Dalam lanskap psikiatri modern, pelarian disosiatif atau dissociative fugue tercatat sebagai pemberontakan biologis paling radikal. Kondisi ini terjadi tatkala otak manusia secara sengaja membakar seluruh arsip memori autobiografi demi menyelamatkan raga dari trauma yang terlampau brutal.
Fenomena medis ini membuktikan bahwa amnesia ekstrem bukanlah sekadar kecacatan ingatan, melainkan sebuah sakelar darurat untuk bertahan hidup. Dokumentasi klinis historis mencatat kasus Ansel Bourne pada tahun 1887. Ia mendadak meninggalkan rumahnya di Rhode Island, lalu membuka toko di Pennsylvania dengan identitas baru tanpa mengenali masa lalunya sama sekali. Otak manusia rupanya sanggup memusnahkan identitas lama agar sang pemilik tubuh bisa terlahir kembali dari kehancuran mentalnya sendiri.


Stasiun kereta api yang berkabut. Source: Vladimir Zapletin / Getty Images
Di dalam tengkorakku ada kota kecil yang sengaja
dibumihanguskan sebelum subuh.
Aku lahir bukan dari rahim berdarah, melainkan dari
derit besi rel kereta
yang memuntahkan tubuh asing ke peron berkarat.
Tanganku masih hafal cara menyeduh kopi atau
menghitung uang logam kembalian.
Namun, lembar namaku telah dikuliti bersih oleh
pisau bedah tak kasatmata
yang digerakkan oleh pikiranku sendiri.
Apakah aku seorang ayah yang lari dari jerit tangis
bayinya yang kelaparan?
Atau seorang nabi yang muak mendengar khotbah
dari mulutnya sendiri?
Tidak ada arsip.
Tidak ada silsilah.
Yang tertinggal hanya sepasang sepatu bot
kelelahan
dan dompet kosong yang menertawakan sisa
kewarasanku.
Otakku adalah algojo paling belas kasih di muka bumi ini.
Ia melihat rumahku telah runtuh oleh timbunan duka
yang terlalu sadis.
Lalu, dengan kejam dan lembut, ia menekan sakelar
pemusnah massal.
Membuang nama dan memadamkan riwayat.
Menjadikannya abu yang berserakan ditiup angin malam.
Aku berjalan menyusuri lampu kota antah berantah.
Menjadi hantu sah yang menumpang hidup di raga orang lain.
Menyusuri kota sebagai orang asing. Source: gremlin / Getty Images
Suatu hari nanti, barangkali, sebuah melodi sumbang
atau aroma bunga melati
akan menendang pintu brankas yang kukunci rapat.
Monster trauma itu akan bangkit dan menagih
nyawa yang dulu kutinggalkan di rel kereta.
Namun, malam ini, biarkan aku mendekap
kekosongan ini erat.
Menjadi manusia tanpa silsilah.
Lahir dari rahim baja stasiun.
Hidup sebagai orang asing yang paling merdeka di atas bumi.
Catatan Kaki
- Pelarian disosiatif (dissociative fugue) merupakan kondisi psikiatri akut tatkala pasien mendadak kehilangan memori autobiografi akibat stres ekstrem, lalu mengadopsi identitas baru. https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/22836%2Ddissociative%2Dfugue
- Kasus nyata pelarian disosiatif paling ikonik didokumentasikan secara medis pada tahun 1887 ketika Ansel Bourne menghilang dari Rhode Island dan membuka toko di Pennsylvania dengan identitas baru, Alfred J. Brown, tanpa mengenali masa lalunya. https://www.psychologytoday.com/us/blog/hidden%2Dmotives/202010/the%2Dreal%2Dbourne%2Didentity%2Dthe%2Dpsychology%2Dansel%2Dbourne
- Hilangnya identitas akibat trauma ekstrem telah didokumentasikan luas dalam literatur medis psikiatri. Pakar psikologi menyebut kondisi ini sebagai respons radikal biologi otak ketika stres dirasa mengancam kelangsungan hidup. Tautan referensi valid bersumber dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK568768/
- Pasien fugue biasanya tetap mampu melakukan rutinitas harian yang kompleks (seperti meracik kopi atau bekerja) karena memori prosedural atau keterampilan motorik fisik mereka tidak rusak di otak, meskipun memori personal mereka hilang total. https://www.psychiatry.org/patients%2Dfamilies/dissociative%2Ddisorders/what%2Dare%2Ddissociative%2Ddisorders
- Pemulihan ingatan pasien pelarian disosiatif kerap kali dapat terpicu secara mendadak oleh memori sensorik seperti aroma atau melodi tertentu yang secara tidak sadar merobek dinding amnesia traumatis tersebut. Tautan referensi valid bersumber dari https://www.mayoclinic.org/diseases%2Dconditions/dissociative%2Ddisorders/diagnosis%2Dtreatment/drc%2D20355221
Data Diri Penulis
Yesrun Eka Setyobudi adalah seorang penulis lepas, pekerja kreatif, dan mahasiswa sejarah Universitas Jember yang memiliki dedikasi tinggi terhadap literasi, riset, serta pengembangan masyarakat. Sebagai talenta muda yang produktif, ia telah membuktikan kompetensinya dengan meraih lebih dari 15 penghargaan tingkat nasional sepanjang periode 2024–2025. Beberapa prestasi bergengsinya antara lain adalah Juara 1 LKTI KEMENPORA 2024 serta Juara 1 Climate Impact Innovation Challenge (CIIC) 2025 Article Competition. Selain berprestasi secara akademik, Yesrun juga memiliki pengalaman kepemimpinan yang solid di BEM FKIP UNEJ dan Komunitas Indonesia Pencerah. Dengan kombinasi kemampuan intelektual, kreativitas konten, dan disiplin kerja di industri F&B, ia siap memberikan kontribusi strategis di berbagai bidang profesional.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



