Percakapan di Halaman Rumah pada Sabtu Pagi

Gol A Gong

Suatu pagi di halaman rumahku. Seperti biasa jika Desember aku pakai untuk bersenang; membereskan perpustakaan, membaca buku atau bertaman. Seperti juga Sabtu 28 Desember 2024 ini. Ketika hendak menata bunga sedap malam, ada yang berteriak di pintu gerbang.

“Sapu, Pak?” terdengar suara orang.
Aku lihat lelaki muda itu, yang sering melintas di depan rumahku. Dia berjalan kaki memanggul beberapa sapu lidi, sapu, singkuk, dan pel yang bergagang. Dia pernah bilang, rumahnya di Tembong. Sekitar 5 kilometer dari rumahku.

“Ke arah Pandeglang, Pak. Nah, sebelum SMAN 2 Serang, di sebelah kanan ada rumah Desmon Gerindra, putar balik. Ada rumah makan Seba, belok situ,” Darwan nama lelaki berusia 30 tahunan itu menjelaskan, karena dia tidak punya telepon seluler.

Tadinya aku tolak, “Tidak, Mang.” Tapi ketika dia berlalu beberapa langkah, aku panggil. Ada uang lebih untuk membeli sapu. Dia harus dibantu karena tetap kuat berjualan sementara anak muda lainnya seusia dia banyak yang berdiri di persimpangan jalan mengatur lalu lintas seperti Pak Ogah dalam tokoh film Si Unyil atau mengemis yang mengharapkan uang receh.

Aku buka pintu gerbang. Dia bersemangat masuk.
“Wis suwe, Pak, ore tuku sapu,” Darwan mengingatkan dalam Bahasa Jawa Serang.
“Iya. Sapu kan tidak sekali pakai langsung rusak, Mang,” aku juga menggunakan Jawa Serang.

Aku memilih-milih. Kata Bapak, kalau ke pedagang keliling jangan ditawar. Beri mereka kebahagiaan karena untungnya tidak seberapa. Kalau pun besar, biar saja. Sesekali merasakan untung besar.

“Berapa ini, Mang?” Aku menyodorkan sapu plastik.
“Tiga puluh lima.”
“Sapu ijuk?”
“Tiga delapan.”
“Apa bedanya.”
“Nggak tahu.”
“Lho, pedagang kok nggak tahu?”

Darwan tertegun. Dia menatapku. “Sapu ijuk nanti mrodol. Lepas,” katanya.

“Pel gagang?”
“Empat lima.”
“Semuanya berapa? Sapu dan pel.”

Darwan tertegun lagi. Tangan kanannya memuku-mukul kepalanya. “Nggak tahu.” Dia menatapku. “Saya lulusan Es De, Pak.”

Aku serahkan dua lembar lima puluh ribuan. “Nih. Berapa kembaliannya?”

Begitu melihat uang biru, dia tersenyum. “Kembaliannya dua puluh ribu!”
“Punya nggak?”
“Baru Bapak, penglaris.”
“Ya, udah. Dua puluh ribu dapat apa?”
“Sapu lidi.”

Aku ambil sapu lidi. “Wis, nuhun, ya! Kita ne arep megawe!” Aku minta maaf, ada pekerjaan.

Darwan mengikat lagi barang dagangannya, yang dia ambil dari warung di kampungnya.

“Mang, dari yang saya beli ini, Mang Darwan dapat untung berapa? Boleh tahu?”
“Dua puluh ribu, Pak.”
“Oh, alhamdulillah.”
“Sehari dapat berapa untungnya?”
“Alhamdulillah, seratus.”

Darwan pernah cerita sudah bercerai dengan istrinya. Dia punya anak perempuan berumur 5 tahun – kini puterinya tinggal bersama neneknya. Sedangkan istrinya sudah menikah lagi.

“Permisi, Pak. Terima kasih. Assalammualaikum.”

Aku pandangi kepergiannya.

*) Serang, Sabtu 28 Desember 2024

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

2 Komentar

  1. Suka sekali bacanya, ringkas padat dan jelas. Ada hikmah yang dapat diambil terimakasih

    1. Sebagai penulis, kita harus banyak berinteraksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==