Oleh : Eka Herlina
Ingatan saya tentang pantai Ao Nang adalah ketenangan yang menyenangkan
Melewati satu dekade sejak perjalanan solo traveler pertama kali ke luar negeri dengan negara tujuan Thailand memberi ruangan cerita tersendiri dalam ingatan ini. Itu kenapa ketika seorang teman mengajak liburan ke Bali, saya justru mengalihkan ke Krabi, Thailand Selatan.
“Bagaimana kalau kita ke Krabi,” cetus saya saat melakukan Google Meeting bersama teman tersebut. Bukan tanpa alasan, persoalan budget adalah masalah terbesar bagi saya untuk mengunjungi Bali; Jujur saya ingin merasakan perjalanan ke Bali mengingat kaki saya belum pernah menginjak pulau dewata tersebut.
Yup, tinggal di Sumatera saya harus melakukan penerbangan transit dulu ke Jakarta, dan kita sepakat bahwa tiket domestik Indonesia terbilang mahal. Katakanlah tiket penerbangan Padang – Jakarta – Padang itu sekitar dua jutaan, sementara dengan harga segitu saya sudah bisa menempuh perjalanan Padang – Kuala Lumpur – Krabi- Kuala Lumpur – Padang.

Terlepas dari persoalan budget, sebenarnya saya rindu perjalanan keluar negeri – perasaan terjebak keterasingan dan keterbatasan bahasa –, dan tentu saja rindu ketenangan Ao Nang, Krabi.
here we go!
Ao Nang Beach, Krabi dan Ingatan Sepuluh Tahun Lalu yang Menguap
Krabi salah satu Provinsi di Thailand Selatan yang mungkin tidak sepopuler Phuket – dan itulah yang menjadi alasan saya mengunjungi Ao Nang Beach di Krabi pada 2016 lalu sebagai destinasi.
Jika sepuluh tahun lalu saya mendatangi Ao Nang dengan perjalanan darat dari Bangkok, namun kali ini cukup fancy menggunakan pesawat. Terminal kedatangan Krabi International Airport terbilang cukup sederhana dan tidak terlalu ramai.

Saya langsung berjalan ke pusat informasi, menanyakan akomodasi paling murah menuju Ao Nang Beach. Petugas langsung mengarahkan ke arah pintu keluar dan saya menemukan sebuah minivan yang siap mengantar hingga tujuan, dan harganya terbilang tidak terlalu mahal yaitu 150 Baht per orang.
Dari balik jendela mobil saya melepas pandang menikmati suasana kota Krabi nan tenang serta sederhana dan … masih menyisakan kesan suasana sepuluh tahun lalu akan kota kecil tersebut ; sunyi menenangkan.
Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, saya ingin menikmati Ao Nang dengan santai tanpa terburu – buru menjelajahi setiap sudut area Ao Nang. Jika sepuluh tahun lalu, saya hanya sempat menghabiskan dua hari di Ao Nang, kali ini saya meluangkan waktu lima hari dengan menyisakan satu hari di Krabi Town.
Ao Nang kali ini benar – benar berbeda, dan terasa suasana turisnya dengan banyak wisatawan asing dari berbagai negara – mengenakan pakaian terbuka dan lalu lalang menelusuri jalanan pertokoan Souvenir yang makin marak di Ao Nang.

Sepuluh tahun lalu, saya menemukan Ao Nang nan sepi dengan dipenuhi mayoritas wisatawan Asia – kali ini benar – benar beragam. Tentu toko Souvenir tidak sebanyak sekarang. Kali ini membawa pada kesan yang berbeda serta benar-benar asing.
Sore menjelang senja, alih – alih menyaksikan sunset nan indah, kala siluet senja tertutup awan mendung, kami menghibur diri dengan menikmati atraksi kobaran api yang saya sendiri tidak tahu namanya dengan iringan dentuman musik keras.
Ao Nang kali ini benar – benar menguapkan ingatan saya soal ketenangan sepuluh tahun lalu, tergantikan dengan suara riuh dan keriangan memecah kehidupan hingga malam tiba.
Melawan Ketakutan di Laut Andaman
Traveling bukan saja ssoal keindahan destinas semata. Ada kalanya bayangan keindahan dan ketenangan yang diharapkan justru dihancurkan dengan realitas yang menyisakan traumatik sendiri. Dan, itulah yang terjadi dengan kami saat tour hopping island di laut Andaman kali ini.

