Menanam Benih Integritas di Tengah Hutan Banten

Oleh Kiki Pebrianto – Relawan Rumah Dunia

“Jabatan adalah ujian bagi seseorang, bagaimana ia memegang teguh integritasnya.”

Kalimat itu meluncur dari Dr. Dra. Hj. Sitti Ma’ani Nina, M.Si., CGCAE, Inspektur Daerah Provinsi Banten, saat membuka Kelas Pemuda Antikorupsi Provinsi Banten 2026 pada Selasa, 9 Juni 2026, di Rumah Dunia. Di tengah ruangan yang dipenuhi puluhan pemuda dari berbagai daerah, organisasi, dan komunitas, kalimat tersebut terasa sederhana. Namun, bagiku, kalimat itu meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.

Selama ini, korupsi sering dipahami sebagai persoalan hukum semata: angka-angka kerugian negara, operasi tangkap tangan, atau vonis pengadilan. Namun, dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut, aku mulai memahami bahwa korupsi berawal dari sesuatu yang jauh lebih dekat, yaitu hilangnya integritas dalam diri seseorang.

Menjadi salah satu peserta Kelas Pemuda Antikorupsi Provinsi Banten 2026 merupakan pengalaman yang membanggakan sekaligus membuka banyak perspektif baru. Kegiatan ini diikuti oleh 22 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Provinsi Banten, seperti Serang, Tangerang, Pandeglang, Lebak, Cilegon, dan daerah lainnya. Selama tiga hari, mulai 9–11 Juni 2026, kami belajar bersama melalui berbagai materi yang disampaikan oleh para narasumber dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Setelah kegiatan pembukaan, seluruh peserta melanjutkan rangkaian program di Taman Hutan Raya Banten, Pandeglang. Dikelilingi pepohonan yang rindang dan udara yang sejuk, suasana belajar terasa berbeda dari biasanya. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, kami diajak memahami pentingnya integritas melalui diskusi, studi kasus, simulasi, dan berbagai sesi interaktif yang membuat setiap peserta berani menyampaikan pandangan serta bertukar pengalaman.

Belajar di alam terbuka menghadirkan suasana yang lebih hangat dan akrab. Tidak ada sekat di antara peserta. Kami saling mengenal, berdiskusi, dan berbagi cerita tentang pengalaman organisasi, tantangan di daerah masing-masing, hingga gagasan mengenai peran pemuda dalam membangun budaya antikorupsi. Dari pertemuan itu, aku menyadari bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing untuk berkontribusi menjaga integritas di lingkungannya.

Salah satu momen yang paling menyenangkan adalah ketika seluruh peserta diajak mengunjungi Curug Putri. Gemuruh air yang jatuh dari ketinggian, udara pegunungan yang sejuk, serta hamparan pepohonan hijau menghadirkan suasana yang menenangkan setelah mengikuti rangkaian materi yang padat. Di tempat itu, kami tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mempererat kebersamaan.

Namun, yang paling berkesan bukanlah pemandangannya. Yang paling berkesan adalah percakapan-percakapan sederhana yang terjadi di antara kami. Duduk bersama di atas bebatuan, berbagi cerita tentang daerah asal, pengalaman organisasi, hingga keresahan terhadap berbagai persoalan sosial. Aku bertemu dengan banyak orang hebat. Ada dosen, guru, aktivis komunitas, dan pemuda-pemudi inspiratif lainnya yang telah lebih dahulu berkarya di bidang masing-masing.

Di tengah diskusi itu, aku sempat merasa kecil. Aku merasa pengalaman dan kapasitas yang aku miliki masih jauh dibandingkan mereka. Ketika mendengar pencapaian dan gagasan-gagasan yang mereka sampaikan, muncul pertanyaan dalam diriku: apakah aku mampu berada di titik yang sama seperti mereka?

Namun, perasaan itu perlahan berubah menjadi motivasi. Aku menyadari bahwa setiap orang hebat pernah berada pada titik belajar. Mereka tidak lahir dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki saat ini. Mereka tumbuh karena terus belajar, terus mencoba, dan tidak takut berada di lingkungan yang lebih maju dari dirinya.

Dari situlah aku memahami satu pelajaran penting: duduk bersama orang-orang hebat bukanlah alasan untuk merasa rendah diri, melainkan kesempatan untuk bertumbuh.

Tiga hari mengikuti Kelas Pemuda Antikorupsi Provinsi Banten bukan hanya memberikan pemahaman tentang bahaya korupsi. Kegiatan ini juga mengajarkan bahwa pemberantasan korupsi tidak selalu dimulai dari ruang sidang atau lembaga penegak hukum. Ia dimulai dari keberanian setiap individu untuk berkata jujur, menolak penyimpangan, dan menjaga integritas dalam kehidupan sehari-hari.

Aku juga semakin memahami bahwa dampak korupsi bukan hanya soal kerugian negara di atas kertas. Ketika anggaran pembangunan disalahgunakan, masyarakatlah yang menanggung akibatnya. Jalan yang seharusnya bertahan bertahun-tahun menjadi cepat rusak, fasilitas pendidikan dan kesehatan tidak dapat dinikmati secara maksimal, hingga pelayanan publik menjadi lambat dan tidak berkualitas. Pada akhirnya, korupsi merampas hak masyarakat untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Di tengah sejuknya hutan Banten, aku melihat harapan itu tumbuh. Harapan yang lahir dari para pemuda dengan latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: menjadi generasi yang berani menjaga integritas dan mengambil peran dalam mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi.

Karena pada akhirnya, melawan korupsi bukan hanya tentang menghukum pelaku. Melawan korupsi adalah tentang menanam benih integritas sejak hari ini, agar kelak tumbuh menjadi karakter yang tidak mudah tergoyahkan oleh godaan apa pun.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==