Di Pedalaman Thailand Utara

Ini foto thaun 1990. Belum ada internet. Belum menggunakan Google maps. Di belantara Thailand Utara. Saya ingat naik bus bersama traveler mancanegara dari chiang May ke Chiang Rai, tujuannya ke Laos. Tiba-tiba saya berteriak, “Stop!” Bus berhenti.

Saya turun dari bus. Ada jalan tanah menuju perbukitan. Bismillah, saya jalan kaki seperti di Baduy, Banten Selatan. Melewati bukit, persawahan, mirip sekali seperti di lokasi film Rambo yang diperankan Sylverter Stalone.

Saya ingat tiba di sebuah desa menjelang maghrib. Semua orang memandang saya. Mereka memegangi tangan kiri saya yang buntung. Saya menggambar peta ASEAN di tanah. Saya jelaskan lokasi tempat tinggal saya. Mereka kagum.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Pesan Bapak: Bertualanglah…

Pesan Bapak, “Kalau kita menyelenggarakan pameran lukisan, pasti berharap orang banyak datang. Atau membngun rumah, kita undang orang-orang agar datang melihat ryumah kita. Begitu juga Tuhan yang menciptakan semesta raya ini. Tentu Tuhan pun ingin ciptaannya dilihat kita. Maka, pergilah dari rumah, bertualnalah. Kamu jangan seperti katak dalam tempurung.”

Pesan Bapak yang lain, “Bertebaranlah di muka bumi. Datangi seluruh penjuru bumi. Temui saudara-saudaramu dari berbagai suku bangsa. Beri mereka senyuman. Tebarkan bahasa perdamaian.” Bapk kini sudah 13 tahun meninggalkanku, menghadap-Nya. Tepatnya 15 Desember 2007 Bapak wafat. (Gol A Gong)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Azhar Adhiwibowo: Gara-gara Roy, Aku Berani Bertualang!

Roy! Dari dirimulah akhirnya aku berani avontur. Menumpang ke mobil bak sampai ke kapal, naik gunung, camping, air terjun, cinta dalam perjalanan haha, jalanan-jalanan sepi. Lalu ikutan suka jins dan jaket denim lalu flanel lalu ransel lalu warna biru, aaaa.Sekarang aku lagi gowes, Roy. Bersepeda mengelilingi Sulawesi. Dan aku merasa cukup pd karena aku yang bakal mewujudkan kepinginanmu ke Tana Toraja, hahaha. Salam ke Joe, Roy!

*) Foto: Bowo paling kiri, sejak Oktober bersama Komunitas Omah Jangan Diam Terus nge-gowes sepeda menyusuri Sulawesi. Bowo paling kiri

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Jika traveling ke Singapura, Cobain Sholat Subuh di Masjid Abdol Gafoor Little India

Apa yang akan Anda lakukan jika sedang traveling? Tentu kuliner, shoping, city tour, dan menikmati kulinernya. Jika semua itu sudah kita lakukan? Apa lagi? Biasanya saya menikmati cita rasa seninya dan kehidupan beragamanya. Nah, jangan jauh-jauh dulu, traveling ke Singapura dulu, deh. Jangan anggap traveling ke Singapura itu mahal, ya. Malah leih murah daripada traveling ke Bali atau Papua.

Biasanya setiap traveling, saya memaksakan diri harus sholat subuh di masjid kota itu. Ternyata di Singapura yang sering kita anggap liberal, kehidupan beragamanya indah dan tenang. Di depan setiap masjid, selalu ada hotel. Mau yagn kelas backpackers hotel (Rp. 250 ribu) juga ada. Di Singapura saya sudah sholat di hampir semua masjidnya. Di Masjid Sultan (1826) Kampung Bugis, Masjid Fatimah (1846) di kawasan Geylang, Masjid Jamie atau Chulia (1826) di China Town, Masjid Angolian (Little India),

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Mimpi Keliling Dunia Bersama Istri

Aku pernah berjanji kepada istriku sebagai mas kawin pernikhaan: akan membawanya keliling dunia. Mungkinkah? Insya Allah! Itu adalah cara mensyukuri semesta ciptaan-Nya. Aku bukan orang kaya, tapi aku bekerja dan menabung. Allah menciptakan alam raya ini untuk kita. Aku harus bertamu ke negara-negara di dunia ini, bersilaturahmi kepada seluruh umat manusia membawa pesan perdamaian.

