Oleh Gabriel Firmansyah Harris
Jumat, 7 Februari 2025, pukul 5.30 sore. Saya dan istri berangkat dari rumah menuju Wahat Al Karama, salah satu tempat terbaik di Abu Dhabi untuk menikmati pemandangan Masjid Agung Sheikh Zayed saat senja. Kami memilih naik taksi, perjalanan sejauh 8,8 km ini memakan waktu sekitar 10 menit, dengan biaya 20 dirham.
Di dalam taksi, saya sempat berpikir sopirnya salah jalan karena tidak mengikuti rute Google Maps, tetapi ternyata dia lebih tahu jalur yang lebih cepat, memotong beberapa titik kemacetan. Perjalanan yang awalnya saya kira akan lebih lama justru terasa lancar.



Setibanya di pemberhentian bus dan taksi di Wahat Al Karama, saya langsung disambut pemandangan matahari yang mulai tenggelam di balik Masjid Agung Sheikh Zayed. Udara sore terasa nyaman, tidak terlalu panas maupun dingin. Suara gemericik air mancur terdengar jelas, berpadu dengan kicauan burung yang berterbangan di sekitar. Dari jalanan di samping, suara mobil yang melaju pelan juga ikut mengisi suasana.

Wahat Al Karama, yang berarti “Oasis Kehormatan,” adalah monumen penghormatan bagi para pahlawan Uni Emirat Arab yang gugur dalam tugas. Tempat ini tidak hanya menjadi simbol keberanian dan pengorbanan, tetapi juga lokasi yang menarik untuk menikmati pemandangan masjid dari kejauhan.
Dari tempat saya berdiri, terlihat dua bangunan utama. Visitor Center, yang memiliki tangga menuju area atas di mana pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang masjid, serta sebuah ruang meeting di sampingnya yang tampaknya digunakan untuk pertemuan orang-orang penting.

Kami berjalan menaiki tangga di Visitor Center dan berfoto sejenak. Dari sini, pemandangan Masjid Agung Sheikh Zayed tampak lebih jelas, dengan siluetnya yang semakin indah seiring matahari turun perlahan. Tempat ini memang tidak tinggi, tetapi cukup memberikan sudut pandang yang menarik untuk mengabadikan suasana.
Setelah itu, kami turun dan berjalan menuju area terbuka yang luas dengan genangan air besar di tengahnya. Air ini memantulkan keindahan masjid, langit yang berubah jingga, serta cahaya lampu yang mulai menyala perlahan. Beberapa fotografer tampak berdiri di sekitar, menunggu langit mencapai warna terbaiknya sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Di tepi air, burung-burung kecil tampak mandi dan minum, sementara beberapa pengunjung duduk menikmati suasana senja. Ada keluarga yang berbincang santai, pasangan yang berfoto bersama, dan wisatawan yang berjalan perlahan sambil menikmati suasana.
Beberapa meter dari tempat air ini, kami menemukan monumen besar berbentuk lempengan batu miring. Ini dikenal sebagai Leaning Pillars, yang terdiri dari 31 lempengan batu abu-abu. Monumen ini melambangkan dukungan antara tentara, keluarga, dan warga negara Uni Emirat Arab dalam menghadapi kesulitan.

Melihat waktu yang semakin dekat dengan adzan Maghrib, kami mulai berjalan kembali menuju jembatan penyeberangan yang menghubungkan Wahat Al Karama dengan Masjid Agung Sheikh Zayed. Kami naik lift ke atas jembatan, dan di ujungnya, kami disuguhi pemandangan luar biasa: Masjid Agung Sheikh Zayed dengan latar langit yang kini semakin jingga, perlahan menuju malam.

Kami turun dari jembatan dan berjalan menuju Gerbang 5, tetapi seorang petugas keamanan memberi tahu bahwa kami harus masuk melalui Gerbang 6, pintu masuk utama masjid. Perjalanan memutar ini memakan waktu sekitar 15 menit, cukup melelahkan, tetapi kami tetap berjalan menikmati pemandangan di sekitar.
Setelah melewati Gerbang 6, kami kembali berjalan sekitar 10 menit menuju area utama masjid. Di sepanjang perjalanan, kami melihat deretan bus pariwisata yang terus berdatangan, serta dinding dengan kaligrafi ayat-ayat Al-Quran bergaya kuno tanpa tanda titik.

Ketika akhirnya sampai di halaman utama masjid, suasana langsung berubah. Masjid ini penuh dengan wisatawan dari berbagai negara, dan selama berjalan, saya mendengar banyak bahasa berbeda. Abu Dhabi memang menjadi destinasi yang menarik bagi orang-orang dari seluruh dunia, dan masjid ini menjadi salah satu ikon yang selalu dikunjungi.


Setelah melewati pemeriksaan keamanan, kami harus berpisah karena area shalat pria dan wanita dipisahkan.
Suasana di dalam Masjid Agung Sheikh Zayed saat waktu shalat Maghrib terasa berbeda dibandingkan waktu shalat Jumat atau Tarawih. Ruangan yang digunakan untuk shalat Maghrib lebih kecil, hanya sekitar 4 shaf yang terisi jamaah.
Saya pribadi lebih suka shalat di ruang utama masjid yang lebih besar, karena tempat shalat Maghrib yang lebih kecil ini terasa lebih seperti mushalla di dalam mall dibandingkan masjid megah. Meski cukup luas, rasanya lebih seperti tempat shalat di area wisata daripada ruang ibadah yang sakral.

Jika masuk ke ruang utama masjid, kesan yang didapat akan sangat berbeda. Lantai bagian tengah masjid ini dibuat dari batu marmer khusus yang terasa dingin di bawah kaki, bahkan saat musim panas. Di dalamnya juga terdapat karpet terbesar di dunia, yang dibuat oleh Iran’s Carpet Company, berukuran 5.627 meter persegi dan dikerjakan oleh sekitar 1.200-1.300 pengrajin. Lampu gantung terbesar di dunia juga ada di sini, dibuat dari kristal Swarovski dan berlapis emas 24 karat.
Setelah selesai shalat, saya mengenakan kembali sepatu dan menunggu istri di area luar masjid. Kami kemudian berjalan menuju pusat perbelanjaan bawah tanah yang terletak di area masjid, namun itu adalah cerita untuk lain waktu.


Senja di Wahat Al Karama dan Masjid Agung Sheikh Zayed memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Dari refleksi cahaya di air, kehangatan matahari yang turun, hingga ketenangan dalam shalat, semua terasa sempurna.
Abu Dhabi selalu menyimpan cerita. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya!
*) *) Gabriel Firmansyah Harris, Mahasiswa S2 Mohamed Bin Zayed University for Humanities Abu Dhabi



