Oleh: Sckolastika Anggraini
Sejak membaca Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, saya berjanji suatu hari nanti akan menginjakkan kaki di Belitung. Gambaran pantai-pantai eksotis dalam novel itu selalu menghantui pikiran saya. Akhirnya, kesempatan itu datang.
Berbekal riset kecil-kecilan lewat Google, saya menemukan satu nama yang terus muncul: Pulau Lengkuas. Pulau kecil ini disebut-sebut sebagai ikon wisata Belitung, dan saya tak sabar untuk membuktikannya sendiri. Pulau Lengkuas terletak di utara Pantai Tanjung Kelayang, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung.

Saya menyewa mobil sebagai alat transportasi utama saya selama berada di Belitung. Tarif yang saya peroleh saat itu adalah 300 ribu rupiah per hari, plus 50 ribu rupiah untuk layanan antar-jemput dari dan ke bandara.
Karena sebagian besar waktu saya habiskan di kawasan Sijuk, saya memilih menginap di Hotel Santika Premiere Beach Resort Belitung, yang memiliki pantai pribadi. Tarif kamar biasanya berkisar antara 800 ribu hingga satu juta rupiah per malam. Namun karena saya berkunjung di bulan Desember yang merupakan high-season, maka saya mendapatkan rate kamar sekitar 1 juta rupiah termasuk sarapan.

Biasanya, perjalanan ke Pulau Lengkuas masuk dalam paket wisata island hopping—menjelajah beberapa pulau menggunakan perahu nelayan. Saya beruntung sekali karena pihak penyedia travel kendaraan yang saya sewa kebetulan juga memiliki usaha tour & travel sehingga saya sekalian saja memesan paket wisata Island Hoping.
Beberapa paket menawarkan makan siang, tetapi saya memilih untuk mencari makanan langsung di pulau. Dengan melakukan booking beberapa hari sebelumnya, saya memulai perjalanan dari Pantai Tanjung Kelayang, menempuh sekitar 20-30 menit perjalanan laut. Harga paket bervariasi, mulai dari 300 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung fasilitas dan jumlah peserta.

Saya beruntung mendapatkan harga 500 ribu. Dengan harga tersebut, saya sudah mendapatkan fasilitas perlengkapan snorkeling. Satu perahu memiliki kapasitas maksimal 9 orang dan saat itu saya berwisata dengan 3 orang lainnya.
Sebelum ke Pulau Lengkuas, saya sempat singgah di Pulau Pasir, Pulau Batu Berlayar, dan Pulau Garuda. Karena Desember adalah musim hujan, maka ketika saya mengarungi laut menuju Pulau Lengkuas, arus laut lumayan kencang.
Beberapa pulau hanya bisa saya nikmati dari atas perahu tanpa turun ke darat karena perahu yang saya naiki kesulitan menambatkan jangkar. Namun, begitu tiba di Pulau Lengkuas, rasa takjub langsung mengalahkan segalanya.
Saya menyusuri pantai, mengabadikan setiap sudut dengan kamera, sebelum akhirnya bersiap untuk snorkeling. Ternyata benar, pulau ini adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Setiap sudutnya sangat instagramable.
Berada di Pulau Lengkuas rasanya seperti masuk ke dalam wallpaper destinasi wisata—tanpa perlu filter, tanpa editan. Langit biru membentang luas, air laut sejernih kristal dengan gradasi toska, pasir putih bersih, dan pohon kelapa yang melambai-lambai. Di sela-sela pemandangan itu, batuan granit raksasa menambah kesan eksotis. Pulau ini benar-benar surga kecil di bumi.

Di tengah pulau, berdiri gagah sebuah mercusuar putih peninggalan Belanda sejak 1882. Dengan tinggi sekitar 52 meter dan 18 lantai, mercusuar ini masih aktif hingga kini sebagai pemandu kapal. Dulu, wisatawan bisa naik ke puncaknya, tetapi kini aksesnya ditutup demi alasan keamanan dan konservasi.
Meski begitu, pesonanya tetap luar biasa. Dari bawah, mercusuar ini tampak begitu kontras dengan langit biru cerah dan pepohonan hijau yang mengelilinginya. Saya membayangkan bagaimana para penjaga mercusuar dulu menaiki tangga spiral yang tinggi setiap harinya, dengan angin laut yang kencang bertiup di sekitar bangunan kokoh ini.

