Puisi Esai Gen Z: Trunojoyo Bergerak ke Barat Karya Achmad Sudiyono Efendi

Puisi Esai Gen Z – Karya Achmad Sudiyono Efendi – Program Studi Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta

Trunojoyo (asal Madura), didukung prajurit Makassar, memimpin pemberontakan terhadap raja Mataram (Amangkurat I dan Amangkurat II) pada 1674 – tahun 1677. Mataram luluh lantak, Amangkurat I dan Amangkurat II melarikan diri. Trunojoyo meninggalkan Mataram menuju Kediri. Selepas Amangkurat I wafat, Amangkurat II bekerja sama dengan VOC memburu Trunojoyo untuk mendapatkan kerajaannya kembali. Trunojoyo pun ditangkap dan dieksekusi oleh Amangkurat II. Puisi esai ini berangkat dari cerita pemberontakan Trunojoyo.

1

Selempang merah melilit kepalamu.
Sabuk trembesi kudu dilucuti di tanah ini
yang menghubungkan antara dusta dan duka?!

Musabab berabad-abad
nafsu Amangkurat membakar pulau ini.
Keringat orang-orang diperas.
Lekas kulit mengelupas.
Jantung dipaksa berdetak cepat
—lamat-lamat retak.

Setiap waktu,
nelayan-nelayan digentayangi ketakutan.
Tak ada yang lebih lengking dari suara kematian.
Tak ada yang lebih mencekam dari tarian pertarungan.
Sedang harapan-harapan yang disusun malam-malam
Tidak ada yang berumur panjang.

Sekarang siapa penjajah dan siapa penjarah?
Meminum darah saudara dalam perut penuh
untuk memperpanjang nyawa?
Kau ialah ular yang terkepung mata elang,
dan satu-satunya jalan hidup
hanya memasuki celah lubang batu
: sembari merancang siasat.

Kau pun sebenarnya tak tahu,
harta apa yang pulau ini miliki?
Selain garam, keterasingan,
dan kekeringan yang berkepanjangan?
Mungkin benar, mungkin tidak,
katanya surga terkubur di bukit dan di dasar laut.
Dongeng-dongeng usang itu landas
bersama prajurit Mataram.

Tetapi api belum besar di dadamu,
ia masih berupa bara.
Di tengah laut sana,
sampan-sampan nelayan
tenggelam dalam pandang.

Petuah berkata: layang nyawa, mula petaka!

“Akan aku guncang tiang istana Mataram
sampai atap dan mahkotanya jatuh
di bawah kakiku.
Lalu kepala prajurit dan Amangkurat
kujadikan undakan rumahku,”
kata Trunojoyo menggetarkan dada.

Sekarang siapa yang menggigil dan mengigit jari?
Kau diam-diam menyelinap
ke kepala Amangkurat
: bersemayam dalam mimpinya.
Kau kalap. Amangkurat kelelap.

Mataram karam.
Tiada pilihan selain serah nyawa
atau kemis ke Belanda.
Mungkin mati dipasung lebih agung,
daripada jaya dengan menggadai baju istana.

2

Ke gunung Kelut
: kau lari menunggangi angin
membawa kemulut
yang merambati urat.
Sedang hidung senapan
masih memburu
dan mengendus jejakmu.
Waktu merangkak maju,
melaju kitari kepalamu.

Sekarang,
Kau bersekutu dengan sepi.
Di luar sana
merpati mengirim semboyan pembebasanmu.
Kau keluar dari sarang sunyi.
Dan menakar rata antara geming gamang
dan kebenaran. Sebab tidak ada yang kau percaya
selain kata hatimu
yang menuntun jalan tuju Mataram.

Di pintu istana,
nyawamu ditodong.
Nyalimu tiarap.
Tanganmu menunjuk langit
lalu menunjuk bumi.

Dari apa masa depan dirajut?
Dari tali kebohongan?
Atau nyali ketakutan?

Yogyakarta, 2024

REFERENSI
https://yogyakarta.kompas.com/read/2023/06/22/201957078/pemberontakan-trunojoyo-penyebab-kronologi-dan-dampak?page=all
https://intisari.grid.id/read/033748489/kisah-trunojoyo-pemberontak-dari-madura-yang-hampir-menggulingkan-mataram

TENTANG PENULIS: Achmad S. Efendi atau Achmad Sudiyono Efendi lahir dan besar di pesisir pantai utara, Pamekasan, Madura. Tulisan artikel, cerpen, dan puisinya beberapa kali tayang di media cetak dan digital, serta mendapatkan penghargaan di perlombaan skala lokal dan nasional. Ia alumni di Program Studi Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta. Sekarang aktif dan belajar di Kelompok Belajar Sastra Jejak Imaji.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==