Essay: Toboali di Bangka Selatan dan Kesejajaran di Panggung Literasi Nusantara

Catatan dari Perpusnas Writer Festival 2022 oleh Rusmin Toboali

“Dari Bangka Selatan,” ujar moderator acara peluncuran buku Leksikon Gerakan Indonesia Menulis, Edi Wiyono yang juga Pimred Perpusnas Press dan Kepala Humas Perpusnas RI.
Saya tertegun. Terhenyak. Berjuta asa menggumpal dalam jiwa. Nama Bangka Selatan disebut dalam ruangan auditorium Perpustakaan Nasional Jumat (18/11/2022), Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Jujur, saya tak tahu apa yang saya narasikan saat itu dihadapan para undangan yang memenuhi ruangan Auditorium Gedung Perpustakaan Nasional siang itu. Jujur, hanya ada kebahagiaan yang meleleh dalam jiwa saya, saat Kota TOBOALI Bangka Selatan disejajarkan dengan Kota-kota penghasil penulis dan sastrawan Nasional. >>> ke halaman berikutnya

Esai: Berkah Literasi Digital untuk Lubuklinggau Student Short Movie Festival

Catatan Juri oleh Gol A Gong

Sebetulnya saya tidak percaya ketika mendapat kabar dari Benny Arnas sang motivator, inisiator, dan inspirator Lubuklinggau yang mengatakan, “Kang, LSSMF akan kembali digelar! Akang jadi juri!”

Mungkinkah? Setelah digelar tiga kali (2017, 2018, 2019) dan absen dua tahun (2020–2021) karena pandemi, tahun ini Benny Institute kembali menggelar Lubuklinggau Students Short Movie Festival 2022! Jujur, ini langkah berani! Persoalannya, ini festival di kabupaten! Akan adakah SDM-nya?

Essay: Mengapa Kualitas Kertas Buku Kita Jelek?

Oleh Saepurrohman – Wartawan golagongkreatif.com

Saya memiliki koleksi buku lumayan banyak dari penerbit Indonesia kurang lebih jumlahnya tiga ratus buku. Koleksi buku sebanyak itu dimulai sejak saya masuk perguruan tinggi sampai sekarang.

Ada beberapa biji buku yang juga berbahasa Inggris penerbitnya Penguin dan lain sebagainya. Buku yang saya miliki sebagian dibawa ke rumah dan sisanya disimpan di lemari Komunitas Rumah Dunia. >>> ke halaman berikutnya

Essay: Mahasiswa Berebut ISBN, Salah Kaprah

Saepurrohman – Wartawan golagongkreatif.com

Untuk pertama kalinya kampus di mana saya belajar, yaitu UIN SMH Banten melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) secara online. Maklum pada saat itu, pandemi Covid-19 sedang melanda dunia—termasuk Indonesia tentunya.

Ada beberapa pilihan penyelenggaraan KKN online, di antaranya: bikin kampanye flyer Covid-19, menulis buku, jurnal, dan KKN secara langsung di desa sendiri. Banyak mahasiswa pilih flyer sebagai alat kampanye karena tidak mengeluarkan anggaran biaya sama sekali. >>> ke halaman berikutnya

Essay: Hari Santri, Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan

Oleh Wuriyanti – SMPIT Pesantren  Qur’an Kayuwalang

Maklumat yang dilontarkan para ulama bahwa Jihad membela bangsa hukumnya fardu ‘ain membakar semangat para santri di seluruh pelosok untuk berjuang membela negara di masa itu. Peristiwa tersebut menjadi cikal  bakal peringatan hari santri yang diperingati pada setiap tanggal 22 Oktober.

Hari santri pertama kali di deklarasikan oleh presiden Joko Widodo dalam pidatonya di masjid Istiqlal. Pernyataan tersebut didokumentasikan pada Keputusan Presiden  No 22 tahun 2015.  Menurut catatan histori  bahwa santri mempunyai andil besar berperan memperjuangkan kemerdekaan. >>> ke halaman berikutnya

Essay: Wibisana, Pengkhianat atau Pahlawan?

Oleh Ardian Je – Wartawan golagongkreatif.com

Katakanlah situasi dan kondisi hanya memberi kita dua pilihan. Pertama, kita harus membela atau berpihak kepada kelompok (keluarga, organisasi, partai, instansi, negara), meskipun kelompok kita benar-benar berada pada pihak yang salah. Kedua, kita harus membela atau berpihak kepada kebenaran.

Jika kita memilih yang pertama, secara otomatis kita akan menjadi pahlawan bagi kelompok kita yang salah itu. Tapi, jika kita memilih yang kedua, maka kita akan dicap sebagai pengkhianat bagi kelompok kita yang salah itu.

Essay: Muroja’ah Medium Transformasi Ilmu dari yang Tercatat Menjadi Tertanam

Wuriyanti – SMPIT Pesantren Qur’an Kayuwalang

Alqur’an berperan sebagai pedoman hidup dan falsafah yang mengatur kehidupan. Pun demikian, membaca dan mempelajari Alqur’an sangat dianjurkan bagi seorang Muslim. Tapi terkadang kesibukan membuat orang jarang untuk membacanya. Qur’an hanya dijadikan pemanis ruangan tanpa tersentuh apalagi dibuka. Tapi lain halnya dengan penghafal Qur’an, bahwa Alqur’an layaknya makanan yang harus dikonsumsi. Bahkan dalam situasi apapun Alqur’an seakan bergelayut di pelupuk mata. Menjadi bayangan yang tak dapat dilupa. Dari melek mata hingga menutup mata. Semenjak matahari terbit hingga malampun tiba. Kemalasan, keletihan dan kelelahan bukanlah hambatan. Semata-mata atas dalih kecintaan terhadap kalam Ilahi.  Oleh karenanya perlu perawatan agar tidak terlupa apalagi terbengkalai. >>> ke halaman berikutnya

Essay: Lelaku Puasa Kanjeng Nabi

Oleh Anas Al Lubab

Sulit dibayangkan, seorang Nabi dan Rasul, orang nomor satu kala itu, hidup sangat sederhana. Kemudahan akses koneksi dengan Allah dan para malaikat yang selalu stand by siap melayaninya, tak membuat Kanjeng Nabi jumawa dan manja. Beliau lebih memilih menjadi abdan nabiyya (nabi yang rakyat jelata) ketimbang mulkan nabiyya (nabi yang raja). Sungguh semakin kita berusaha merekam jejak kehidupan Kanjeng Nabi semakin kita malu sendiri. Entah sisi kehidupan Kanjeng Nabi yang mana yang telah berhasil kita tiru-teladani. >>> ke halaman berikutnya.

error

Enjoy this blog? Please spread the word :)