Pemilihan Kepala Desa

Oleh Anas Al Lubab

Seminggu menjelang pemilihan kepala desa, rumahku mendadak ramai tak seperti biasanya. Dapur selalu mengepulkan asap putih membuih dengan aroma bumbu dapur yang menusuk hidung; ibu-ibu tengah memasak sambil berbincang tentang hal-hal keseharian; ruang tengah dipenuhi para lelaki setengah baya karib ayahku, begitu pun di beranda rumah, selalu diisi oleh perbincangan orang-orang sambil minum kopi dan mencicipi suguhan alakadarnya yang disediakan oleh ibuku. Itu terjadi hampir setiap hari bakda maghrib hingga larut malam, kadang orangtuaku harus membeli beberapa kilo ikan dan beberapa potong ayam ke pasar Binuangeun untuk dibakar bacakan bersama orang-orang yang datang ke rumah.

Kota Golokali Mencari Jati Diri

Orakadut, si gila dari kota Golokali, dibuat pusing. Selama 18 tahun dia tinggal di gubuk kardus di kolong jembatan, tiba-tiba hampir setiap saat banyak orang penting datang menggeledah. Mulai dari LSM, seniman, wartawan, pelajar-mahasiswa, ibu-ibu rumahtangga, anggota dewan, kepala dinas, sampai ke pemain bola. Mereka menuduh dia menyembunyikan “jati diri” kota Golokali.

Bik Enjum dan Mas Satpam

Cerpen Gol A Gong

        Bik Enjum mematikan TV 14 inchi di ruang depan. Sudah pukul sebelas malam. Dia menyentuh jam tangan Romli – puteranya semata wayang, Jam tangan mahal. Handphone puteranya tergeletak – itu sejenis iPhone dan tentu mahal.

“Dari mana kamu bisa beli barang-barang mahal ini?” Bik Enjum pernah menanyakan dengan perasaan kuatir.

“Bikin konten di YouTube sama TikTok, Bu. Sudah dimonetisasi.”

“Apa itu monetisasi?”

Irul, Rini, dan Ibu

Oleh Gol A Gong

Irul memarkir motor di depan rumahnya yang tidak memiliki halaman. Dia merapatkan motornya ke tembok. Pintu dan jendelanya juga langsung berbatasan dengan selokan. Biasanya jendelanya yang lebar terbuka, karena ada dagangan ibunya.

Irul mendorong pintu, berbarengan dengan ibunya yang membukakan pintu.

“Motor siapa itu?” ibunya mengusap-usap lampu depan motor.

“Temen!” suara Irul masuk ke dalam rumah.

Mama, Aku, dan Si Kembar

Oleh Gol A Gong

Kedua saudaraku berdatangan. Kakak Reyna tinggal di kota provinsi lain. Kalau naik bus sekitar 6 jam. Travel 4 jam. Tadi dia tiba naik mobil sendiri. Disupiri. Aku baru mengabari Mama kritis 2 jam lalu. Berarti dia datang dari kota terdekat. Supirnya membuatku curiga. Aku kira supir online. Masih muda, cocok jadi adikku dan tentu ganteng. Setiap kutanyakan suaminya, “Urusi saja Mama dan dua keponakanku yang lucu!”

Bik Enjum dan Satpam

Cerpen Gol A Gong

        Bik Enjum mematikan TV 14 inchi di ruang depan. Sudah pukul sebelas malam. Dia menyentuh jam tangan Romli – puteranya semata wayang, Jam tangan mahal. Handphone puteranya tergeletak – itu sejenis iPhone dan tentu mahal.

“Dari mana kamu bisa beli barang-barang mahal ini?” Bik Enjum pernah menanyakan dengan perasaan kuatir.

Pohon Asam Jawa di Tengah Kota

Cerpen Muhammad Subhan

POHON asam jawa itu adalah pohon terakhir yang belum ditebang. Pohon-pohon lain yang selama ini menjadi pohon pelindung di sepanjang jalan utama di tengah kota sudah tak lagi berbekas, bahkan akar-akarnya pun tandas. Berhari-hari suara mesin pemotong bekerja menebang pohon-pohon itu, dibantu alat berat, dan puluhan petugas berhelm kuning berseragam khusus. Targetnya, sampai akhir tahun seluruh pohon sudah harus dibersihkan. Trotoar lama dibongkar, diganti trotoar baru. Kawasan itu nanti difungsikan sebagai pedestrian.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)