Pram: Menemukan Makna Hidup dalam Pengabdian

Oleh: Naufal Nabilludin

Rizki Fitra Prambudi (22) tak pernah menyangka bahwa satu keputusan kecil akan mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Pemuda asal Kabupaten Tangerang ini awalnya hanya iseng mengikuti kegiatan Sehari Mengabdi yang diadakan oleh komunitas Sisi Indonesia. Namun, siapa sangka, dari sekadar coba-coba, ia justru menemukan sesuatu yang lebih besar—makna tentang berbagi dan kebersamaan.

“Jujur, awalnya aku cuma ikut-ikutan. Tapi pas lihat langsung, wah… ternyata seru banget! Aku ketemu banyak orang baru, ngobrol, berbagi cerita, dan yang paling penting, aku merasa berguna,” ujar pemuda yang akrab disapa Pram itu.

Setelah dua kali mengikuti program Sehari Mengabdi, Pram merasa belum cukup. Ada rasa ingin lebih dalam memahami kehidupan di luar lingkungannya. Keinginan itu akhirnya membawanya ke pengalaman yang lebih besar: Jelajah Bumi Pertiwi 4 Chapter Lombok—sebuah program pengabdian dari Sisi Indonesia yang membawanya jauh ke Sembalun, Lombok.

Namun, perjalanan menuju Lombok tidak semudah yang ia bayangkan. Ada tantangan tak terduga yang harus ia hadapi—berlayar seharian penuh dari Surabaya ke Lombok dengan kapal laut.

Diuji Ombak, Ditempa Pengalaman

“Sebelumnya gak pernah naik kapal laut, sekalianya naik 1 harian. Jadi mabok laut,” kata Pram sambil tertawa mengenang momen itu. “Awalnya excited, tapi begitu kapal mulai goyang-goyang, aduh, kepala langsung pusing, perut mual. Mana perjalanan masih lama banget!” tambahnya.

Selama berjam-jam, ia hanya bisa berusaha bertahan, sesekali mencoba menikmati pemandangan laut luas yang terbentang di sekelilingnya. Namun, rasa mual dan lelah tak bisa dihindari. Ia baru menyadari bahwa pengabdian tak selalu nyaman. Ada tantangan yang harus ia hadapi, dan pengalaman naik kapal ini hanyalah salah satu dari banyak ujian yang akan menempanya selama perjalanan ini.

Begitu kakinya menginjak tanah Lombok, semua rasa lelah dan mabuk laut seketika tergantikan oleh sambutan hangat dari warga setempat. Ada sesuatu yang berbeda di tempat ini—suasana yang membuatnya merasa seperti pulang ke rumah, meski baru pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Lebih dari Sekadar Berbagi

“Di Lombok, rasanya beda. Aku ngerasain betul gimana jadi bagian dari sebuah keluarga besar, meskipun awalnya gak saling kenal. Solidaritasnya kuat banget. Warganya ramah, anak-anaknya luar biasa ceria, dan aku juga berkesempatan mengenal suku-suku di Lombok. Itu pengalaman yang gak akan aku lupa,” katanya dengan nada penuh rasa syukur.

Namun, ada satu momen yang begitu membekas di hatinya—saat ia melihat langsung kondisi pendidikan di daerah tersebut.

“Itu nusuk sih. Aku jadi kepikiran, selama ini aku hidup di kota besar dengan fasilitas serba ada, tapi di luar sana masih banyak yang butuh uluran tangan. Sejak saat itu, aku gak mau cuma jadi penonton. Aku harus ikut bergerak,” ujarnya dengan suara sedikit bergetar.

Hari-hari di Lombok ia habiskan dengan bermain bersama anak-anak, mengajar, berbincang dengan warga, dan berbagi pengalaman dengan sesama relawan. Setiap interaksi yang ia jalani seakan membuka matanya lebih lebar: bahwa huberbagi bukan hanya tentang memberi, tapi juga tentang menerima—menerima pelajaran, menerima makna kehidupan, dan menerima perspektif baru dari orang-orang yang ditemuinya.

Mengajak Lebih Banyak Orang untuk Bergerak

Sepulang dari Sembalun, pengalaman itu terus membekas dalam dirinya. Pram tahu, ia tak bisa berhenti sampai di sini. Semangat yang ia rasakan harus dibagikan kepada lebih banyak orang.

“Aku kasih lihat video-video pas aku di sana—main sama anak-anak, ngobrol sama warga, ketawa bareng relawan lain. Aku bilang ke teman-temanku, ‘Lo harus coba ini, sumpah gak bakal nyesel!’” katanya dengan penuh antusias.

Beberapa temannya awalnya ragu, tapi Pram tak menyerah. Ia terus menunjukkan betapa berartinya pengalaman itu, betapa besar dampaknya bagi dirinya. Baginya, pengabdian bukan sekadar perjalanan sosial, melainkan perjalanan menemukan makna hidup.

“Jujur, dulu aku kalau ngomong suka grogi. Tapi setelah sering terjun ke lapangan, aku jadi lebih pede. Sekarang aku lebih gampang ngobrol sama orang, lebih berani bersosialisasi,” ungkapnya.

Mimpi yang Lebih Besar

Perjalanan Pram di dunia pengabdian masih panjang. Jika semua berjalan lancar, Juli mendatang ia akan berangkat ke Banda Neira untuk pengalaman baru. Namun, ia tak ingin hanya menjadi seorang relawan. Ia punya impian besar: suatu hari nanti, ia ingin mendirikan NGO atau yayasan sendiri agar bisa membantu lebih banyak orang.

“Pengabdian itu mulia, karena kita gak mungkin hidup sendiri. Kita butuh orang lain, dan orang lain juga butuh kita. Aku ingin terus ikut kegiatan kayak gini, dan suatu saat nanti, aku ingin bikin sesuatu yang lebih besar, yang bisa benar-benar berdampak,” katanya dengan penuh keyakinan.

Dari Bogor, Jakarta, Tangerang, hingga Lombok, Pram terus melangkah. Setiap senyum yang ia temui, setiap tangan yang ia jabat, semakin menguatkan tekadnya. Pengabdian bukan sekadar kegiatan baginya—ini adalah jalan hidup yang ia pilih dengan sepenuh hati.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==