Baru-baru ini, publik dikejutkan oleh temuan inspeksi mendadak Ombudsman RI di Lapas Kelas II Cibinong. Para petugas menemukan empat bangunan eksklusif dengan fasilitas setara apartemen, lengkap dengan pendingin ruangan, televisi, kulkas, hingga area permukiman yang menyerupai vila bagi narapidana tertentu.
Temuan ini menjadi bukti nyata bahwa negara telah kalah dan kehilangan kendali dalam sistem pengawasan pemasyarakatan. Merespons skandal tersebut, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, langsung turun tangan mengusut tuntas “klaster mewah” ini dan menegaskan akan menjatuhkan sanksi tegas bagi semua pihak yang terlibat.
Praktik transaksional ini menampar wajah penegakan hukum dan membuktikan bahwa kewenangan bisa diperjualbelikan dengan sangat mudah.

I. Kawat Berduri dan Jejak Lendir
Besi beradu besi.
Suara ancaman itu semestinya mengurung kebebasan
di balik sel tahanan.
Di sini burung gereja bernyanyi merdu.
Sebentuk damai yang meracuni.
Masuk lebih dalam, kudengar denting gelas kaca beradu.
Rintihan tak laku di sini.
Tak ada satu pun gemeretak rantai pesakitan.
Seseorang menuang anggur merah.
Warnanya senapas dengan luka orang-orang miskin
di pinggir jalan raya.
Mesin pendingin mengalirkan sejuk,
membuai sang penghuni lelap.
Tembok penjara berhenti menghukum
dan menunduk melayani tuannya.
“Tuang anggurnya. Malam kita masih sangat panjang.”
Seekor cicak jatuh ke dalam gelas.
Tenggelam dalam lautan kemewahan
hasil rampasan perut orang-orang kelaparan.

II. Sangkar Berbalut Sutra
Ada derap langkah asing
memecah hening pagi yang culas.
Tim pengawas datang mendadak,
membawa mata yang belum sempat dibeli.
Tangan-tangan berseragam gemetar
mencengkeram gagang besi.
Jakun mereka naik turun,
menelan ludah ketakutan yang terasa pasi.
Tembok ini menelan cahaya matahari.
Kulitku meraba dingin lantai sebuah sel.
Ah, aku sedang berdiri
di tengah klaster eksklusif.
Ini sel tahanan yang menyamar.
Serupa pesanggrahan mewah
yang tersesat di dalam rumah hukuman.
Mesin pendingin berdenyar pelan,
memuntahkan hawa beku.
Televisi raksasa menyala,
mengaburkan tangis rakyat di jalanan.
Orang miskin mengais sisa roti berjamur.
Tuan-tuan perampok negara
santai mengunyah daging panggang.
Aku meludah pada lantai marmer
yang mengilap ini.
“Mending korupsi banyak, lalu tidur di tempat seenak ini.”
III. Tidur Lelap Sang Keadilan
Di blok ujung,
seratus tubuh saling tumpang tindih.
Udara menipis seukuran lubang jarum.
Mereka menghirup sisa karbon dioksida
satu sama lain.
Kulit menempel pada lantai beton telanjang.
Dinginnya menusuk, mematahkan sumsum tulang.
Batuk kering memecah malam.
Berkali-kali.
Berkali-kali.
Jurang pemisah ini menganga teramat lebar.
Menelan habis mereka yang miskin.
Air mata mereka menganak sungai,
mengering bahkan sebelum sempat jatuh
ke kerah baju.
Hukum dijual.
Hukum dibeli.
Hukum digadai.
Keadilan menangis darah
di sudut selokan yang mampat.
Negeri ini etalase raksasa.
Semua barang berlabel harga,
dosa-dosa punya nota.
Kertas-kertas putusan pengadilan
hanya berakhir menjadi bungkus kacang.
Hukum.
Hukum.
Hukum.
Tiga kali kata itu diucapkan.
Tiga kali pula ia kehilangan nyawa.
Habis manis, sepah justru dipuja bak raja.

Mereka merampok uang rakyat di luar sana,
lalu uang itu kembali membeli negara
dari balik jeruji.
Pintu besi ditutup kembali.
Bunyi klik pengunci terdengar singkat.
Suara itu terdengar sangat memuakkan.
Seekor lalat hijau terbang memutar.
Serangga kotor itu hinggap
di atas buku undang-undang
yang tergeletak di lantai berdebu.
Tidak ada yang berubah pagi ini.
Keadilan tetap tertidur lelap
di bawah selimut uang suap.
Catatan Kaki
Anggota Ombudsman RI menemukan fasilitas hunian khusus atau “klaster mewah” di Lapas Cibinong yang mengindikasikan lemahnya pengawasan dan keamanan.
Merespons temuan itu, Menteri Imipas langsung mengusut kasus ini dan menyiapkan sanksi tegas, termasuk sanksi pidana, bagi oknum petugas yang terlibat.
Tentang Penulis
Wahyu Kuncoro hanyalah sosok biasa yang tidak bisa terbang ataupun meramal masa depan. Keajaibannya tersimpan di larut malam, saat ia merawat kewarasan melalui obrolan panjang dengan dirinya sendiri.
Anggaplah puisi-puisinya sebagai oleh-oleh dari perdebatan batin yang sunyi itu. Jangan ragu menyapanya, walau mungkin ia tampak diam karena sedang sibuk berdiskusi di dalam pikiran.
Selamat menikmati kepingan kewarasan yang ia bagikan lewat kata-kata. Ia sangat senang kamu menyempatkan waktu untuk membaca ini.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



