Merawat Jejak FLP: Kenangan, Nilai, dan Masa Depan Teenlit Islami

Oleh: Husni Magz (Guru Bahasa Indonesia dan Literasi SMP Imam Nawawi School)

Dunia remaja saya pernah berwarna oleh lembar-lembar novel tipis yang sampulnya sederhana, tetapi isinya menggetarkan. Buku-buku itu kebanyakan saya pinjam dari teman sekelas yang beruntung—orang tuanya guru yang mungkin saban pekan selalu membelikan anaknya buku. Dari sanalah saya pertama kali mengenal label “novel remaja Islami” yang disertai logo Forum Lingkar Pena (FLP). Kelas 8, kira-kira. Usia ketika imajinasi sedang liar-liarnya, tetapi jiwa masih mencari pegangan.

Sejak saat itu saya gandrung pada novel dan kumpulan cerpen para penulis FLP. Saya lebih sering meminjam daripada membeli. Uang saku terbatas, sementara keinginan membaca tak terbendung. Ada sensasi tersendiri ketika menyelesaikan satu novel dalam dua atau tiga hari, lalu mendiskusikannya diam-diam dengan teman yang sama-sama menyukai kisah cinta remaja yang “aman” dan berujung pada nilai-nilai islami yang membumi.

Bagi saya, buku-buku fiksi islami ala penulis FLP itu bukan sekadar hiburan. Ia menjadi ruang belajar tentang banyak hal, terutama soal batasan-batasan dalam pergaulan, tentang rindu pada Tuhan dan selusin tema lainnya. Teenlit ala penulis FLP jauh dari pakem cerita remaja yang tak lepas dari kisah cinta monyet atau cinta segitiga.

Beberapa tahun kemudian, ketika merantau ke Jakarta, saya menemukan kesempatan untuk mengoleksi buku-buku fiksi ala FLP saat menghadiri Islamic Book Fair 2010. Rasanya seperti bertemu kembali dengan kawan lama. Saya pulang dengan tas penuh novel dan kumcer, bahagia sekaligus bangga karena untuk pertama kalinya saya bisa membeli buku-buku itu dengan uang sendiri.

Kini, koleksi itu masih ada. Sebagiannya saya tinggalkan di rumah orang tua di Tasikmalaya, sebagian lain saya bawa ke perantauan di Bogor. Rak buku saya menjadi semacam museum kecil kenangan: novel remaja, kumcer, hingga buku nonfiksi karya para penulis FLP. Yang menarik, buku-buku itu tidak hanya berhenti sebagai memorabilia pribadi. Ia hidup kembali di ruang kelas.

Sebagai guru di sekolah yang belum memiliki perpustakaan, saya harus menenteng buku-buku itu setiap kali sesi membaca. Beberapa di antaranya saya jadikan bahan bacaan pilihan untuk anak didik. Ada dua alasan utama mengapa hingga hari ini saya masih mengandalkan fiksi karya penulis FLP sebagai bacaan untuk remaja di kelas.

Pertama, soal nilai. Bagi saya, fiksi FLP adalah semacam “jaminan mutu” dalam hal nilai-nilai Islam. Bukan berarti semua buku remaja di luar sana buruk. Saya justru sering menemukan novel remaja kontemporer yang secara teknik penulisan sangat kuat: plotnya rapi, karakternya hidup, dialognya natural. Namun, tidak sedikit pula yang memuat nilai-nilai yang bertabrakan dengan idealisme dan prinsip keislaman yang saya pegang.

Untuk pembaca dewasa, mungkin itu tidak menjadi soal. Kita sudah memiliki filter, sudah mampu memilah mana yang bisa diambil, mana yang perlu dikritisi. Tetapi untuk anak-anak dan remaja yang sedang berada di masa pembentukan karakter, seleksi bacaan menjadi krusial. Buku bukan hanya menyampaikan cerita; ia membentuk cara pandang, membangun nilai bahkan menyemai benih-benih ideologis.

Untuk buku-buku remaja umum, saya tidak berani memberikannya kepada siswa sebelum membacanya terlebih dahulu. Saya harus memastikan bahwa tidak ada adegan, dialog, atau nilai yang berpotensi membingungkan atau bahkan menormalisasi hal-hal yang belum semestinya mereka konsumsi. Sementara untuk fiksi yang ditulis para penulis FLP, meski belum sempat saya baca secara utuh, saya sudah kadung percaya. Bahkan beberapa novel yang menyasar pembaca dewasa pun tetap saya bawa ke kelas selama penulisnya berasal dari organisasi FLP. Ada rasa aman yang lahir dari rekam jejak komunitas tersebut.

FLP, yang didirikan oleh Helvy Tiana Rosa dan kawan-kawan pada akhir 1990-an, memang sejak awal memosisikan diri sebagai komunitas penulis yang mengusung nilai-nilai Islam dalam karya. Ia bukan sekadar organisasi kepenulisan, tetapi juga gerakan literasi dengan misi moral. Dalam konteks itu, label “novel remaja Islami” menjadi identitas sekaligus penanda posisi ideologis.

Alasan kedua lebih praktis: soal ketebalan buku. Fiksi ala penulis FLP era 2000-an rata-rata tipis, tidak terlalu tebal. Anak-anak di kelas saya cenderung lebih menyukai buku yang ramping. Berdasarkan pengalaman saya di kelas, banyak siswa yang enggan melirik buku tebal meski temanya menarik. Buku yang tebal sering kali tampak “menakutkan” di mata mereka, seolah-olah membaca adalah pekerjaan berat yang harus ditaklukkan.

