Oleh: Naufal Nabilludin
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta ke Surabaya menggunakan KA Airlangga, akhirnya aku tiba di Stasiun Pasarturi Surabaya pada Kamis malam, 16 Januari 2025. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika Fauzi, temanku dari program Pertukaran Mahasiswa di Gorontalo, menjemputku. Dia adalah orang Bangkalan, Madura, dan selama tiga hari ke depan aku akan tinggal di rumahnya.

Salah satu hal yang langsung aku tanyakan saat bertemu dengannya adalah tentang bebek Madura. Bagiku, mencicipi bebek Madura di tanah asalnya adalah sebuah cita-cita. Bukan sekadar makan, tapi juga merasakan budaya kuliner yang otentik di tempatnya.
“Bebek Madura ada, buka 24 jam, tapi sebaiknya besok aja kita makan,” kata Fauzi sambil tertawa kecil. Aku mengangguk, meski rasa penasaranku sudah memuncak.
Keesokan harinya, Fauzi dan temannya, Rauf, mengajakku berburu bebek goreng sebelum salat Jumat. Fauzi menyarankan agar kami mencoba bebek dari tempat yang berbeda sebelum mencicipi Bebek Sinjay, yang katanya paling terkenal dan paling enak di Bangkalan.
Pilihan kami jatuh pada Bebek Suramadu Cabang 3, yang berlokasi di Jl. Raya Ketengan Km 3 No. 50, Burneh, Bangkalan. Dengan motor Supra Fauzi, kami menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari rumahnya.



Bebek Suramadu menawarkan area makan yang luas, dengan meja dan kursi kayu yang tertata rapi di setengah terbuka, serta beberapa gazebo bambu yang menghadap ke sawah hijau. Angin sepoi-sepoi menambah suasana yang nyaman dan santai.
Bebek Suramadu ini terkenal enak dan murah. Satu porsi bebek dengan nasi hanya Rp12.000. Kami memesan satu ekor bebek yang sudah dilengkapi dengan satu porsi nasi seharga Rp56.000. Untuk melengkapi, kami hanya perlu menambah dua porsi nasi, tahu-tempe, dan tiga botol air mineral. Totalnya hanya Rp87.000—harga yang sangat terjangkau untuk hidangan lengkap seperti ini.


Saat hidangan datang, bebek goreng khas Madura yang terkenal itu disajikan dengan bumbu hitam khasnya, nasi putih yang masih hangat, dan sambal pencit (sambal berbahan mangga muda). Aroma rempah yang menguar langsung menggugah selera.
Gigitan pertama membuatku seolah berada di puncak kenikmatan kuliner. Bumbu hitamnya kaya akan rempah khas Nusantara—perpaduan jahe, lengkuas, kunyit, dan bawang putih yang diolah hingga pekat dan meresap sempurna ke dalam daging bebek. Teksturnya empuk, sama sekali tidak alot, membuat setiap suapan terasa mulus dan menyenangkan.

Sementara itu, sambal pencitnya memberikan sensasi asam segar dari mangga muda yang dicampur dengan cabai rawit. Pedas, asam, dan sedikit manis—sambal ini menjadi pelengkap sempurna yang memotong rasa gurih dari bumbu hitam.
Kami makan dengan lahap, diiringi candaan ringan yang membuat suasana semakin akrab. Di bawah gazebo bambu dengan pemandangan sawah yang hijau, angin sepoi-sepoi menyapu wajah kami. Momen itu terasa begitu sempurna, seperti benar-benar menikmati kuliner dalam harmoni dengan alam.

Bagi lidahku, pengalaman makan ini sangat luar biasa. Di Madura, bebek goreng bukan sekadar makanan. Ini adalah tradisi, sebuah kebanggaan lokal yang diolah dengan cita rasa penuh cinta. Ditambah dengan harga yang terjangkau, aku rasa sulit menemukan pengalaman serupa di tempat lain.
Kenyang dan puas, aku, Fauzi, dan Rauf sepakat bahwa bebek Madura adalah simbol kekayaan kuliner yang patut dirayakan. Dan untukku, cita-citaku mencicipi bebek Madura langsung di tanah aslinya akhirnya tercapai. Perjalanan ini adalah bukti bahwa rasa memiliki cerita, dan Madura menceritakannya dengan sangat indah melalui bebek gorengnya.




