Oleh: Zaeni Boli
Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya.
Sepak bola telah mengajarkan banyak hal, termasuk soal regenerasi—tentang anak-anak para pemain bola. Dari perjalanan panjang sepak bola kita, hampir tak pernah kita temukan seorang pemain di generasi kedua yang mampu menjawab ekspektasi tinggi dunia.
Izinkan saya menyebut beberapa nama dari masa lalu: Pelé, Maradona, Johan Cruyff, Carlos Dunga, Bebeto, Romário, Paolo Maldini, dan lain-lain. Dari nama-nama besar itu, kita hampir tidak pernah mendengar anak-anak mereka memiliki karier yang cemerlang di sepak bola. Ternyata, nama besar orang tua tidak menjamin anak akan memiliki karier secemerlang ayahnya.
Maka, jangan terlalu berharap pada anak-anak Cristiano Ronaldo maupun Lionel Messi. Dunia akan terus melahirkan bakat-bakat baru yang menawan—sebut saja wonderkid masa kini seperti Lamine Yamal atau Arda Güler.
Memang, kita baru saja mendengar bahwa Cristiano Ronaldo Junior telah dipanggil ke Timnas Portugal U-15. Namun, itu belum bisa menjadi jaminan bahwa Cristiano Jr. akan memiliki karier yang cemerlang. Masih perlu waktu dan pembuktian.
Mungkin bagi kita yang sangat menikmati pertarungan dua manusia hebat di era emas sepak bola—Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo—akan merindukan duel itu kembali. Tapi sebagai pencinta sepak bola sejati, kita harus berbesar hati menikmati apa adanya. Sepak bola dunia terus berjalan dan berkembang.
Tak ada yang abadi di dunia ini. Biarlah kisah-kisah itu tertinggal dalam kenangan dan catatan sejarah.
Sumber foto: Kompas.com (ESPN, TalkSport)



