Dalam lima puisi ini, saya mencoba menyuguhkan lanskap batin dan sosial yang berbeda-beda, tapi semuanya berakar pada perenungan eksistensial, sejarah, cinta, dan absurditas dunia modern. Saya mencoba menulis dengan cara yang menyilangkan antara kepekaan puitik, satir sosial, dan metafisika, yang seluruhnya diproses melalui pendekatan estetika seperti fraksionasi dan elemen naratif yang intim.
“Stasiun” adalah puisi perjalanan yang membelah waktu dan ruang menjadi tiga fragmen atmosferik. Setiap stasiun memuat metafora tentang harapan, krisis, dan absurditas sosial; dari turis pembaca peta seperti Don Quixote, hingga badai dan politisi yang tertawa dalam kepalsuan. Fraksionasi hadir di sini sebagai teknik pembagian fragmen suasana, pengalaman, dan makna, semacam lintasan batin manusia urban yang terus bergerak namun tak pernah benar-benar sampai.
“Kitab Kejadian” adalah puisi esai kosmik, membentangkan sejarah spiritual dan filosofis manusia dari penciptaan semesta, kejatuhan moral, hingga tragedi kontemporer. Terselip alusi teologis (Adam, Qabil, Iblis), mitologi modern (Oedipus, Iago), dan filsuf eksistensialis (Heidegger, Camus, Sartre) yang menyatu dalam satu narasi elegi tentang kemanusiaan. Di sini, waktu disusun dalam duree, seperti versi puitik dari Genesis yang ditulis kembali dari sudut pandang manusia modern yang lupa tujuan.
“Cinta di Bulan Mei” adalah puisi yang paling lirikal di antara yang lain merupakan elegi cinta yang sunyi, penuh kesedihan lembut, dan kerinduan yang membatu dalam musim. Dalam puisi ini, saya bersama Jeany Achrida meramu kesunyian menjadi waktu yang beku, dan cinta menjadi fragmen eksistensial: antara siluet, debu, langit, dan blues yang abadi. Citra-citra puitik di sini meramu gaya imagisme dalam bentuk yang lebih liris dan kontemplatif.
“Balada Penyair Kafe” adalah potret satir nan getir tentang jarak antara dunia puitik dan realitas sosial. Penyair yang sibuk dengan filsafat dan metafora di dalam kafe, berhadapan dengan kenyataan getir wanita tua penjual kue di luar jendela.
“Studio Kloneng di Senja Hari” adalah puisi senyap dan hangat tentang kreativitas, kenangan, dan mimpi-mimpi kecil yang hidup dalam warna, anak-anak, dan kopi pahit yang terasa manis. Suasana ini adalah perayaan kesederhanaan yang tersimpan dalam studio seni, yang perlahan berubah menjadi ruang spiritualitas dan pelarian batin. Senja dan pigura menjadi metafora tentang waktu yang tak dapat ditahan, namun dapat diberi warna dan makna.
Ranang Aji SP

Puisi Ranang Aji SP
STASIUN
1
Di stasiun pertama, cahaya pendar dan temaram, gelap di luar. Di pojok ruang, kelesuan bersandar pada waktu yang kabur. Orang-orang merapatkan tangan dari udara yang pecah oleh kipas. Ruang duduk beku oleh penantian.
Seorang turis membaca buku panduan dan peta tujuan, seperti Cerventes membekali Don Quixote Rocinante menaklukkan jiwa, merembeskan nilai, menyebar dalam pencarian. Tas hitamnya menggelembung oleh bekal, bersandar di antara sandal
2
Di stasiun kedua, curahan hujan adalah irama menggantung, bergema dalam ruang-ruang jiwa, seperti mantra-mantra berjatuhan, da, kegelisahah menggerakkan kaki dan kepala, setiap orang menetapkan takdirnya.
Bergegas harapan di setiap tapak, suara-suara memandu, nawarkan kesenangan dan kemudahan. Di sebuah ruang, setiap dahaga dihapuskan, setiap keletihan dipulihkan, sementara
Dunia, setiap tujuan ditandai, setiap tujuan menuju tanah impian. Satu lubang menganga cahaya menyilaukan, kaki-kaki bergegas menyeret kepenatan melawan kepasrahan, menembus cahaya membutakan
3
Di stasiun ketiga, hujan adalah rahmat, menumbuhkan biji-biji hasrat yang tunas dalam setiap rahim bumi, tumbuh perbedaan, dan warna-warna bercoretan pada dinding dan jalanan. Sepasang kekasih bergandengan dibingkai tawa
Di luar stasiun, tapak pertama ada badai menyapu kota-kota. Orang-orang teriak orang-orang menyentak. Setiap tujuan menjadi acak, ada yang sampai ada yang tidak. Sementara, di pusat kota, para politisi bercengkerama, tertawa dalam pura-pura.
2025
oOo
Ranang Aji SP
KITAB KEJADIAN
Seribu tahun itu adalah sehari ke kaki Arasyi
melalui kepak sayap diberkati. Di sana, tak ada tata surya memberi tanda waktu dan cahaya.
Alam semesta semula adalah nebula, dibuat hanya enam hari kerja dalam waktu bukan manusia. Tak ada cacat dari hamparan bumi hingga atap langit berhias bintang-bintang. Semua dengan keseimbangan. Itu hanya dilakukan satu Tuhan yang cermelang.
