Tapi penyebutan “urang” (Sunda) di judul buku , bukan “wong” ini menarik. Dua sub kultur yang (asumsi saya) diam-diam menyimpan luka sejarah. Prof. H.M.A. Tihami di endorsmentnya menulis “wong” tetap disandingkan dengan “urang”.
Urang Banten: Sejarah, Islam, dan Identitas

