Oleh Tias Tatanka
Selesai riviu darinya pun tak segera kubereskan naskah itu, dan belum juga kutunjukkan ke mas Gong. Aku takut beliau akan memberi saran ini itu, yang membuatku merasa “wajib” menuruti. Jika tidak, akan menjadi ganjalan nantinya, mengingat sebagian adalah idenya. Aku “menyembunyikan” draft itu dan sesekali mengubah sana-sini, berusaha memperbaiki sesuai mauku.

Ketika menemukan penerbit Media Cendekia Muslim, aku memberanikan diri menyapa editornya dan menceritakan naskahku. Beliau menyilakan aku mengirimkan manuskrip. Aku pun memberitahu mas Gong rencana mengirim naskah Negeri Permen ke penerbit ini. Alhamdulillah mas Gong menyambut baik dan mendukung langkahku.
Akhirnya kukirim juga naskah itu dan berusaha melupakannya. Aku cuma mendoakan takdir baik yang akan terjadi. Sampai kabar naskah diterima pun aku tidak berusaha euforia. Rasa syukur kunikmati sendiri, sampai kepastian surat perjanjian kerja sama tiba.

Aku secara khusus minta izin, restu, dan rida mas Gong untuk menandatangani SPK itu, yang berarti novel Negeri Permen akan menggunakan namaku sendiri. Beliau dengan serius mengiyakan. Masya allah. Makasih, mas yayang aa kakang prabu bebeb.![]()
Gais, dengan rentang waktu yang amat panjang dan perjalanan seperti itu bukan berarti naskahkulah novel terbaik dibanding lainnya. Aku cuma bisa berusaha menyajikannya dengan cara terbaik yang bisa kulakukan. Termasuk memutuskan cliffhanger dalam ending, untuk disambung di buku berikutnya.

Saat tahap novel Negeri Permen ini memasuki pre order, aku mulai sibuk menyiapkan buku berikutnya. Bahkan riset panjang itu pun masih kurang, membuatku harus belajar lebih banyak.
Hidup memang untuk belajar menjadi lebih baik, dalam segala hal. Masya Allah, tabarakallah, allahumma baarik ‘alaih. ![]()



