Puisi Esai Gen Z: Ratapan Sunyi dari Rumah yang Lupa Pintu Karya Faloma Yesika

Puisi Esai Gen Z Karya Faloma Yesika – Mahasiswi Administrasi Publik FISIP Unsoed

(Rabu, 13 Oktober 2023 lalu kisah tragis menimpa seorang anak berusia 13 tahun. Namanya Muhammad Rauf, seorang anak yang dibunuh ditangan ibu kandungnya sendiri dan mirisnya kakek serta pamannya turut andil dalam penghilangan nyawa Rauf. Ia adalah anak korban Broken home yang sempat hidup menggelandang dan dikeluarkan dari sekolah. Ia dikenal badung dan nakal karena suka mencuri, itu adalah bentuk perlawannya kepada dunia yang tak pernah mau mendengar jeritnya. Kisah Rauf ini menambah daftar hitam kekerasan terhadap anak. Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak hingga Maret 2025 sebanyak 38 kasus kekerasan terhadap anak yang ditangani olek Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak.)

oOo

I.
Di pangkal malam yang remuk dan retak,
angin bersyahdu dalam lirih gelap,
serupa nyanyian arwah yang tak sempat hendak,
di rumah tanpa peluk, tanpa arah, tanpa harap.

Rumah itu berdiri seperti candi murka,
disumpahi sepi dan gelegak muram,
pintu-pintunya tak bicara bahasa cinta,
hanya dengus dendam dan sabda kelam.

II.
Di sanalah Rauf lahir, sekuntum cahaya,
dari rahim ibu yang tak sempat jadi rembulan,
dibesarkan hujan, dibalut derita maya,
di gubuk di mana kasih hanyalah bayangan.

Ayah pergi, meninggalkan nama tak utuh,
ibunya tinggal, namun jiwa mengering,
mereka yang hidup, tapi mencabut peluk,
dan menjadikan Rauf hanya benda asing.

III.
Ia bukan anak nakal, bukan durhaka,
hanya bocah mencari makna di reruntuh cinta,
mengetuk jendela, menengadah pada senja,
menanti tangan yang menjahit luka.

Namun sang ibu—wahai Ibu, kenapa kau gersang?
Di tanganmu cinta berubah senjata,
kau kirimkan anakmu ke liang terang,
dengan ikatan, bambu, dan luka kepala.

IV.
Kakeknya—Warim—renta bertangan keriput,
namun cengkeramannya dingin dan kuat,
bukan doa yang ia lantun di mulut,
melainkan sabet kayu dan gergaji terkatup erat.

Pamannya—Suganda—tak berjiwa pamomong,
tali yang kau ikat bukan sekadar simpul,
tapi jerat atas hidup yang remuk,
seperti menanam bayang dalam tanah lumpur.

V.
Rauf diangkat dari tanah menuju irigasi,
diseret malam oleh mereka yang bernama darah,
di pinggir saluran ia menghembus nafas basi,
terikat, membiru, dengan luka yang parah.

Air mengalir membawa kisah,
tubuh mungilnya terbaring, tak bersuara,
ia mati—bukan oleh maut semata,
tapi oleh cinta yang lupa bagaimana cara.

VI.
Wahai semesta, tuliskan ini dalam kitab langit:
“Rauf, anak kecil yang tak sempat dewasa,
dibunuh bukan karena ingin,
tapi karena dunia tak sudi mendengarnya bicara.”

Ia tak pernah menuntut surga,
hanya ingin rumah yang tahu cara memeluk,
tempat kasih tak jadi luka,
dan tangan bukan untuk mengancuk.

VII.
Broken home bukan takdir,
tapi warisan dari hati yang patah namun tak disulam,
jika cinta menjadi racun getir,
maka anak-anak hanyalah korban diam.

Bila kau seorang ayah—jangan hilang bagai kabut,
jadilah pulang, bukan sekadar alamat.
Bila kau seorang ibu—hapuskan amarah yang menyusut,
dan kenang bahwa rahimmu adalah matahari yang hangat.

VIII
Kini Rauf tidur, dalam gendongan tanah permai,
di mana bintang tak pernah memukul,
di sana, malam tak lagi mengintai,
dan Tuhan menyapanya dengan suara lembut penuh peluk.

Di pusaranya tertulis sajak:
“Ia gugur karena dunia terlalu ramai untuk mendengar,
dan rumah terlalu sempit untuk memaafkan.
Namun ia tumbuh kembali—di surga, dalam mekar.”
Banyumas, 11 Juni 2025

oOo

Catatan Kaki
https://www.detik.com/jabar/berita/d-6972510/anak-yang-tewas-ditenggelamkan-ibu-korban-
broken-home-ini-kata-lpa

https://www.antaranews.com/berita/4794285/hingga-maret-2025-kemenpppa-tangani-38-
kasus-kekerasan-terhadap-anak#google_vignette

https://regional.kompas.com/read/2023/10/07/160100878/pembunuhan-anak-13-tahun-di-
subang-oleh-ibu-kandung-paman-dan-kakek-ikut?utm_source=chatgpt.com

oOo

TENTANG PENULIS: Faloma Yesika, mahasiswi Administrasi Publik FISIP Unsoed, adalah sosok yang memadukan logika birokrasi dengan kepekaan seni. Ia gemar melukis, menulis, dan bernyanyi menciptakan dunia paralel di tengah hiruk pikuk akademik. Sebagai penyuka tempat sunyi, ia kerap membaca dan menulis puisi di sela-sela waktu luangnya, menjadikan sastra sebagai rumah bagi jiwanya yang penuh rasa. Ia seorang ekstrovert yang tak canggung mencintai sunyi, sekaligus introvert yang tahu cara hadir di tengah keramaian. Yupi adalah teman setianya manisan kecil yang ia percaya bisa menguatkan langkah, bahkan saat dunia terasa terlalu besar untuk dihadapi.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==