Notes from Qatar

Mimpi apa semalam, tiba-tiba Dedi M Sugiharto alias Diday Tea bersama Komunitas Diaspora dan KBRI Qatar, mengundang saya dan Tias ke Qatar pada 2012. Bagi saya ini adalah sama saja dengan mencicil mas kawin keliling dunia saya kepada Tias. Diday adalah peserta Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan ke 4 (2004). Dia bekerja di Qatar sejak 2008.

Tapi ada peristiwa menarik sebelum saya mendarat di Qatar. Pertama ketika kami berada di Mumbai. Pada hari yang ditentukan, kami ke bandara hendak terbang ke Dubai. Apa yang terjadi? Maskapai King Fisher India bangkrut. Tiket hangus. Ketika minta ganti, mustahil. Sedangkan kami sudah harus memberi pelatihan keesokan harinya.

Bersama Dubes Indonesia untuk Qatar, KBRI Doha, 2012.
Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Di Pedalaman Thailand Utara

Ini foto thaun 1990. Belum ada internet. Belum menggunakan Google maps. Di belantara Thailand Utara. Saya ingat naik bus bersama traveler mancanegara dari chiang May ke Chiang Rai, tujuannya ke Laos. Tiba-tiba saya berteriak, “Stop!” Bus berhenti.

Saya turun dari bus. Ada jalan tanah menuju perbukitan. Bismillah, saya jalan kaki seperti di Baduy, Banten Selatan. Melewati bukit, persawahan, mirip sekali seperti di lokasi film Rambo yang diperankan Sylverter Stalone.

Saya ingat tiba di sebuah desa menjelang maghrib. Semua orang memandang saya. Mereka memegangi tangan kiri saya yang buntung. Saya menggambar peta ASEAN di tanah. Saya jelaskan lokasi tempat tinggal saya. Mereka kagum.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Pesan Bapak: Bertualanglah…

Pesan Bapak, “Kalau kita menyelenggarakan pameran lukisan, pasti berharap orang banyak datang. Atau membngun rumah, kita undang orang-orang agar datang melihat ryumah kita. Begitu juga Tuhan yang menciptakan semesta raya ini. Tentu Tuhan pun ingin ciptaannya dilihat kita. Maka, pergilah dari rumah, bertualnalah. Kamu jangan seperti katak dalam tempurung.”

Pesan Bapak yang lain, “Bertebaranlah di muka bumi. Datangi seluruh penjuru bumi. Temui saudara-saudaramu dari berbagai suku bangsa. Beri mereka senyuman. Tebarkan bahasa perdamaian.” Bapk kini sudah 13 tahun meninggalkanku, menghadap-Nya. Tepatnya 15 Desember 2007 Bapak wafat. (Gol A Gong)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Azhar Adhiwibowo: Gara-gara Roy, Aku Berani Bertualang!

Roy! Dari dirimulah akhirnya aku berani avontur. Menumpang ke mobil bak sampai ke kapal, naik gunung, camping, air terjun, cinta dalam perjalanan haha, jalanan-jalanan sepi. Lalu ikutan suka jins dan jaket denim lalu flanel lalu ransel lalu warna biru, aaaa.Sekarang aku lagi gowes, Roy. Bersepeda mengelilingi Sulawesi. Dan aku merasa cukup pd karena aku yang bakal mewujudkan kepinginanmu ke Tana Toraja, hahaha. Salam ke Joe, Roy!

*) Foto: Bowo paling kiri, sejak Oktober bersama Komunitas Omah Jangan Diam Terus nge-gowes sepeda menyusuri Sulawesi. Bowo paling kiri

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Citibank Memudahkan Urusan Traveling di Mumbay

Masih dalam rangka beres-beres Museum Literasi Gol A Gong. Apalagi yang bisa saya kerjakan di era pandemi Covid-19? Eh, menemukan foto ini! Saya jadi teringat peristiwa yang membuat saya tersenyum. Sekitar April 2012 di Mumbay India. Citibank akhirnya “menyelamatkan” kami. Saya dan Tias Tatanka sedang honeymoon ala backpacker. ke 7 negara Asia. Mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, India, UEA, Qatar, dan Saudi Arabia.

Dari Bangkok kami naik pesawat ke Calcutta, India. Setelah dari Taj Mahal, kami kembali ke New Delhi naik kereta. Kami memurtuskan menginap semalam, merasakan sensasi di Pahar Ganj.  Kesokan harinya meneruskan perjalanan naik kereta dari New Delhi ke Mumbay. Tiba sekitar pukul 22:00. Kami meluncur ke Kolaba. Semua kamar penuh. Sudah hampir pukul 01:00.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Datanglah ke Kota Cinta, Taj Mahal di Varanasi India

Sejak kecil saya bercita-cita ingin keliling dunia. Saya pernah membaca novel karya Jules Verne. Saat itu belum ada pesawat terbang, dengan imajinasinya Jules Verne mengelilingi dunia selama 80 hari (Around The World in 80 Days, 1873) . Saya lahir tahun 1963, baru 20 negara saya datangi. Sedangkan bersama istri, saya baru mengajaknya ke 10 negara. Saya tahu ini berat, karena saya bukan orang kaya dan banyak hal yang harus saya lakukan, seperti Rumah Dunia.

Tapi dengan ikhtiar dan do’a, saya yakin Allah SWT akan memudahkan segala urusan ini. Saya dan istri – Tias Tatanka, bekerja dan menabung. Saya sudah mengajak Tias ke Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Hong Kong, India, Saudi Arabia, Qatar, Korea, dan Uni Emirat Arab. Semoga tahun 2018 ini ada satu atau dua negara baru bisa kami kunjungi.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Jika traveling ke Singapura, Cobain Sholat Subuh di Masjid Abdol Gafoor Little India

Apa yang akan Anda lakukan jika sedang traveling? Tentu kuliner, shoping, city tour, dan menikmati kulinernya. Jika semua itu sudah kita lakukan? Apa lagi? Biasanya saya menikmati cita rasa seninya dan kehidupan beragamanya. Nah, jangan jauh-jauh dulu, traveling ke Singapura dulu, deh. Jangan anggap traveling ke Singapura itu mahal, ya. Malah leih murah daripada traveling ke Bali atau Papua.

Biasanya setiap traveling, saya memaksakan diri harus sholat subuh di masjid kota itu. Ternyata di Singapura yang sering kita anggap liberal, kehidupan beragamanya indah dan tenang. Di depan setiap masjid, selalu ada hotel. Mau yagn kelas backpackers hotel (Rp. 250 ribu) juga ada. Di Singapura saya sudah sholat di hampir semua masjidnya. Di Masjid Sultan (1826) Kampung Bugis, Masjid Fatimah (1846) di kawasan Geylang, Masjid Jamie atau Chulia (1826) di China Town, Masjid Angolian (Little India),

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5