Ke Mana Kamu Pergi Paling Jauh?

Oleh: Naufal Nabilludin

Ada satu momen yang selalu saya ingat. Sekitar tahun 2022, saya dan beberapa relawan Rumah Dunia duduk mengelilingi meja makan, mengobrol santai dengan Mas Gol A Gong. Suasana saat itu hangat, gelas-gelas teh tersisa setengah, dan aroma makanan masih samar tercium di udara. Kami duduk di tempat yang kini menjadi Museum Literasi Gol A Gong, tempat yang menyimpan begitu banyak cerita.

Di tengah obrolan, Mas Gong bertanya, “Paling jauh kamu pergi ke mana?”

Relawan Rumah Dunia di Meja Makan_Naufal
Relawan Rumah Dunia di Meja Makan_Naufal

Kami menjawab satu per satu. Saya sendiri, dengan sedikit malu, mengakui bahwa perjalanan terjauh saya hanya sampai Yogyakarta—itu pun saat saya masih SMP.

Mas Gong tersenyum, lalu mulai bercerita. Tentang perjalanannya sejak SMA, berkeliling Jawa dan Bali, lalu merambah ke berbagai penjuru Indonesia dan Asia. Hingga kini, katanya, ia sudah menginjakkan kaki di lebih dari 20 negara.

Saya terdiam. Dalam hati, saya membandingkan langkah saya dengan jejak panjang yang sudah ia tinggalkan di banyak negeri.

“Kalimat ‘MasyaAllah’ itu menunjukkan kekaguman kita terhadap ciptaan-Nya. Dan untuk bisa benar-benar mengagumi, kita harus melihatnya langsung.” kata Mas Gong.

Perintah untuk Bertebaran di Bumi

Kemudian, Mas Gong berkata sesuatu yang terus terngiang di kepala saya:

“Allah menyuruh kita untuk bertebaran di muka bumi. Dia telah menciptakan dunia ini dengan segala keindahannya agar kita melihat dan mengaguminya. Coba bayangkan, kalau kamu membuat sesuatu yang bagus, pasti kamu ingin ada yang melihat dan mengapresiasi, kan? Begitu juga Allah. Jadi bertebaranlah di muka bumi”

Selesai dari perbincangan itu, saya mulai mencari ayat-ayat yang dibahas oleh Mas Gong. Dan benar, ternyata Allah memang menyarankan kita untuk menjelajahi bumi.

Di dalam Al-Mulk ayat 15, Allah berfirman:

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”

Lalu, dalam Al-Jumu’ah ayat 10, disebutkan:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Dari sini, saya mulai melihat perjalanan dengan cara yang berbeda. Bukan hanya sekadar berpindah tempat, tetapi juga menjalankan perintah-Nya untuk melihat, memahami, dan bersyukur.

Sejak hari itu, saya bertekad untuk menjelajahi bumi dengan berbagai cara.

Alhamdulillah, Allah memudahkan langkah saya. Tahun 2023, saya berangkat ke Gorontalo untuk pertukaran mahasiswa selama empat bulan. Di sana, saya melihat laut yang begitu jernih, merasakan keramahan orang-orangnya, dan belajar bahwa setiap tempat punya cerita yang unik. Lalu, tahun 2024, saya tinggal di Bandung selama lima bulan—sebuah kota yang penuh dengan energi kreatif dan udara sejuk yang menenangkan.

Dan di tahun 2025 ini, Allah mengizinkan saya untuk melangkah lebih jauh. Madura, Lombok, Bali, dan Yogyakarta.

Di Lombok, saya menemukan keajaiban kecil yang menggetarkan hati.

Sembalun adalah percikan surga.

Di sini, setiap hembusan angin seolah membawa pesan dari langit. Setiap lekuk bukit, setiap hamparan hijau, mengingatkanku bahwa aku hanyalah tamu di dunia ini. Langit biru membentang luas, seakan melukiskan kebesaran-Nya dalam gradasi warna yang tak terlukiskan. Udara di sini terasa lebih murni, seperti doa-doa yang melesat tanpa penghalang.

Di hadapan keindahan ini, aku sadar: aku bukan siapa-siapa.

Aku hanyalah titik kecil dalam semesta, sementara Engkau, Ya Allah, adalah Yang Maha Abadi.

Sungguh luar biasa, bagaimana obrolan sederhana di meja makan itu menjadi awal dari perjalanan yang lebih besar.

Setelah berkelana ke beberapa tempat, saya semakin memahami mengapa Allah menyuruh kita untuk melihat ciptaan-Nya. Karena ketika kita melihat luasnya dunia, kita sadar betapa kecilnya diri kita.

Saya masih merawat mimpi ini. Mimpi untuk terus melangkah, menjelajahi sudut-sudut bumi, dan semakin mengagumi kebesaran-Nya.

Dan saya percaya, Allah akan selalu membukakan jalan bagi siapa saja yang ingin mengenal-Nya lebih dekat—melalui perjalanan.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==