Sebaliknya, novel tipis memberi kesan ramah. Ia bisa selesai dalam satu pekan. Bahkan ada yang mampu menamatkan satu novel dalam tiga hari. Siswa merasa berhasil, merasa mampu. Dari situlah kepercayaan diri ketika berinteraksi dengan buku akan mulai tumbuh. Bagi saya yang harus membawa buku-buku itu dari kelas ke kelas, ukuran yang mungil juga memudahkan. Tas saya tidak terlalu berat, dan saya bisa membawa lebih banyak judul.

Tentu saja, bukan berarti fiksi FLP sempurna tanpa cela. Dalam beberapa sesi membaca, saya kerap menemui kendala bahasa. Banyak istilah gaul remaja tahun 2000-an yang sudah asing bagi anak-anak sekarang. Mereka bertanya, “Ustadz, ini maksudnya apa?” atau “Kenapa tokohnya bicara seperti ini?” Ada pula istilah daerah dalam dialog yang tidak diberi keterangan arti kosakata. Saya harus menjelaskan konteks zamannya, bahkan terkadang menjadikannya bahan diskusi tentang perubahan bahasa dan budaya populer.

Kendala ini justru membuka ruang refleksi: bahwa sastra adalah produk zaman. Ia membawa jejak sosial, bahasa, dan tren yang melekat pada masa kelahirannya. Apa yang dulu terasa akrab dan kekinian, kini bisa terdengar kuno. Namun, di situlah letak pentingnya peran guru sebagai mediator teks.

Sayangnya, belakangan ini saya merasa fiksi remaja Islami ala penulis FLP seperti meredup. Entah benar-benar berkurang, atau saya yang tidak cukup mengikuti perkembangan. Dulu, identitasnya sangat jelas. Penerbit seperti Gema Insani Press mencantumkan label “Fikri—Fiksi Remaja Islami” untuk genre fiksi dan “Kado untuk Remaja” untuk nonfiksi. Lingkar Pena Publishing memiliki lini “Muda” yang konsisten menghadirkan novel para penulis FLP. Dar! Mizan pun selalu menuliskan “Novel Remaja Islami” di sudut kanan atas sampul.

Label itu memudahkan pembaca untuk mengidentifikasi. Ia menjadi penanda cepat di tengah lautan buku. Kini, label semacam itu jarang terlihat. Bisa jadi, strategi pemasaran berubah. Mencantumkan label tertentu mungkin dianggap membatasi pangsa pasar. Tidak semua pembaca tertarik pada buku yang secara eksplisit berlabel “Islami”. Pasar yang lebih luas menuntut kemasan yang lebih netral.

Dalam konteks ini, menarik menyebut karya-karya Tere Liye. Novel-novelnya yang populer di kalangan remaja dan dewasa muda sarat dengan pesan moral, nilai kesabaran, kejujuran, dan ketauhidan. Banyak di antaranya yang sangat Islami secara substansi, meski tidak memakai label “novel remaja Islami”. Ia membuktikan bahwa nilai tidak selalu harus hadir dalam bentuk simbol, istilah Arab, atau setting pesantren. Nilai bisa meresap melalui karakter, konflik, dan penyelesaian yang bermartabat.

Barangkali di sinilah tantangan sekaligus peluang fiksi Islami hari ini: bagaimana menghadirkan nilai tanpa terjebak pada simbolisme yang kaku. Bagaimana menjadi inklusif tanpa kehilangan identitas. Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan pembaca—terutama remaja—bukan sekadar label, melainkan cerita yang menyentuh dan relevan dengan kehidupan mereka.

Sebagai guru dan pembaca yang dibesarkan oleh fiksi FLP, saya tetap berharap akan lahir lebih banyak karya remaja yang kuat secara literer sekaligus jernih secara nilai. Dunia remaja hari ini jauh lebih kompleks dibanding dua dekade lalu. Paparan digital, media sosial, dan budaya populer global membentuk lanskap baru yang menantang. Di tengah derasnya arus itu, kehadiran bacaan yang tidak hanya menghibur tetapi juga menuntun menjadi semakin penting.

Mungkin, tugas kita bukan sekadar merindukan kejayaan label “novel remaja Islami”, melainkan mendorong lahirnya karya-karya yang berani bersaing di pasar luas tanpa kehilangan ruhnya. Jika dulu saya menemukan pegangan melalui logo kecil FLP di sudut sampul, semoga anak-anak didik saya kelak menemukan pegangan melalui cerita-cerita yang jujur, hangat, dan bernilai—apa pun labelnya.

Sebab pada akhirnya, yang kita rawat bukan hanya kenangan masa remaja, tetapi juga estafet nilai yang ingin kita titipkan pada generasi berikutnya lewat aksara dan literasi.

Tentang Penulis:

Husni Magz adalah seorang bibliofilia yang menyukai aroma kertas. Keranjingan menulis setelah jatuh cinta pada buku. Mencoba eksis di dunia aksara dengan menulis novel di platform. Sesekali menulis cerpen, artikel dan opini yang tersebar di berbagai media. Saat ini menjadi pengajar Mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Literasi di Imam Nawawi School Cibinong.

Bisa bersilaturahim dengan penulis di Instagram dengan akun @husni_magz atau Facebook dengan nama yang sama.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==