Oleh: Solu Erika Herwanda
Film Pangku menurut saya adalah film sederhana untuk sebuah kritik sosial yang kompleks. Film berlatar kabupaten Indramayu era 98 hingga 2000-an ini secara berani menampilkan sisi tersembunyi kebiasaan masyarakat pinggiran Indramayu yang sebenarnya bukan hanya ada di Indramayu saja. Namun, dalam film ini, Indramayu terpilih sebagai Kabupaten yang melatari cerita karena merupakan bagian dari wilayah pantura yang memiliki banyak warung legendaris yakni warung kopi pangku.
Ketika kita coba menghubungkannya dengan dinamika prostitusi yang sampai saat ini masih berjalan secara mengendap-endap, film Pangku ini menawarkan sisi malaikat para pekerjanya lewat tokoh Sartika (Claresta Taufan) juga Bu Maya (Christine Hakim).

Karakter Sartika dalam film ini yang menggambarkan perempuan lemah tetapi pantang menyerah merupakan representasi bahwa sisi keibuan pada setiap perempuan itu masih ada. Di antara banyaknya kasus pembunuhan janin dan penelantaran bayi bagi mereka yang tak pernah siap.
Begitupun Bu Maya yang memiliki sifat kemanusiaan yang tak terbayangkan. Menerima Sartika dan menanggap Bayu selayaknya cucu sendiri, Bu Maya mencintai Bayu dengan segala kemampuannya. Dua karakter ini sangat pas sebagai ikon perempuan kuat dan keibuan yang kasihnya tak terhingga.
Meski latar belakang Sartika dan Bu Maya adalah perempuan yang hidup dalam keremangan aktivitas malam, tetapi Sartika dan Bu Maya memenuhi syarat sebagai Ibu Ideal yang sebenarnya akibat kebesaran moral karakter mereka.

Film yang disutradarai Reza Rahadian—aktor dari segala genre film ini—sukses menyalurkan emosi antar para aktor/aktris pada penonton lewat detail-detail kecil seperti, cinematography yang tidak cuma-cuma hingga pemberian identitas karakter fisik yang tampak amat nyata.
Sebagai seorang sarjana muda, saya pun merasa film ini sedikit menyentil sistematika pendidikan di Indonesia yang sejak dulu masih memprihatinkan. Mulai dari kerumitan Bayu (Shakeel Aisy) mendaftar sekolah, hingga harapan besar Sartika terhadap pendidikan yang dia pikir dapat mengubah nasib Bayu. Pada scane itu, Bayu yang ditanya cita-cita oleh Sartika lalu menjawabnya dengan “Kerja” ini bagi saya sebuah ironi yang dihadirkan dalam film ini sebab di lingkungan Bayu tinggal, semua orang yang dia temui hanya melakukan sebuah pekerjaan agar dapat uang.
Hal ini didukung dengan Gilang (Devano Danendra) yang putus sekolah dan bekerja sebagai penyalur ikan yang sering melakukan kesalahan. Saya kira, adegan seringnya Gilang melakukan kekeliruan yang mengakibatkan dia rawan kena pukul bos adalah akibat dari belum matangnya nalar seorang anak yang putus sekolah tetapi harus memenuhi kebutuhan hidup tanpa perhatian pemerintah.

Banyak ulasan yang menyatakan film Pangku ialah film yang indah, sarat akan simbol perjuangan, dan minim kata. Saya pun sepakat demikian, sebab saat film ini dimulai dan kamera hanya menyorot tentang Sartika, penonton seolah tak diperbolehkan mengenal Sartika lewat gaya bicaranya, melainkan penonton harus mempelajari mimik wajah Sartika, cepat lambat langkahnya, hingga arti tatapan Sartika untuk menafsirkan bagaimana sosok Sartika.
Bukan hanya itu, pemilihan soundtrack Rayuan Perempuan Gila karya Nadin Amizah ini bagaikan anak yang menemukan ibunya. Sartika sangat mewakili perempuan dalam lagu tersebut. Apalagi sejak kehadiran Hadi (Fedi Nuril) yang membuat Sartika merasa tidak berharga dan benar-benar tidak percaya cinta.
Dan terakhir, ada juga ulasan yang menyatakan bahwa film Pangku ini merupakan film yang banyak mengajarkan tanpa menasihati. Ya bagi saya itu sangatlah valid. Dari film ini, seseorang bisa melihat bagaimana orang-orang pinggiran, khususnya bagaimana masyarakat pantura yang tetap hidup dengan apa pun yang membuat mereka terus hidup. Kasih sayang, ketulusan, dari film ini tanpa disadari adalah api agar dapur kehidupan tetap mengepul meski badai tak pernah reda dari hari ke hari, waktu ke waktu.
Bionarasi

Mahasiswi yang lahir dan tinggal di Madiun, di Ponorogo kuliah saja. Beberapa cerpennya bisa dibaca di Lensasastra.id, Matamata.co, Cerpen_Sastra, Ngewiyak.com, Omongomong.com, Janang.id. Golagongkreatif, Kompas.id, Majalah Elipsis, Ruang LiteraSIP, Kurungbuka.com, Solopos. Mari berteman di ig: @me.soluryka atau FB: Solu Rika. WA dan E-Wallet: 085736087636 (OVO) a.n Solu Erika Herwanda.



