Puisi Esai Gen Z: Elegi Potongan Cinta di Lakarsantri Karya Sabrina Raidah Bazla

Sebuah kamar indekos di kawasan Lakarsantri Surabaya menjadi saksi bisu tewasnya Tiara Angelina Saraswati, perempuan asal Lamongan pada Minggu (31/8). Dia dibunuh oleh kekasihnya sendiri Alvi Maulana yang telah menjalani hubungan pacaran selama empat tahun lamanya. Dia dimutilasi menjadi ratusan bagian. Bagian kepalanya diletakkan di belakang lemari indekos. Tulang dan dagingnya dipisahkan dan dibuang di Pacet, Cangar.

oOo

Di Lakarsantri, Surabaya,
sebuah kamar kos menjelma ruang sunyi.
Dindingnya menyimpan rahasia, lantainya menyerap darah,
jendelanya menatap malam tanpa bintang.
Tempat cinta yang dahulu hangat, menjadi dingin seperti batu nisan.
Tempat janji-janji manis berubah jadi abu,
dan abu itu menjelma darah.

Tiara Angelina Saraswati,
bunga Lamongan yang semestinya mekar.
Ia pernah tertawa di pagi hari,
pernah bermimpi di bawah cahaya bulan.
Namun dipetik bukan oleh takdir lembut,
melainkan oleh tangan yang pernah merangkulnya.
Betapa ironis
pelukan yang dulu rumah,
menjadi jerat yang merenggut nyawa.

Empat tahun bersama, bagai kapal berlayar di samudra janji.
Mereka pernah menata rencana, membangun rumah imajiner di atas langit.
Namun kapal itu karam di tepi pantai, hanya karena badai amarah sepele.
Bukankah cinta mestinya jangkar?
Mengapa justru jadi ombak yang menghantam sendiri?

Pisau dapur yang mestinya meracik bumbu rindu,
memotong sayur, menyiapkan sarapan,
menjadi pena maut,
menulis kisah terakhir di leher Tiara.
Sekali gores, seluruh dunia runtuh baginya.
Sekali tusuk, segala rencana luruh jadi abu yang tak bersisa.

Kamar mandi berubah altar,
cermin memantulkan bayangan sunyi,
keran air menetes bagai ratapan,
dindingnya menelan jerit tak terdengar.
Airnya mencuci jejak cinta yang patah,
membuang darah ke selokan
yang tak pernah tahu siapa pemiliknya.
Dan tubuh Tiara dipotong-potong,
seperti bait puisi yang disobek halaman,
seperti doa yang dihentikan di tengah lafaz.

Daging dan tulang tercerai,
serpih-serpih manusia yang seharusnya utuh.
Mata yang dulu menatap lembut, kini hanya potongan daging.
Tangan yang pernah merangkul, kini tak lagi bersisa.
Segala kemanusiaan diiris-iris, hingga cinta tak lagi punya bentuk.
Tas hitam menjadi keranda, membawa rahasia yang dipaksa diam.
Jalanan Pacet dan Cangar menjadi sungai rahasia,
penuh bisik angin dan kabut pegunungan.
Potongan tubuh dilemparkan sembarang, seperti daun kering ditiup angin,
seperti cinta yang dibuang ke jurang, tanpa pamit, tanpa doa, tanpa nisan.

Namun kepala itu disembunyikan di balik lemari yang muram.
Seolah wajah Tiara masih ingin bicara,
seolah matanya masih ingin menuntut,
seolah bibirnya masih ingin berdoa.
Ia menatap dunia dari kegelapan,
menjadi saksi yang tak bisa dibungkam,
menunggu keadilan ditegakkan.

Alvi pulang, menjalani hari seolah tak ada badai.
Menyalakan ponsel, membuka percakapan, berjalan di lorong kos seperti biasa.
Padahal tangannya masih membawa bau besi dan darah.
Padahal jiwanya sudah terbelah, tak akan pernah utuh kembali.

Hingga pagi datang.
Warga menemukan potongan rahasia.
Kabut gunung pecah oleh jeritan, dan berita pun menjadi lonceng.
Membangunkan nurani yang tertidur, mengguncang hati siapa saja yang membaca.
Nama Tiara menetes di layar kaca, di koran pagi, di hati yang masih punya rasa.

