Di Balik Buku Negeri Permen (2)

Oleh Tias Tatanka

Di sela waktuku, Negeri Permen versi mas Gong terus kutuliskan. Sampai kemudian aku berhenti karena kehilangan arah, juga semangat. Bertahun-tahun aku mendiamkan draft itu, meski mas Gong sering menanyakan.

Sesekali kukerjakan, tapi tidak selesai juga. Sampai tahun 2018, aku mengambil keputusan akan menulisnya sendiri sesuai premis yang kupandang kuat. Mas Gong setuju dan menyerahkan semua keputusan padaku. Beliau cuma menitipkan beberapa poin kejadian sebagai pesan inti dari Negeri Permen.

Dengan izin itulah aku merombak habis draft Negeri Permen dan menuliskannya dari awal. Aku mulai dari premisku, tokoh-tokoh yang perlu ada, dan karakter yang lebih detil. Berbagai riset kulakukan termasuk ikut kursus online membuat permen, sirup, selai, dan membacai beragam resepnya.

Bahkan metode Save The Cat aku adopsi untuk menuntun adegan demi adegan. Oh ya, aku memerlukan mengikuti beberapa kursus menulis yang diadakan teman-teman penulis, untuk menyegarkan lagi berbagai teori dan mereguk semangat menulis.

Baca di sini tentang di Negeri Permen Banyak Rasa yang Tidak Terduga

Sampai akhirnya 13 bab kuselesaikan di tahun 2019. Aku mulai menemukan arah dan bentuk baru naskah Negeri Permen yang sangat berbeda dengan ide awal dari hubby. Tapi itu tidak berarti naskah selesai. Aku masih merasa ada celah di berbagai sisi. Aku mencetak manuskrip, lalu mengguntingnya di beberapa bagian bab, bahkan memisahkan beberapa paragraf dan menempelkannya di bagian lain.

Aku mengurutkan alurnya dari bab 1 sampai 9, memecahnya lagi dan menggabungkan dengan bab lainnya. Di sela kesibukan aku masih mengikuti kursus online ini itu, tak hanya yang berkaitan dengan permen. Kepalaku penuh. Aku kecapekan. Apalagi pandemi datang dan aku harus isolasi mandiri. Banyak waktu, tapi minim semangat. Draft itu pun tertumpuk draft lainnya yang datang kemudian.

Ketika kupikir sudah saatnya aku kembali mengurusi Negeri Permen, aku butuh seseorang untuk membacanya. Orang yang tidak pernah mendengar ide ini, orang yang bisa melihat kekurangan naskah ini dan punya kemampuan memberi solusi. Maka aku meminta seorang teman penulis perempuan untuk membacanya dan memberi masukan.

Bersambung ke bagian tiga

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==