Namun, pesona Pulau Lengkuas tak hanya ada di darat. Justru, keajaiban sesungguhnya tersembunyi di bawah lautnya. Snorkeling di sini adalah pengalaman yang wajib dicoba. Untuk snorkeling, kami kembali naik perahu dan menuju lokasi terbaik berdasarkan arahan pemandu.
Ketika berada di dalam air, saya seperti berenang di akuarium raksasa, dikelilingi ikan-ikan warna-warni yang menari di antara terumbu karang. Jika pernah menonton Finding Nemo, jangan kaget kalau bertemu ikan yang mirip Dory di film itu! Airnya yang tenang membuat snorkeling di sini aman, bahkan untuk pemula termasuk anak-anak.

Tip sederhana: bawa roti tawar untuk menarik ikan-ikan kecil agar berkumpul lebih dekat.
Sekitar satu jam saya menikmati pesona bawah laut sebelum kembali ke darat untuk bilas dan berganti pakaian. Perut mulai keroncongan. Saya mencari makan dan baru menyadari alasan mengapa paket tur menyediakan makan siang—karena di Pulau Lengkuas tidak ada restoran besar!
Hanya ada beberapa warung sederhana yang menjual makanan khas Belitung seperti sate ikan, cumi bakar, gangan (sup ikan khas Belitung), serta mi instan. Harga makanan bervariasi, mulai dari 25 ribu hingga 150 ribu rupiah, sementara kelapa muda segar dihargai sekitar 20 ribu rupiah. Tip penting: bawa uang tunai secukupnya, karena tidak semua penjual menerima pembayaran digital.

Setelah makan siang, saya kembali menyusuri pulau, menikmati suasana yang lebih sepi. Menjelang sore, kami kembali ke Pantai Tanjung Kelayang. Sepanjang perjalanan, saya berbincang dengan pemandu wisata yang juga seorang nelayan. Ia berbagi banyak cerita menarik tentang pulau-pulau di sekitar Belitung.
Katanya, waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat musim kemarau. Namun, saya cukup beruntung karena meskipun datang di bulan Desember, cuaca saat itu sangat cerah.
Pulau Lengkuas memang tak memiliki fasilitas penginapan atau restoran permanen. Wisatawan yang berkunjung biasanya membawa bekal sendiri. Pada musim liburan, ada beberapa pedagang yang menjual makanan dan minuman, tetapi stok dan harga bisa berubah tergantung musim.
Satu hal penting yang saya pelajari dari perjalanan ini: menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan itu mutlak. Saya selalu membawa kantong plastik untuk sampah sendiri, dan saat snorkeling, saya berhati-hati agar tidak menginjak terumbu karang. Laut yang indah ini adalah warisan untuk generasi mendatang.

Saya mendengar cerita dari pemandu saya bahwa dulu banyak bintang laut di pantai-pantai pulau di Belitung. Namun lama kelamaan jumlah bintang laut yang tampak di permukaan semakin sedikit jumlahnya. Ternyata, wisatawanlah yang membuat populasinya terancam. Bintang laut sesungguhnya tidak boleh dipegang karena dapat merusak organ internalnya dan mengancam keselamatannya.
Namun sejak adanya media sosial, para wisatawan seolah tidak memedulikan hal ini. Mereka sembarangan menyentuh, memegang, bahkan mengangkat bintang laut hanya untuk dijadikan objek foto untuk diunggah ke media sosial. Alangkah menyedihkannya!
Tidak terasa saya sudah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di pulau indah ini. Akhirnya saya pun memutuskan untuk kembali pulang. Perjalanan ke Pulau Lengkuas benar-benar pengalaman yang tak terlupakan.
Suatu hari nanti, saya pasti akan kembali. Untuk kalian yang belum pernah ke sini, saatnya menabung dan merencanakan perjalanan ke surga tersembunyi ini. Pulau Lengkuas adalah tempat sempurna untuk sejenak melarikan diri dari rutinitas dan menikmati keindahan alam yang luar biasa.
Sckolastika Anggraini