Empat belas jam kemudian, pukul tiga dini hari, Alvi digiring polisi.
Tangannya terikat, tapi bayang-bayang dosanya tak pernah bisa diikat.
Langkahnya berat, seperti menuju liang lahat yang ia gali dengan tangannya sendiri.

Motifnya disebut sederhana, emosi yang dipendam, pintu yang dikunci, pertengkaran sepele.
Betapa murah harga jiwa jika ditukar dengan bara sesaat.
Apakah cinta hanyalah api yang membakar rumahnya sendiri?
Atau nafsu yang menyamar sebagai kasih?
Kini Pasal 340 KUHP menyulam nasibnya dengan benang besi:
seumur hidup di balik jeruji, atau hukuman setimpal menunggu.
Tetapi vonis tak pernah bisa menyatukan kembali tubuh yang tercerai,
tak bisa menghapus air mata seorang ibu, tak bisa menenangkan roh yang pergi dengan luka.

Lakarsantri menyimpan elegi, tentang cinta yang kehilangan sayap,
tentang manusia yang kalah oleh amarah, tentang rahasia gelap di balik lemari.
Kos itu menjadi monumen diam, bagi siapa saja yang melintas,
bahwa ada duka yang tak sempat berpamitan.

Dan Tiara, namamu kini berdenting
seperti doa di udara, seperti peringatan di dinding waktu.
Bahwa cinta sejati bukan sekadar bersama, tetapi menjaga,
agar hati tak menjelma pisau, agar rindu tak berubah menjadi maut.

Oh, Surabaya, kau saksi bisu,
bahwa kota tak hanya menyimpan gegap gempita,
tapi juga luka yang menetes pelan.
Jalananmu tetap ramai, tapi di salah satu sudutmu
ada kamar kos yang sunyi, menjadi prasasti duka
yang tak terbaca oleh lalu lintas.

Lamongan pun berduka, tanah kelahiran Tiara menangis bersama ibunya.
Bunga yang dikirim tak sepadan, doa yang dibacakan tak sanggup,
karena seorang anak perempuan telah kembali tanpa wajah, tanpa tubuh yang utuh.
Dan Pacet desa yang sejuk,
yang mestinya hanya menyimpan kabut dan teh hangat,
kini menyimpan rahasia potongan tubuh, tersebar di tanah, tersembunyi di semak,
seperti puisi gelap yang dilemparkan angin malam.

Maka, tragedi ini bukan hanya kisah dua insan, tetapi cermin bagi kita semua.
Tentang cinta yang salah arah, tentang amarah yang dibiarkan membusuk,
tentang manusia yang kehilangan kendali hingga melupakan arti hidup.
Betapa sering kita lupa, bahwa cinta bukan sekadar memiliki,

cinta bukan penjara, cinta bukan pisau yang mengiris pelan.
Cinta sejati adalah menjaga, merawat, menahan diri dari api yang membakar dada.
Tanpa itu, cinta hanyalah bara yang melalap habis rumah yang ia bangun sendiri.

Tiara, namamu kini adalah peringatan
bahwa kasih tanpa kendali adalah bencana.
Bahwa hubungan tanpa dasar adalah jurang.
Bahwa amarah sekecil apapun jika dibiarkan,

bisa menumbuhkan tragedi yang memecah kepala peradaban.

Dan Lakarsantri akan tetap berdiri,
Surabaya akan tetap sibuk,
hidup orang-orang lain akan berjalan.
Namun di balik semua itu,
ada sebuah nama, sebuah elegi,
yang berbisik kepada dunia:
“Jagalah cinta, jagalah jiwa,
sebelum cinta menjelma pisau,
sebelum jiwa menjelma maut.”

Link: https://www.detik.com/jatim/hukum-dan-kriminal/d-8101243/kronologi-lengkap-alvi-mutilasi-pacar-jadi-ratusan-potong-di-kamar-kos

oOo

TENTANG PENULIS: Sabrina Raidah Bazla, mahaiswi sebuah perguruan tinggi. Hobi menulis dan menyendiri.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==