Sepuluh tahun yang lalu saya tidak sempat memilih paket tour ke Phi Phi Island, maka kali ini saya memanfaatkan kesempatan untuk bisa mengikuti paket tersebut.
Namun, sayangnya alam tidak bersahabat dengan harapan kami. Pagi itu Ao nang diguyur hujan lebat. Ada kekhawatiran di benak saya, hingga pertanyaan soal keamanan kerap saya lontarkan ke tour guide.
“It is raining now, it is safety for us?”
Tour guide menyakinkan bahwa aman dan awak kapal Speedboat sudah berpengalaman. Kami menaiki Speedboat dengan rombongan tour berjumlah sekitar 30 an orang.
Ditengah hujan yang belum jua reda tour tetap berjalan. Speedboat melaju melawan gelombang ombak yang masih bisa dikatakan cukup tenang meskipun beberapa kali menghantam kuat badan kapal dengan kuat.
Saya dan teman saya benar – benar menikmati jelajahi pulau meskipun badan menggigil kedinginan yang mengurungkan niat kami untuk snorkeling dan berenang di laut nan hijau.

Kami berhenti di Phi Phi Island untuk istirahat sejenak sekaligus makan siang. Dan, jangan khawatir soal kehalalan makanan yang disiapkan oleh pihak tour. Ada dua jenis makanan yang disediakan di restoran dengan konsep prasmanan yaitu ; makanan vegan dan makanan tradisional Thailand yang terjamin halalnya.
Pasalnya, Thailand Selatan banyak dihuni oleh muslim sehingga kehalalan makanan menjadi hal yang dijaga oleh mereka termasuk keberadaan tempat ibadah sholat.
Dan, nikmatnya makanan dari rangkaian perjalanan tour terlupakan saat kami harus menghadapi badai dalam perjalanan pulang. Untuk pertama kalinya saya merasa ketakutan yang luar biasa ; seolah kematian terasa dekat.
Saya pergi di bulan November yang merupakan peak seasons, namun secara bersamaan ternyata saya tidak menyadari peringatan cuaca di laut Andaman, Krabi kala itu. Dentuman kapal benar-benar keras setiap kali menghadang gelombang ombak tinggi. Awalnya, bagi peserta tour yang didominasi oleh western terasa seru karena memacu adrenalin.
Tapi tidak dengan saya, mulut ini tidak berhenti berdzikir, meminta keselamatan … dosa saya masih menggunung. Bayangan speedboat terbalik menghantui saya dan headline berita soal ada turis WNI sebagai korban muncul di benak ini.
Saya kalut, refleks saya meminta life jacket yang tersimpan di bawah tempat duduk turis India sebelah saya. Saking paniknya saya menggunakan bahasa Indonesia yang membuat turis tersebut mengernyit dahi.

Alhamdulillah, kami berhasil selamat mendarat kembali ke pantai Ao Nang. Ada kelegaan peserta tour – mereka juga cemas, hanya saja tidak sepanik saya.
Malamnya, teman saya mengungkapkan kepanikan yang dirasakan dalam perjalanan tour pulau tersebut.
“Gila, menghadang maut. Ah nggak lagi-lagi gue ikut tour gituan, mending santai di hotel, berenang, nggak capek gini. Itu baru healing,” ujarnya.
Ya, semakin usia menua, terkadang yang dibutuhkan dari perjalanan sebenarnya berhenti sejenak di tempat yang nyaman dan tenang. Itu saja sudah cukup!



