Pengantar: Fiksi mini versi Gol A Gong adalah cerita pendek antara 300 – 500 kata, 1 lokasi, dan twist ending. Jika pun pindah lokasi, itu hanya ada dalam dialog. Di fiksi mini berjudul “Tukang Parkir” ini, lokasinya di parkiran motor. Selamat membaca dan rasakan twist endingnya (cerita yang diplintir).
TUKANG PARKIR
Fiksi Mini Gol A Gong
Aku kaget ketika melihat helm yang biasa nangkring di jok motor raib. Motorku juga terjungkal. Siapa yang berani mencuri helmku? Siapa yang berani menyentuh motor kesayangannku! Kurang ajar! Itu maling belum tahu siapa aku! Sialan!
Aku betulkan posisi motor. Aku kitari bangunan seluas 10 kali 10 meter dengan atap seng dan 5 tiang dari balok kayu pohon kelapa ini di masing-masing sisinya. Ke mana tukang parkirnya?
“Abidin!” teriakku.
Abidin si tukang parkir belum muncul juga. Aku kenal dekat. Setiap awal bulan, aku sering mengajaknya makan bersama temannya si Lana yang suka ngamen di bus. Dia masih muda – sekitar 20 tahun, tapi sudah punya anak usia balita. Isterinya kini dibawa kabur oleh Lana! Memang brensek si Lana.
Abidin tinggal di perkampungan bersama ibunya, yang hanya tukang cuci pakaian di perumahan. Isteriku juga sesekali suka meminta jasa ibu Abidin. Ayahnya sudah meninggal karena penyait ginjal. Perkampungan mereka persis di belakang perumahanku.
Beberapa motor keluar dari tempat parkir yang letaknya dekat dengan bus tiga perempat biasa mangkal. Di tempat parkir ini harus bayar ketika masuk. Tidak menggunakan tiket, sehingga rawan pencurian. Lokasi ini jadi seperti terminal bayangan. Orang-orang dari mana saja berdatangan. Ada 4 perumahan kaum urban di sini, yang dibangun dengan menggusur persawahan. Apalagi beberapa kios rokok dan warung makan, tumbuh liar di atas irigasi dengan kontruksi dari papan dan bambu. Jadi terkesan kumuh.


Aku biasa memarkir motor di sini jika hendak bekerja ke pabrik yang jaraknya sekitar 40 kilometer. Rumahku dan hampir semua orang yang memarkir motornya di sini, tinggal di perumahan yang letaknya menjorok sekitar 2 kilometer dari jalan raya provinsi. Perumahan untuk kelas pekerja. Rata-rata mereka bekerja di kawasan pabrik.
“Abidin!” aku berteriak lagi.
Tiba-tiba seorang perempuan yang hendak mengeluarkan motor menjerit. Kemudian dengan segera menjalankan motornya meninggalkan tempat parkir. Aku meminggir, karena hampir saja tertabrak.
“Hati-hati, Mbak!” protesku.
“Itu! Kayaknya si Abidin mati!” tangan kiri si perempuan menunjuk ke sudut.
Abidin mati?
Aku penasaran. Aku berjalan ke sudut. Aku lihat dua kaki muncul di antara ban-ban motor. Terdengar suara erangan.
“Tolong…”
Aku bergegas menghampiri. Abidin! Tukang parkir itu bersimbah darah. Dia memeluk helmku!
“Abidin!” Aku memeriksa luka di perutnya. Darah mengalir.
“Kenapa kamu?”
“Tadi si Lana brengsek mau nyuri motor Abang,” suaranya lirih.
“Ya, Allah!”
“Nitip Nisa, Bang…”
“Abidin!” aku menguatkan.
Abidin tidak bersuara lagi.
“Abidin!” Aku panik mengguncang-guncangkan tubuhnya. Darah melumuri kedua tanganku.
Abidin menutup kedua matanya. Dia tersenyum. Helmku yang dipeluknya terguling. Nisa adalah puterinya. Aku tidak tahu, ini berkah buatku atau bukan. Tapi kami sudah 7 tahun menikah, belum juga dikaruniai anak.
*) Merauke 31 Oktober 2022



