Contoh Fiksi Mini: Tato Papillon

Pengantar: Fiksi mini versi Gol A Gong adalah cerita pendek antara 300 – 500 kata, 1 lokasi, dan twist ending. Jika pun pindah lokasi, itu hanya ada dalam dialog. Di fiksi mini berjudul “Tato Papillon” ini, lokasinya hanya di halam rumah. Tiga toko bernama Bella, ibu Bella, dan tukang bubur. Selamat membaca dan rasakan twist endingnya (cerita yang diplintir).

TATO PAPILLON
Fiksi Mini Gol A Gong

Ting ting ting!
Aku segera berlari, “Bubur kacang!” teriakku berlari ke depan rumah.
Gerobak bubur kacang ijo sudah melewati rumah kira-kira 10 meter.

       “Mang bubur!” panggilku. Aku weekend di rumah. Senin besok kembali ke Jakarta, bekerja nine to five sebagai Personal Assistant boss perusahaan China.

       Mamang bubur berhenti. Dia menarik mundur gerobaknya pelan-pelan, kemudian berhenti persis di depan pintu gerbang rumah. Aku teringat, sepuluh tahun lalu meninggalkan rumah untuk kuliah di Bandung. Saat itulah terakhir kali jajan di komplek. Masa kecilku tinggal di komplek, jika Minggu siang selalu menunggu tukang jualan lewat. Aku seolah jadi Toto-chan, Gadis Cilik di Jendela adalah buku anak-anak yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi.

       “Bubur kacang ijonya aja, Mang. Jangan pake santen!”

       Mamang bubur kacang ijo tetap menunduk, seperti menyembunyikan wajahnya dari topi rimba. Tampangnya, sih, di bawah 30-an. Masih muda. Mungkin dia terkena dampak pandemi Covid-19, perusahaannya bangkrut kemudian menyambung hidup dengan jualan bubur kacang ijo. Tidak apa, Mang! Yang penting halal.

       “Bella, uangnya recehan, ya! Ibu lagi nggak ada uang cash!” Ibu muncul membawa gelas berisi uang logam duaratusan.

       Wajah mamang bubur kacang ijo yang terlindung di balik topi rimba mendongak sebentar, tapi kemudian menunduk lagi.

       Ya, Allah, Ibu! Kenapa mesti ke luar, sih! Pake daster lagi! Aku melotot.

       Ibu sadar diri kalau aku tidak setuju dengan penampilannya dengan daster. Tapi Ibu tersenyum, “Gerah, Bel!”

       Aku hanya bisa mengurut dada saja. Sejak ayah wafat dua tahun lalu karena Covid-19 , Ibu jadi tidak peduli lagi dengan penampilannya. Aku merasa Ibu sudah mengakhiri perasaan cintanya. Ya, cinta sejatinya sudah dibawa mati oleh Ayah.

       “Mang, dua mangkok, ya,” Ibu menyerahkan gelas berisi uang logam recehan itu. “Ini ada dua puluh ribu,” ibuku merapat ke gerobak. “Ibu buburnya aja. Jangan pake ketan item!”

       Aku mengingatkan lagi, “Aku juga. Sama, Mang.”

       Aku melihat mamang bubur kacang ijo itu hanya memegangi gelas berisi uang logam saja. Dia tidak segera menyiapkan mangkok dan menuangkan bubur ke dalamnya.

       “Kenapa, Mang?” Ibu penasaran.

       “Maaf, Bu. Uangnya tidak laku,” nada suaranya serak.

       “Aduh, Bella, gimana ini?” Ibu menelan air liurnya. “Kamu punya cash?”

       Aku menggeleng. “Udah harus pake QRIS, Mang. Atau debet!” Aku meledek.

       “Maaf, Bu,” Mamang bubur menyodorkan gelas berisi uang logam duaratusan.

       Ibu meraih gelas itu dengan wajah kecewa.

       Saat itulah aku melihat ada tato di tangan kanan mamang bubur kacang ijo. Tato yang aku kenal saat SMA, sepuluh tahun yang lalu. Tato kupu-kupu dengan tulisan “Papilon”. Saat SMA, novel Papilon – tentang narapidana yang berjuang ingin bebas dari penjara dengan cara melarikan diri. Selulus SMA, kami berpisah. Aku kuliah, dia menghilang. Lima tahun lalu, ada kabar dia masuk penjara karena tertangkap nyabu.

       Mamang bubur itu segera menarik kedua tangannya, seolah tidak ingin dikenali! Dan buru-buru mendorong gerobak bubur kacang ijonya.

       Aku hanya bisa menatap kepergiannya. Bibirku tidak bisa kubuka. Lidahku kelu. Tangan kiriku mengelus-elus tato kupu-kupu dengan tulisan “Papilon” di tangan kananku. Dia pacarku sewaktu SMA. (*)

Serang, 23 Agustus 2024

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==