Milo dan teh tarik adalah kuliner has Malaysia. Di Indonesia juga sudah ada, tapi tentu tidak senikmat di Malaysia.
Milo dan Teh Tarik di Malaysia Memang Enak

Dunia Kata, Dunia Imajinasi
Tentang perjalanan

Milo dan teh tarik adalah kuliner has Malaysia. Di Indonesia juga sudah ada, tapi tentu tidak senikmat di Malaysia.

Singapura banyak meninggalkan kisah lucu dan penuh kesan. Terutama buka puas di masjd Sultan, Kampung Arab.

Kadang jika di Singapura membeli sesuatu dengan nominal 1 atau 2 dollar, kita suka lupa bahwa itu dikalikan Rp 12.000,- Jangan kaget kalau rupia kita cepat habis.

Tias Tatanka pernah saya ajak ke Malaysia tahun 2012. Tapi dia sering bilang, “Aku belum ke Melaka dan Batu Caves.

Kami tertegun di masjid Bengali, Georgetown, Pinang, Malaysia. Masih gelap dan terkunci. Tadi kami mendengar adzan pertama di hotel. Masih pukul 05.00 waktu setempat.

Traveling berdua harus saling mendukung, jangan ingin menang sendiri. Apalagi kita traveling dengan belahan hati.
Badminton ternyata membuat tubuhku sehat dan percaya diri. Dengan badminton, aku bisa keluar dari kesulitan saat traveling.

Kalau kita pergi ke luar negeri, yang dekat saja seperti Melaka di Malaysia, kadang iri melihat pengelolaan terminal busnya.

Traveling saat puasa penuh suka dan duka. Terutama menu makan sahur dan buka puasa serta rumah makan yang tidak mudah dicari.

Usia terus bergulir. Jika traveling sekarang menyeret koper. Tapi sekarang menyandang tas punggung. Pakaian dibatasi supaya tidak berat.

Soal hotel ini bikin kesal. Merasa sudah bayar secara online sejak seminggu sebelum tiba di Malaka. Rupanya online tidak selalu berhasil dengan baik.

Kalau di Indonesia, menyeberang jalan masih suka-suka. Tapi di Singapura harus di zebra cross. Kalau tidak, rawan denda

Pada 2012, Tias pernah ke Kuala Lumpur. Tapi ke Melaka belum. Alhamdulillah, sambil Safari Ramadhan, Tias tiba juga di Melaka.

Senang bisa honeymoon ala backpacker sama hubby. Semoga pulang membawa ide-ide segar bagi Rumah Dunia secara khusus dan dunia literasi secara luas

Pandemi Covid-19 membuat Gong Traveling vacum. Butuh 4 tahun untuk memulihkan semangat traveling. Semua karena Rumah Dunia. Ini upaya kami agar para relawan meningkatkan kapasitas dirinya dan ada subsidi untuk kas Rumah Dunia.

Mendadak traveling. Hubby bosan di rumah. Kali ini ajak aku traveling. Mau dong. Apalagi aku belum ke Melaka dan Georgetown.

Kenapa pariwsata kita kalah populer dengan negara Asean lainnya?