Alhamdulillah, sudah 10 negara; Singapura, Malaysia, Thailand, India, UEA, Qatar, Arab Saudi, Kamboja, Hong Kong, dan Korea. Aku sendiri sudah 20 negara. Di antara kesibukanku bersama relawan Komunitas Rumah Dunia menggelorakan “iqra dan qalam” (membaca dan menulis), semoga Allah SWT memberiku umur panjang, waktu dan rezeki, agar bisa terus menjelajahi bumi ini.

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Porterku Sayang

Sebelum Jonan jadi Direktur PT KAI, stasiun jadi tempat berburu ide cerita yang menarik. Porter, tukang nasi bungkus, tukang semir sepatu, pengemis, bahkan tukang tipu juga berseliweran. Sekarang sudah tidak bisa lagi. Jika tidak punya tiket, jangan harap bisa masuk ke peron. Apalagi tidur di bangkunya, seperti yang pernah saya lakukan saat backpacking di era 1980-1990-an.

Nasib porter di stasiun masih ada, terutama di Gambir. Jika saya traveling naik kereta dan pulangnya membawa barang banyak, saya tidak khawatir. Porter selalu siap sedia membawakan barang-barang saya ke taksi. Bagi saya, porter adalah profesi. Di belakang porter ada keluarga yang harus dinafkahi. Itu sebab setiap berpergian, saya upayakan mencari porter. Profesi ini harus kita support, agar mereka tetap bersemangat bekerja.

Tapi sekarang di era Jokowi bandara Soekarno – Hatta, para porter tidak mau lagi menerima bayaran. Saya paksa juga tidak mau. Itu bagian dari pelayanan bandara, kata mereka. Di beberapa bandara setingkat provinsi, porter masih ada. Mereka sudah menyambut kita di pintu terminal kedatangan. Sisihkan sekitar Rp. 25 ribu – Rp. 50 ribu, mereka akan tersenyum bahagia. Itulah sharing ekonomi. Semoga profesi ini tidak hilang. Jika porter kita pertahankan, itu sama dengan kita mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan. (Gol A Gong)

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5

Nasi Pecel Mojokerto, Uenak Tenan

Indonesia ini kaya akan kulinernya. Itu sebabnya jika traveling, saya sudah tidak bisa taat lagi dengan diet. Larangan makan ini-itu, ah, bismilah saja. Asalkan tidak berlebihan, ya! Rasa lidah ini menagih-nagih terus cita rasa kuliner setempat.

Nah, misalnya jika ke Jawa Timur, ada 2 jenis makanan yang selalu mengundang selera. Yaitu nasi rawon dan nasi pecel. Saya jatuh cinta pada kuliner nasi pecel di Mojokerto ini. Tepatnya nasi pecel Madiun dan sambal tumpang hajjah Sarkiyah, Jl. Pahlawan no 1. Dari stasiun Kereta ke Timur. Ayam kampungnya, uenaaaaak tenan.

Saya diajak kulineran ke sini oleh guru-guru dari MAN Kota Mojokerto bersama Pak Sahroni, Kepala Sekolah SMK Brawijaya an Agus Pramono. Kalau ibu-ibu suka kalap jika berada di toko souvenir, kalau saya suka kalap jika kulineran. Seperti di Mojokertyo ini, saya nambah dan malu-malu bertanya, “Boleh nambah lagi brutu ayamnya, Pak?” Oh, boleeh. (Gol A Gong)

#kuliner
#nasipecel
#mojokerto 

Please follow and like us:
error1
fb-share-icon0
Tweet 5