. *

Kue Jahe dari Istri Tercinta Menemaniku Saat Menulis

Ya, Allah. Ternyata menggeluti iqra dan qalam itu menyenangkan. sudah sejak 1990-an saya memberikan pelatihan menuliskepada para pelajar, mahasiswa, guru, dan siapa saja seperti dari kalangan marjinal seperti pemulung, tukang gorengan, tukang nasi uduk, dan tukang kerupuk. Ada kalanya gratis, ada saatnya juga berbayar. Saling subsidi. Terutama saya yang jadi penjaga gawang terakhir Komunitas Sastra Rumah Dunia. Selama ini biaya operasioal Rumah Dunia ditangani kami, para relawan, dan donatur yang tidak mengikat.

Satu Mulut Dua Telinga

Wah, gambar di atas iii sangat menarik. Jika daun telinga disatukan, maka akan membentuk “heart” alias hati. Dan tulisan “heart” itu jika dipecah jadinya: h – ear – t. Tetap ada kata “ear” di tengah. Juga itu sebab mulut diletakkan di tengah depan wajah kita. itu sebab mulut cuma satu dan telinga 2, agar kita lebih banyak mendengar omongan orang dan menyimaknya baik-baik, sehingga ketika kita berbicara tidak sembarangan berbicara, tetap santun. Filosofi ini harus terus kita bicarakan di meja makan, agar keluarga kita terus mendapatkan pencerahan.

Di Meja Makan: Sepatu Gunung Untuk Traveling

Entah sudah berapa buah sepatu gunung kubeli. Ada yang kemudian aku jual di perjalanan, karena kehabisan uang, ada yang kuberikan kepada orang lain, sesuka hati saja. Tapi sekarang kedua anak kelakiku sudah besar. Di meja makan, mereka sering kuingatkan tentang pentingnya melindungi kaki dengan bersepatu.

Terutama yang kuliah di Abu Dhabi – Gabriel Firmansyah, 213tahun, jika liburan dan traveling, pasti memilih salah satu dari ketiga sepatu itu. Anak lelaki kedua – Jordy Alghifary sudah kuliah di Akademi Film Yogyakarta 2022 ini, mulai merencanakan traveling. Kita lihat saja nanti. Kini ketiga sepatu gunung itu aku simpan di Museum Literasi Gol A Gong.

Di Meja Makan: Senyum Anak-anak Kita

“Bila seorang anak hidup dengan kritik, dia akan belajar menghukum.
Bila seorang anak hidup dengan permusuhan, dia akan belajar kekerasan.
Bila seorang anak hidup dengan olokan, dia belajar menjadi malu.
Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, dia belajar merasa bersalah.
Bila seorang anak hidup dengan motivasi, dia belajar percaya diri.
Bila seorang anak hidup dengan dukungan, dia belajar menyukai dirinya sendiri.
Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan , dia belajar untuk mencintai dunia,” -―

👆Dorothy Law Nolte

Di meja Makan: Senyum Seni(man)

Setiap di meja makan, saya selau mengingatkan keempat anak saya tentang banyak hal. Misalnya soal moral. Atau profesi. Saya menyodorkan realitas, bahwa masih banyak orang menganggap sepele seni atau profesi seniman. Padahal itu bagian dari kita, keseharian manusia. Seperti halnya sampah, sisi lain dari kita yang buruk. Seni hadir untuk memperhalusnya.

Hidup Harus Diperjuangkan dan Penuh Resiko

“Jika tidak punya cita-cita, maka kamu tidk pernah kecewa.” (Pope)

Setiap sore aku duduk di halaman rumah, di bawah pohon seri. Istriku menyediakan kopi dan pisang goreng. Datanglah Imat – sahabatku sejak SD.

Imat terisak-isak.”Bisnisku hancur. Aku ditipu orang! Habis aku! Entahlah, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya menghidupi keluargaku.”

Aku panggil istriku. Aku minta istriku membawakan beberapa liter beras di gudang hasil panenku di akhir tahun plus beberapa butir telur dari kandang. Imat langsung permisi pulang membawa kegembiraan makan malam untuk anak dan istrinya.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)