Gong Smash, Cetakan Kedua!

Saat Safari Literasi #1 Duta Baca Indonesia di Soreang, Kabupaten Bandung, ada kabar gembira dari Penerbit Epigraf.

Daniel Maendra, CEO Epigraf tersenyum gembira, “Belum satu bulan sudah cetakan kedua!”

Terima kasih kepada semua sahabatku yang sudah mendukung aku. Semoga buku Gong Smash ini membawa manfaat.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Badminton dan Menulis

Oleh Delviana Fransiska, Pustakawan Dipersip Provinsi Riau

Kedua aktifitas tersebut hobi yang saya senangi sejak kecil, meskipun sering dibully sejak kecil karena kekurangan fisikku yang kecil tapi tidak mematahkan semangat untuk berprestasi. Ketika Mas Gol A Gong mempromosikan buku Gong Smash, saya langsung tertarik dengan Judulnya. Ya, karena semua yang tertulis dijudul itu hobi saya. Saya langsung memesan melalui @buku.epigraf.

Saya menerima buku ini di kantor. Saya tidak sabar untuk membacanya. Halaman pertama dibuka dan saya membacanya. Saya terharu dengan pesan motivasi yang ditulis langsung oleh penulisnya. Sepertinya penulis tau apa yang saya rasakan😊.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Gong Smash Menurut Anggit Wicaksono

“Takdirku mungkin hampir serupa dengan Gol A Gong ; sama-sama difabel. Lengan kirinya buntung, sebelah mataku tidak bisa melihat. Beliau jauh lebih senior, dan konsen di bidang olah raga badminton lalu literasi. Sedangkan aku bukan siapa-siapa. Aku hanya salah satu dari sekian banyak pembaca tulisannya yang merasa bahagia ketika buku “Gong Smash” terbit. Pasti bakal ada semangat baru setelah membacanya. Dan memang benar adanya.

Anggit Wicaksono

#gongsmash
#golagong
#epigraf

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5

Gong Smash, Awalnya Tidak Kenal Gol A Gong

Oleh Jauza Imani

Hari Minggu di tahun 2015, saya diantar suami ke Rumah Dunia. Ia tahu saya merindukan habitat yang lama saya tinggalkan. Setelah resign dari kantor, saya punya banyak waktu untuk kembali ke dunia yang pernah hilang, seni dan literasi.

Sungguh, saya tidak terlalu mengenal Gol A Gong. Saat remaja saya lebih suka Lupus yang manis, dibanding Roy yang tengil dan suka bolos. Suami saya, tentu saja pengagum Roy. Walaupun satu dua kali membaca Balada si Roy di majalah HAI, tetapi ingatan saya tentang penulisnya tidak terlalu melekat.

Please follow and like us:
error0
fb-share-icon0
Tweet 5