Oleh Muhzen Den
Bagi orang-orang rantau yang jauh dari rumah karena urusan pekerjaan maupun pendidikan, rumah adalah segalanya. Sebab di sanalah awal mula mereka ada, yakni dilahirkan hingga tumbuh besar menjadi seseorang. Ibaratnya, rumah menjadi tonggak seseorang memulai perjalanan dan cerita petualangannya.
Keberadaan orang-orang rantau yang jauh dari rumah atau kampung halaman didorong oleh rasa ingin berubah, mengubah nasib dan menjadi orang berhasil. Pergi dari rumah atau kampung halaman bagi orang-orang rantau merupakan sebuah langkah kecil yang pasti akan adanya cahaya masa depan bagi kehidupannya.
Jauh dari rumah, kampung halaman, dan orangtua maupun sanak-saudara bagian dari pengorbanan orang-orang rantau. Karena mereka seperti telah merelakan jiwa dan raganya terbelenggu akan cinta dan rindu.
Namun, lagi-lagi karena didorong perasaan nekat, tekad, dan beranilah membuat orang-orang rantau memiliki jarak dari orang-orang yang disayangi maupun tempat kelahirannya.

Orang-orang rantau yang menjauh dari rumah dan kampung halamannya bukan berarti mereka lupa akan akart tinggalnya. Justru kepergiannya orang-orang rantau dari rumah atau kampung halamannya sebuah keharusan bagi dirinya dalam mengeksplorasi imajinya tentang bumi yang dipijak dan langit dijunjung.
Orang-orang rantau tidak akan pernah lupa akan rumah dan kampung halamannya, sebab kenangan manis masa lalu begitu melekat pada dirinya. Cinta dan rindu pada orang-orang yang disayangi di rumah atau kampung halaman seperti dermaga yang selalu disinggahi perahu.
Orang-orang rantau akan selalu merindukan pulang saat waktunya tiba. Momentum itu akan selalu datang pada orang-orang rantau. Pulang bagian dari melepas rindu yang membelenggu di hatinya.
Oleh sebab itu, momen Ramadan setelah berpuasa penuh selama sebulan, kemudian menjelang akhir puasa atau di mana hari kemenangan tiba, Idulfitri, itulah waktunya.
Pulang kampung bagi orang-orang rantau sebuah momen istimewa yang tidak akan dilepaskan jika tiba waktunya. Berduyun-duyun, berdesak-desakkan, antre panjang, bahkan harus berjibaku mempersiapkan segalanya demi pulang kampung. Momen ini akan terus berlanjut dan berulang tiap tahunnya atau bahkan tiap ada kesempatan untuk pulang kampung.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik artinya (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman), atau pulang ke kampung halaman. Sementara pulang kampung artinya kembali ke kampung halaman.
Momen Lebaran atau seletah sebulan penuh berpuasa Ramadan adalah waktu yang ditunggu-tunggu untuk pulang kampung bagi orang-orang rantau. Sebab mereka telah lama menumpuk rindu akan rumah dan kampung halaman.
Selain itu, mereka juga merindukan makanan khas rumah yang dulu pernah dinikmati saat masih anak-anak atau saat belum merantau. Begitu juga dengan pelukan hangat orangtua.