Ketika Adam hendak diciptakan, para malaikat heran. Mereka bertanya, mengapa Kau ciptakan mahluk yang gemar menumpahkan darah di darat dan lautan. Aku punya ilmu, kata Tuhan, dan tahu segala tujuan. Malaikat diam, tunduk pada segala keputusan.
II
Manusia hidup dengan peradaban. Semua ditata serupa lipatan kain yang rapi. Kemakmuran membawa kita pada seni. Musik, tari dan puisi. Orang-orang bersapaan di pagi hari. Padang-padang dan taman membentang tumbuh rumput, kembang dan turi. Jari-jari lentik perempuan bercincin berlian, disapa lelaki dengan sopan. Itulah yang dicari setiap insan. Sebuah cermin surga tanpa perkara.
Tapi kehidupan adalah ujian dan perkara.
Manusia adalah jiwa yang cemas, takut kehilangan dan akhirnya saling menindas. Harga diri penuh duri, semua keseimbangan alam dicuri. Hutan-hutan digunduli, laut dicemari, dan dengan itu pundi-pundi diisi dengan nafsu saling menguasai. Industri menjadi inti, perang pun terjadi, dan kemanusiaan terkebiri. Setiap orang saling asing sendiri.
Manusia membawa dengki Qabil dalam jiwanya. Membunuh Habil karena kabut hitam menutupi. Seperti Iblis yang dengki, seperti Parno yang iri pada mobil Damhuri. Seperti Iago yang membalas dendam pada Othello.
Semua iri dan dengki adalah cemburu tanpa akal, tanpa nurani, tak tahu salah sendiri menggali lubang kubur sendiri. Manusia lupa pada tujuan kehidupan. Bertengkar karena berebut impian. Mati terkubur dalam kuburan.
Semesta alam pun bergetar. Manusia menjerit dalam penderitaan. Perang dan bencana alam.
III
Beribu tahun kemudian, Hedeigger, Albert Camus dan Sartre hingga Sastro Edan membuat kesimpulan: kita hanyalah insan yang terlempar keluar – tak berdaya di hadapan alam. Menerima lingkar takdir seperti Oedipus yang tak pernah diinginkan. Buta dan mati dalam penyesalan.
Lupa bahwa Tuhan punya tujuan.
Tak kuciptakan jin dan insan kecuali untuk ibadah.
2025
oOo
Ranang Aji SP
CINTA DI BULAN MEI
Jeany Achrida
Sebelum semua usai waktu berdetak
lihatlah, bulan retak oleh ranting bercabang
langit kelam, langit berkelip
itu aku, siluet
tersesat dalam dirimu
mencemaskan waktu yang diikat oleh rindu
Malam, di akhir Mei, serangga bernyanyi
merayakan kelahiran, dan aku
melihatmu berdiri di bawah bintang,
aku menyentuh abu yang dingin di antara bunyi waktu
syahdu, blues untukmu, blues untukku
Siapa kira aku memainkan perasaan tak terkira
dan waktu menjadi samudera, berlayar perahu-perahu
bersama angin, menafsir cinta musafir
di tanah yang hilang
Lihatlah,
di setiap musim yang lamban, bagiku
waktu menjadi beku
cinta yang mengkristal selalu berkilat
berangan, hidup bahagia pada tubuh wanitamu,
seperti tunas, kuncup di tanah gembur
2025
oOo
Ranang Aji SP
BALADA PENYAIR KAFE
Kopi diseduh dalam cangkir, panasnya menguap asap, Ditata di meja beralaskan semangat. Penyair kafe menata kata, memilin kalimat-kalimat, Dipilihnya malam dan rembulan, Juga wanita telanjang yang berkeringat.
Maka puisinya bernyanyi, mendendang asmara, menggoda ruang dengan metafora. Di mejanya penuh catatan, minuman dan makanan barat, Berbungkus rokok menyisakan abu menumpuk, Bicara filsafat pada bait-bait gelap dalam ingat, tentang absurditas yang tak tuntas.
Di luar, wanita tua menjajakan kue, Tertatih bersuara getar, Menawarkan jualan, berharap terjual. Memandang nanar, dan penyair di kafe menggeleng tenang, Lalu kembali ia pada puisinya, seakan derita adalah bayang tak berharga.
Angin malam menghembus dingin, membawa suara langkah tertatih, meninggalkan jejak hilang di trotoar. Sementara, di dalam kafe, kata-kata terus dirangkai, abai pada hidup yang retak di luar jendela.
2025
oOo
Ranang Aji SP
STUDIO KLONENG DI SENJA HARI
Akhirnya sampai kita pada waktu yang tertahan oleh sepenggal mimpi, dan olehmu menjadi aneka warna dalam pigura menempeli dindingdinding jiwa.
Padanya kau bingkai senja, lembayung dan kuning alamanda. Angin-tawa lumer dalam senyawa akrilika.
Terhampar, anakanak berisik dalam bayangan liar. Melukisi kertas putih berjajar, memberi nama pada jejak terhampar.
Lalu kau ingat menyuguhkan kopi kental tanpa gula. Di dalamnya ada mimpi pahit berputaran. Tapi sungguh manis kurasakan.
2025
oOo



PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


