Cerpen: Siska dan Kenangan

Oleh Wuriyanti

Siska adalah ibu rumah tangga beranak Dua. Pun ia pekerja di lembaga swasta. Profesi tersebut dilakoni hampir tiga tahun. Dia beranggapan dharma baktinya kelak menjadi tabungan akhirat. Oleh sebab itu walau upah tidak seberapa namun hatinya merasa bahagia.

Tempatnya berkhidmat tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Kira-kira Sepuluh menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Karena dia tidak mampu menyetir kendaraan bermotor layaknya perempuan lain. Pengalaman terjatuh meninggalkan bekas trauma, kekuatiran yang berlebihan. >>> ke halaman berikutnya

Cerpen: Si Belang yang Malang, Kau Akan kukenang

Wuriyanti – SMPIT Pesantren Qur’an Kayuwalang

Rumah dengan banyak jendela terbuka memudahkannya masuk dari segala arah. Di pagi hingga siang hari si empu rumah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Pada jam itu penghuni rumah jarang ada di tempat. Menjadi tempat yang nyaman baginya.

Pertemuan dengannya bermula dari ketidaksengajaan. Tubuhnya tidak begitu gemuk, warna bulunya hitam putih. Dia jenis kucing betina, dia tidak sebatang kara, mempunyai saudara kembar jantan. Wajahnya memiliki kemiripan dari corak warna bulunya. Si jantan bulunya didominasi kehitaman di sekitar kepalanya sedangkan si betina cenderung berwarna putih. Sekilas pandang orang tidak bisa membedakannya karena hampir serupa. Cuma jika diperhatikan  Si jantan lebih agresif dibanding Si betina yang penurut.  Si betina sering masuk rumah tanpa permisi, terutama di jam kosong. >>> ke halaman berikutnya

Cerpen Gol A Gong: Pulang Dari Haji

Karya Gol A Gong

Akbar tersenyum lebar. Dia duduk di kursi singgasana, bersarung poleng, koko, kopiah, yang kesemuanya dia beli di Arab Saudi, negeri muslim dengan kekayaan melimpah ruah. Tasbeh dengan bulatan-bulatan terbuat dari kacang zaitun menggantung di tangan kirinya. Tangan kanannya untuk yang keseratus kali menerima uluran salam selamat dari tetangga di komplek guru.

“Alhamdulillah, selamat datang kembali di rumah, Pak Haji…”

Akbar semakin melebarkan senyumnya. “Silahkan, Pak Wawan, silahkan diambil oleh-olehnya. Itu korma asli dari Mekkah. Sedikit-sedikit, ya. Sajadah dan tasbehnya hanya untuk kepala-kepala sekolah saja. Tidak bisa saya kasih ke semua guru. Bisa tekor saya.”

Fiksi Mini: Jatuh Cinta Kepada Rudi

Rudi berdiri merapat ke tembok. Tubuhnya terhalang tanaman pucuk merah. Sejak tadi kedua matanya tidak berkedip, menatap marah kepada Toni dan Agnes, yang duduk bermesraan di sudut café. Candle night menghiasi meja mereka.

“Sekarang kamu percaya kan! Aku nggak nyebar hoax!” Yanto tersenyum.

“Aku nggak nyangka! Agnes!” Rudi mengepalkan tangan kanannya.

“Sudah! Lupakan! Masih ada aku yang mencintaimu,” Yanto meraih tangan kiri Rudi, meremasnya dengan mesra.

Rudi menepis dengan halus. “Aku mohon maaf. Tanpa bermaksud menyakitimu. Kita berteman saja, To! Sekarang aku memikirkan omongan Mama! Selama ini aku salah jalan!”

Rudi membalik, pergi, dan meninggalkan Yanto yang berdiri mematung.

– ( Gol A Gong /Gambar: news.detik.com)

Cerpen Gol A Gong: Gadis Pemulung Masuk Televisi

Aini duduk di pos ronda. Karung teronggok di tiang. Dia menyeka keningya. Punggung tangannya basah. Ini hari panas sekali. Mungkin pertanda akan hujan. Dia baru sekitar 1 jam mengelilingi perumahan; mencari-cari rongsokan. Karungnya baru terisi seperempat. Di bak sampah tikungan jalan komplek, dia hanya memperoleh beberapa botol minuman plastik. Di bak sampah rumah nomor 9, hanya ada 2 botol plastik minuman ukuran besar.  

Bik Enjum dan Mas Satpam

Cerpen Gol A Gong

        Bik Enjum mematikan TV 14 inchi di ruang depan. Sudah pukul sebelas malam. Dia menyentuh jam tangan Romli – puteranya semata wayang, Jam tangan mahal. Handphone puteranya tergeletak – itu sejenis iPhone dan tentu mahal.

“Dari mana kamu bisa beli barang-barang mahal ini?” Bik Enjum pernah menanyakan dengan perasaan kuatir.

“Bikin konten di YouTube sama TikTok, Bu. Sudah dimonetisasi.”

Pemilihan Kepala Desa

Oleh Anas Al Lubab

Seminggu menjelang pemilihan kepala desa, rumahku mendadak ramai tak seperti biasanya. Dapur selalu mengepulkan asap putih membuih dengan aroma bumbu dapur yang menusuk hidung; ibu-ibu tengah memasak sambil berbincang tentang hal-hal keseharian; ruang tengah dipenuhi para lelaki setengah baya karib ayahku, begitu pun di beranda rumah, selalu diisi oleh perbincangan orang-orang sambil minum kopi dan mencicipi suguhan alakadarnya yang disediakan oleh ibuku. Itu terjadi hampir setiap hari bakda maghrib hingga larut malam, kadang orangtuaku harus membeli beberapa kilo ikan dan beberapa potong ayam ke pasar Binuangeun untuk dibakar bacakan bersama orang-orang yang datang ke rumah.

Kota Golokali Mencari Jati Diri

Orakadut, si gila dari kota Golokali, dibuat pusing. Selama 18 tahun dia tinggal di gubuk kardus di kolong jembatan, tiba-tiba hampir setiap saat banyak orang penting datang menggeledah. Mulai dari LSM, seniman, wartawan, pelajar-mahasiswa, ibu-ibu rumahtangga, anggota dewan, kepala dinas, sampai ke pemain bola. Mereka menuduh dia menyembunyikan “jati diri” kota Golokali.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)