Tidak terasa setahun sudah Museum Literasi Gol A Gong diangun oleh tukang kelas kampung. Dengan dana dari honorarium menulis dan narasumber pelatihan, batu-bata disusun. Kadang tidak “nyiku”. Jendela ada yang besar-kecil. Tidak apa, ibadah. Toh, tidak dibawa mati. Yang penting tidak bocor, sehingga buku-buku dan memoribilia aman di dalamnya. Terutama dari serbuan rayap.

Halaman: 1 2

