Oleh: Auliatus Syarifah – Alumni kelas menulis Rumah Dunia ke-38
Novel dengan judul “ Teruslah Bodoh Jangan Pintar” ini berhasil aku pinang beberapa hari yang lalu. Novel dengan judul yang membuat pembacanya bertanya-tanya ini memiliki 371 halaman, cukup banyak memang. Meskipun jumlah halamannya cukup banyak, angka tersebut tak akan terasa banyak saat kita mulai menyelami cerita di setiap halaman novel tersebut. Kita akan tersedot oleh pusaran cerita dan terus membacanya hingga tak terasa sampailah di akhir halaman cerita.
Cerita dimulai dari sebuah ruangan pertemuan dengan ukuran 3×6 meter. Ruangan itu terlalu kecil dan memang biasa digunakan untuk sebuah saksi kejadian penting. Di ruangan itu, Ahmad sebagai saksi pertama menceritakan masa lalunya yang kelam. Bayang-bayang wajah kawannya saat bermain didanau bekas galian tambang, masih terekam jelas dalam ingatannya.
Tak mudah baginya menceritakan kembali kejadian itu. Sembari menahan rasa pilu, ia jelaskan bagaimana kronologis kawannya yang meninggal di danau bekas galian tambang milik sebuah perusahaan. Ya, tambang ilegal yang sudah banyak merugikan warga, namun mendapat dukungan dari mereka yang memiliki kuasa.

Hal unik dari novel ini yaitu, representasi masa lalu yang hadir melalui orang ketiga sebagai saksi dan menceritakan masa lalunya. Dimana kehidupan saat itu, begitu menjadi kacau setelah datangnya perusahaan tambang. Tanah warga digusur dengan kompensasi yang tidak sesuai, kerusakan alam, bayi-bayi lahir yang cacat, penyakit kulit, dan dampak negatif lain sebagai akibat dari limbah tambang yang dibuang sembarangan. Tak hanya itu, demi melancarkan cita-citanya, perusaahan tersebut juga membuat pemalsuan dokumen melalui suap-menyuap aparat.
Melihat realita yang terjadi, sekelompok aktivis lingkungan merasa geram dan mulai menyusun langkah untuk menyuarakan sebuah keadilan. Para aktivis tersebut terdiri dari sutradara yang idealis, mantan wartawan, pemilik Lembaga Bantuan Hukum, dan penulis ternama yang misterius. Para aktivis itu, menggugat ke pengadilan atas keburukan konsesi tambang tersebut.

Selama satu bulan lebih, proses persidangan dilakukan secara tertutup. Para aktivis lingkungan sebagai pihak penggugat berjuang dengan sumber dan bukti seadanya. Tidak mudah bagi mereka melawan perusahaan (tergugat) yang bekerja sama dengan orang-orang pemerintahan, aparat, dan pengacara terkenal. Mereka memiliki banyak koneksi, sehingga menjadi lebih mudah untuk memanipulasi bukti. Ternyata, benarlah adanya jika hukum itu dapat dibeli oleh mereka yang berlimpah materi, dan peraturan dapat dibuat sesuai pesanan.
Cerita yang disajikan dengan latar persidangan dengan dinamika debat dan adu argumen ini, membuat saya sedikit merasa bosan karena mengikuti alur yang terkesan gitu-gitu aja. Meski demikian, tiap lembar buku ini memantik semangat pembaca dengan adanya informasi baru dan kejutan yang telah disiapkan baik dari pihak penggugat maupun pihak tergugat.
Satu sisi saya ikut benci, kecewa, sedih dan hancur saat saksi-saksi dari pihak penggugat menceritakan masa lalunya. Namun, di sisi lain saya juga greget dan sebel banget sama pengacara perusahaan (tergugat) tersebut. Sebagai pengacara terkenal yang sering memenangkan kasus yang diselesaikannya, tak heran jika ia memiliki banyak cara untuk mematahkan kesaksian lawannya. Tentu saja, hal tersebut akan terasa intimidatif baik dari para saksi maupun pengacara dari aktivis lingkungan (penggugat).

Di halaman awal, penulis telah membuat disclaimer bahwa buku ini hanyalah fiksi belaka. Baik dari tokoh, cerita, dan latarnya semua itu fiksi. Meskipun ceritanya fiksi, entah mengapa saya merasa ini dekat sekali dengan realita yang terjadi di negri ini. Ketika menyelami alur cerita dan menemukan tokoh-tokoh yang terlibat, saya sampai membayangkan beberapa tokoh yang mirip sekali di dunia nyata.
Misalnya aktivis yang wajah dan matanya rusak karena siraman air keras, penulis misterius yang mirip orang tertentu, pengacara kondang, bahkan nama dan lokasi perusahaan tambang di novel ini mirip juga dengan yang saya duga dilokasi tertentu.
Di lembar-lembar akhir buku ini, saya ikut deg-degan dengan bagaimana ending dari konflik cerita diatas. Penulis sepertinya sengaja membuat ending yang begitu mengejutkan. Seandainya, cerita diatas itu realita di suatu negara dan endingnya benar-benar terjadi, mungkin akan lebih baik karena saking geram dan begitu muaknya dengan hukum yang tumpul keatas tapi tajam kebawah.
Menyelami cerita dalam novel ini seakan mengingatkan kita bahwa, praktik-praktik kejahatan diatas memang lumrah dilakukan oleh mereka yang memiliki kekayaan dan kekuasaan. Karena uang dan kekuasaan semua jadi mudah, semua bisa diatur, termasuk melindungi perusahaan ilegal dari jeratan hukum. Semua bisa dibeli di dunia (halaman 140).
Bagi saya, novel ini tidak saja menghibur, namun juga sangat menggugah pikiran pembaca. Dimana penulis mengajak kita agar tidak mudah dibodohi, bersikap tegas dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Meskipun judul novelnya ‘Tetaplah bodoh’, arti bodoh yang sesungguhnya ialah tidak serakah dengan yang bukan milik kita dan fokus menjadi sebaik-baik manusia tanpa merugikan makhluk lain.

Melalui novel ini, penulis juga mengingatkan kita agar lebih peduli dan dapat berkontribusi untuk menimimalisir terjadinya pelanggaran-pelanggaran hukum.
Sekecil apapun bentuknya, jika sudah mengangkangi hukum, teruslah maju untuk menegakkan keadilan yang seadilnya. Dimana pun terjadinya praktik-praktik biadab tersebut, semoga segera dapat diakhiri dan keadilan berpihak pada seluruh masyarakat di bumi.
Identitas Buku
Judul : Teruslah Bodoh Jangan Pintar
Penulis : Tere Liye
Halaman : 371
Penerbit : Sabakgrip
Tahun : 2024



