Tujuh Buku Produk Duta Baca Indonesia Mengawali 2022

Alhamdulillah, mengawali 2022 dengan penuh kebahagiaan. Tujuh buku terbit sebagai produk pelatihan menulis dan Safari Literasi Duta Baca Indonesia setelah – Perpusnas RI :

Penerbit Epigraf:
1.Catatan Terakhir – kisah inspiratif – Kuningan

SIP Publishing:
2.Harta Karun – kumpulan cerpen – Purwokerto
3.Sarah – kumpulan cerpen – Banyumas
4.Stasiun – kumpulan cerpen – Banjarnegara
5.Akbar – kumpulan cerpen – Cilacap

Wah! Sobat Kecil Saya Pernah Belajar ke Penerima Nobel

Saya punya teman kecil. Namanya Bambang Juanda – kami memanggilnya BJ. Kami sering berlatih bersama di klub badminton Blue White. Selepas SMA (1982), Bambang kuliah di IPB, saya ke Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Selanjutnya saya bekerja di dunia kreatif mula dari Kelompok Kompas Gramedia hingga RCTI, BJ di dunia kampus.

Di era digital (2000), mulailah ada WAG alumni SMAN 1 Serang. Di group inilah saya mendengar kabar, BJ jadi Guru Besar Departemen Ilmu Ekonomi IPB sejak 2009. Dia lulusan Doktor Ekonomi University of Innsbruck Austria. Pernah menjadi dosen Departemen Statistika IPB (1987-2003). Dia kini bergelar “Profesor”. Paling mengejutkan, BJ pernah belajar teori permainan dan ekonomi eksperimental pada Tahun 1994 dari Prof Reinhard Selten – penerima Nobel Ekonomi 1994. Tentu saya senang mendengar kabar keberhasilan sobat kecil ini.

Allahu Akbar Paling Kencang, Buku Kumpulan Cerpen yang Mencerminkan Ketidakadilan di Indonesia

Catatan Ringan Oleh Gol A Gong

Luar biasa. Itu yang keluar dari mulut saya ketika mendengar REQbook akan menerbitkan buku kumpulan ceren “Allahu Akbar Paling Kencang” karya dua wartawan – Khafidlul Ulum dan A Dwi Prasetyo. Indonesia ini paradoks. Ruang gerak dibatasi karena pandemi Covid-19, mungkin ekonomi sedang tiarap tapi tidak bagi para penulis – justru itu adalah waktu yang melimpah untuk menulis.

Buku kumcer ini membuat merinding. Sering muncul peristiwa-peristiwa yang absurd di sekeliling kita.  Mengutip Albert Camus, “Kehidupan telah kehilangan nilai dan maknanya.” Seperti juga di buku ini. Nilai-nilai kemanusiaan tidak ada lagi .

Menerbitkan Buku di Nulis Aja Dulu Publishing

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Di era pandemi Covid-19, ketika orang-orang ribut tentang minat baca atau daya baca orang Indonesia rendah, sekelompok orang yang berkumpul di komunitas literasi, tetap bersemangat menuli, menerbitkan, dan menjualnya.

Seperti halnya Komunitas Nulis Aja Dulu, yang kini mulai masuk ke jagat penerbitan. Praktik-praktik menulis di group Facebook membuat para pendirinya melirik ke dunia penerbitan.

Terima kasih, ya. Dua buku bagus sudah saya terima: “Detektif Naren & Farel: Pandora” karya NR Hidayati dan “Keiko, Dara, Plumera” karya Hermawan Aksan.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)