Kiki Pebrianto
SERANG – Perpustakaan Daerah (Perpusda) Banten menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal bagi 50 peserta dari berbagai daerah dan latar belakang profesi, seperti pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Perpusda Banten lantai dua, Senin (7/9/2026), mulai pukul 07.30 WIB hingga 15.30 WIB.
Kegiatan berlangsung hangat sejak sesi pertama yang diisi oleh Dr. Rohman. Ia mengawali materi dengan mengajak seluruh peserta memperkenalkan diri secara bergantian. Sesi tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk saling mengenal dan membangun kedekatan sebelum memasuki materi kepenulisan.
Dalam pemaparannya, Dr. Rohman menekankan pentingnya menulis tentang budaya lokal, khususnya budaya yang berkembang di Banten. Menurutnya, tulisan mengenai budaya lokal dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan tradisi Banten kepada masyarakat yang lebih luas. Bahkan, penulisan dalam bahasa asing dinilai dapat membuka peluang agar budaya Banten dikenal hingga luar negara.

Selain sebagai media pengenalan budaya, dokumentasi melalui tulisan juga penting untuk menjaga pengetahuan tentang tradisi agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, budaya lokal tidak hilang atau tergantikan oleh narasi yang berasal dari luar.
“Kita harus menulis tradisi budaya lokal yang ada di Banten agar ciri khas Banten lebih dikenal dan agar anak cucu kita juga mengenal budaya lokal generasi sebelumnya,” ujar Dr. Rohman, Senin (7/9/2026).
Dr. Rohman juga membagikan pengalamannya ketika menulis tentang budaya Debus Banten. Tulisan tersebut menarik perhatian seorang profesor dari Jepang yang kemudian tertarik untuk meneliti budaya Debus secara lebih mendalam. Profesor tersebut bahkan datang menemui Dr. Rohman dan memintanya untuk mengantarkan langsung ke lokasi pertunjukan Debus di Banten.

Materi berikutnya disampaikan oleh Samsul yang membahas teknik kepenulisan dengan lebih spesifik, terutama dalam menentukan dan mengembangkan objek budaya yang akan ditulis. Peserta terlebih dahulu diminta menuliskan 10 budaya Banten yang langsung terlintas dalam pikiran mereka.
Setelah itu, peserta diarahkan untuk mempersempit pilihan dengan menentukan objek budaya yang lebih spesifik dan memiliki keterkaitan kuat dengan Banten. Peserta kemudian diminta menjelaskan tiga objek budaya menggunakan unsur 5W+1H (what, who, when, where, why, dan how). Pada tahap akhir, peserta memilih satu objek budaya untuk dikembangkan berdasarkan sudut pandang yang menarik serta mempertimbangkan kelayakan objek tersebut untuk ditulis.

Selama kegiatan berlangsung, komunikasi antara pemateri dan peserta berjalan secara dua arah. Peserta aktif mengajukan pertanyaan, berdiskusi, serta bertukar pengalaman mengenai budaya lokal dan kepenulisan.
Materi dan sesi tanya jawab berakhir sekitar pukul 15.30 WIB. Kegiatan Bimtek kemudian ditutup dengan kesan positif dari para peserta. Meskipun berlangsung hingga sore hari, kegiatan tersebut memberikan tambahan wawasan dan pengalaman bagi peserta dalam menggali serta menulis budaya lokal Banten agar dapat dikenal dan diwariskan kepada generasi mendatang.


