Belajar Menulis Nama Tokoh

Setiap menulisnovel, ingat, jangan sembarangan memberi nama tokoh. Seperti jugadi dunia nyata, nama adalah doa, di dalam novel juga begitu. Harus ada latar belakang ceritanya supaya memiliki karakter yang unik dan kuat.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Latihan Membuat Kalimat Pembuka Dari Peristiwa Bulan Purnama di Pekuburan Dengan Melibatkan Tokoh

Kamu kesulitan membuka ceritamu dengan kalimat apa dan bagaimana? Untuk sekadar latihan, sering-serinlah berlatih membuat kalimat berdasarkan foto. Itu latihan yang efektif. Sekarang saya ingin mengajak kamu berlatih mmbuat kalimat pembuka dengan melihat fenomena alam di sekitar kita. Misalnya bintang di langit, bulan purnama, sungai banjir, gunung yang gundul, dan masih banyak lagi. Kali ini saya akan mengajak kamu berlatih berdasarkan sebuah foto di internet, karya *) Foto: Eko Adri Wahyudiono. Kita mulai, ya.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Dialog Mengandung Konflik Menguatkan Karakter Tokoh

“Ciuman pertama. Aku hampir saja melakukan itu terhadap Siti Aisyah. Di kota besar, anak-anak SMP seusiaku waktu itu sudah biasa melakukan hubungan seks. Ada yang suka sama suka, ada juga yang memang menjebak si perempuan dengan minuman atau obat tidur. Aku tidak sebejat itu.” (Pengakuan Adelardo saat usia 14 tahun)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Latar Belakang Cerita Si Tokoh Dalam Dialog

Nama tokoh Al Bahri. Dialognya antara 3 tokoh di sebuah cafe:

“Kenapa setiap kita makan, kamu tidak pernah mau menyantap ikan yang kita pesan?” Chandra Kirana penasaran.

“Kali ini kamu harus menceritakannya kepada kami,” Ramadhan mendesak.

“Baiklah. Setiap nama selalu memiliki kisahnya, bukan?” Al Bahri mengaduk-aduk jus jeruknya. “Chandra Kirana, katamu lahir saat bulan purnama. Dan kamu Ramadhan, mudah ditebak, lahir di bulan suci Ramadhan…’

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Belajar Membuat Dialog Tokoh dari Pohon Pisang dan Generasi Instan

Jadi penulis itu harus terus berpikir. Naluri mengamati jangan sampai mati. Setiap hari kita sering disuguhi fenomena hidup. Misalnya, amati pohon pisang. Semua yang ada bermanfaat; mulai dari daun, batang pohon, kulitnya, buahnya, semuanya. Kemudian belajarlah membandingkannya atau menganalogikannya dengan manusia.

Saya memotret generasi sekarang adalah generasi instans, generasi yang ingin meraih sukses dengan cara cepat. Di dalam otak saya, kemudian dicampur dengan imajinasi, saya memutuskan membuat puisi yang idenya dari “pohon pisang dan generasi instan”.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5