Gong Smash: Antara Pramoedya Ananta Toer dan Gol A Gong

Oleh Daniel Mahendra – CEO Penerbit Epigraf

Waktu pertama kali menamatkan ‘Roman Tetralogi Pulau Buru’ karya Pramoedya Ananta Toer, aku menghela napas panjang dan berpikir: betapa Pram laksana dewa dalam jagat sastra. Jauh di atas sana. Muskil aku menyentuhnya. Jangankan berdiskusi, bisa bertemu pun rasanya terlalu mengada-ada.

Namun, hidup memang penuh misteri. Ketika diminta mengoreksi naskah-naskah Pramoedya yang hendak terbit lagi, aku tidak saja bertemu Pram, melainkan bolak-baik ke rumahnya. Tinggal di Bojonggede selama berminggu-minggu. Pulang ke Bandung, untuk kemudian kembali lagi ke sana.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Gong Smash, Siap Terbit di Hari Ulang Tahunku

Puasa April 2021 kemarin saya main catur dengan Daniel Mahendra di Malka, Jl. Sukabumi 26B Bandung. Saya yang menang dong. Saya mengutarakan ingin menulis Gong Smash, sambil Ha-ha-ha-hihihi. Daniel langsung membuatkan cover bukunya. Wah, iseng-iseng yang membuat saya termotivasi.

Tapi keluh-kesah saya adalah kesulitan di soal “waktu”. Kapan bisa menulisnya? Apalagi setelah diamanahi jadi Duta Baca Indonesia 2021-2025 pada 30 April 2021 oleh Perpusnas RI, saya semakin kesulitan mengatur waktu.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5