Esai ini membahas penyebab mahalnya harga buku di Indonesia dan dampaknya terhadap rendahnya minat baca serta masa depan literasi.
Esai: Ketika Buku Menjadi Barang Mewah

Dunia Kata, Dunia Imajinasi
Gelisah pada lingkungan

Esai ini membahas penyebab mahalnya harga buku di Indonesia dan dampaknya terhadap rendahnya minat baca serta masa depan literasi.

Esai tentang jejak FLP dan novel remaja Islami, membahas nilai, literasi sekolah, dan tantangan teenlit Islami di tengah perubahan pasar dan budaya digital.

Mengapa ‘tidak bodoh’ lebih penting daripada sekadar pintar? Refleksi tentang belajar sebagai asuransi untuk meminimalisir kerugian akibat ketidaktahuan.

aku menjumpaimu jauh dari rumahwajahmu bertebaran di mana-manamemaknai rindu tentang cintanyaberharap abadi hingga akhir hayat nanti oOo Saya mengintip dari jendela kamar hotel. Sudah banyak …

Ayo, pertanyaan ini kita lemparkan ke diri kita saja. Saya sudah mengunjungi kota-kota di Indonesia; dari Sabang hingga Merauke, minus Morotai dan Tual. Sedangkan di …

Kemarin pagi, Rabu 14 Januari, saya mengajak Jordy-Natasha explore Chongqing. Setelah sarapan nasi dan SOP kambing, kami ke Xinli Farmer Market. Lokasinya masuk gang, di …

Saya tiba-tiba ingat Bapak ketika berada di kereta rute Chongqing ke Beijing. Literacy Journey 12 Negara kini berpindah ke Beijing. Kenapa ingat Bapak? Karena saya …

Pada 2004, Komunitas Rumah Dunia yang kami bangun di Kota Serang Banten dituduh oleh institusi agama berpengaruh di Banten (sebut saja MUI) berpaham komunis. Itu …

Esai tentang pentingnya literasi membaca, budaya, dan digital sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju Generasi Emas Indonesia 2045.
Saya tidak sedang membicarakan peristiwa politik tahun 1965 ketika Partai Komunis Indonesia, Bung Karno, Pak Harto, 7 Jendral, Lubang Buaya, dan Supersemar. Saya hanya sedang …

Saya menulis status ini bukan hendak mengatakan bahwa pendidikan formal itu tidak penting. Bukan itu. Tapi saya ingin mengatakan kepada yang tidak beruntung karena tidak …

Dari dulu saya selalu resah memikirkan, kenapa masih banyak orang miskin di kampung saya? Di kampung kamu? Di Indonesia? Jika saya masuk ke gang-gang di …

12 Januari 2026: “Kamu tidak nasionalis, Gong!”Beberapa orang menyerangku dengan kalimat seperti itu ketika Gong Traveling aktif (2010-2015). Itu program unggulan yang membawa relawan Rumah …

Kamis, 8 Januari 2026:Pencarianku tentang Tan Malaka di Hanoi gagal. Akhirnya: tak ada Tan Malaka, Ho Chi Min pun jadi. Kami diantar oleh Bu Santi …

Hukum, yang seharusnya membatasi kekuasaan, seringkali menjadi alat eksploitasi. Hukum tampak sebagai mesin yang tidak produktif, bahkan destruktif.

Oleh Gol A Gong “Pak, nanti kirimi aku kartu pos, ya!” kataku setiap Bapak melakukan perjalanan dinas. Atau aku menggenggam tangan pacar sambil berkata. “Doain …

Oleh Gol A Gong Hati saya bergetar keras ketika hendak menyeberang di zebra cross Asiatique, Bangkok, Thailand. Rombongan SIP Publishing yang belajar menulis catatan perjalanan, …