Oleh Djoko ST
PADA awal abad ke-20, Balai Pustaka menjadi institusi utama dalam membentuk peta sastra Indonesia. Ia bukan hanya penerbit, tetapi juga kurator kebudayaan, yang menentukan karya mana yang layak disebarkan ke masyarakat.
Namun, di balik peran pentingnya, Balai Pustaka juga menjadi simbol kontrol. Sensor kolonial menyaring ide-ide radikal. Ini menjadikan sastra sebagai alat penyuluhan, bukan pembebasan.

Transformasi Media Sastra: Dari Koran ke Wattpad
Dari era Balai Pustaka itu, ruang publik sastra di Indonesia kemudian melewati berbagai fase—mulai dari platform koran, majalah, panggung pembacaan puisi, hingga akhirnya hari ini, yaitu platform digital seperti Wattpad, Medium, maupun Instagram.
Platform-platform tersebut membuka keran selebar-lebarnya. Siapa pun bisa menulis. Siapa pun bisa dibaca. Tidak perlu ada restu dari redaktur atau editor. Demokratisasi sastra terjadi seluas-luasnya.
Sayangnya, demokratisasi ini tidak selalu seiring dan sejalan dengan kualitas. Di sinilah tantangannya. Maka, tanya pun mengapung: apakah kita sedang menyuburkan kreativitas, atau malah menumpuk kebisingan?

Dalam konteks ini, mungkin kita perlu melihat konsep ruang publik seperti yang dikemukakan oleh Jürgen Habermas. Menurut Habermas, ruang publik adalah arena diskursif tempat warga negara berdialog secara rasional untuk membentuk opini bersama.
Nah, jika sastra adalah bagian dari ruang publik, maka perubahan medianya mempengaruhi kualitas dialog itu sendiri. Apakah pembacaan mendalam masih mungkin ketika karya sastra diselipkan di antara iklan dan video kucing lucu?
Ledakan Sastra Wattpad
Wattpad, misalnya, memungkinkan jutaan cerita diunggah tanpa proses penyuntingan profesional. Pembaca menjadi juri utama. Popularitas mengalahkan ketajaman.
Namun di sisi lain, platform ini memberi ruang bagi mereka yang selama ini tak punya akses. Remaja dari kota kecil bisa menulis dan dibaca oleh ribuan orang, sesuatu yang nyaris mustahil pada era Balai Pustaka.

Data resmi dari Wattpad menyebutkan bahwa platform ini memiliki lebih dari 90 juta pengguna aktif bulanan di seluruh dunia. Angka ini dikonfirmasi dalam berbagai laporan perusahaan, termasuk saat akuisisi oleh Naver Webtoon dan dalam rilis media hingga akhir 2021. Platform yang awalnya berbasis di Kanada ini telah berkembang menjadi ekosistem digital global tempat jutaan pengguna membaca dan menulis cerita dalam berbagai genre dan bahasa.
Menariknya, Indonesia kini menempati posisi sebagai salah satu pasar terbesar dan dengan pertumbuhan tercepat untuk Wattpad. Berdasarkan data lalu lintas web dari platform analitik seperti Ahrefs dan SimilarWeb, sekitar 10 hingga 11 persen pengguna Wattpad berasal dari Indonesia. Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu kontributor utamam—baik dari sisi pembaca maupun penulis—di panggung sastra digital global.

Tingginya partisipasi ini mencerminkan antusiasme besar generasi muda Indonesia terhadap literasi digital, khususnya dalam bentuk cerita-cerita naratif yang mudah diakses lewat gawai. Genre seperti romantis, horor, dan fanfiction menjadi yang paling dominan. Hal ini menandakan adanya kebutuhan luas untuk menyalurkan imajinasi dan ekspresi personal melalui medium digital.
Paradoks Kuantitas vs Kualitas
Namun, antusiasme tersebut juga menghadirkan paradoks. Semakin banyak yang menulis, semakin sulit menemukan karya yang benar-benar bermakna secara artistik maupun sosial. Banyak karya cenderung mengedepankan hiburan instan tanpa kedalaman estetika atau kritik sosial yang tajam. Dalam konteks ini, kurasi menjadi tantangan utama—bukan sekadar memilih mana yang layak dibaca, tetapi juga mendefinisikan kembali standar kualitas dalam ekosistem sastra digital yang sangat terbuka dan masif.
Dulu, redaktur majalah sastra bertindak sebagai penyaring kualitas. Sekarang, algoritma dan jumlah likes sering kali mengambil alih fungsi itu. Akibatnya, karya-karya dengan daya renung tinggi jadi kalah bersaing dengan tulisan ringan yang mudah viral.
Sudah barang tentu, ini bukan alasan untuk meromantisasi masa lalu. Sastra di era Balai Pustaka juga sangat terbatas, elitis, dan eksklusif. Maka kita pun berada dalam dilema, yakni bagaimana merayakan inklusi tanpa kehilangan mutu.

Sebagian komunitas mencoba menjembatani hal ini. Di Instagram, muncul akun-akun literasi yang mencoba mengulas, mengkurasi, dan menyebarkan puisi serta prosa bermutu. Sementara itu, Medium.com juga menjadi ruang bagi esai dan narasi reflektif. Meski tidak sepopuler Wattpad, ia menawarkan keseimbangan antara akses dan kualitas.
Namun, tantangan tidak berhenti di sana. Salah satu tantangan terbesar dalam era digital ini adalah membangun budaya baca yang sabar dan mendalam di tengah masyarakat yang semakin terbiasa dengan pola scrolling cepat.
Salah satu klaim populer yang sering dikutip menyebut bahwa rentang perhatian manusia modern telah menyusut menjadi hanya delapan detik—lebih pendek dari ikan mas. Klaim ini awalnya berasal dari infografis Microsoft Canada pada 2015, namun berbagai penelusuran menunjukkan bahwa data tersebut tidak didasarkan pada riset ilmiah yang kredibel. Meski demikian, kekhawatiran terhadap menurunnya kemampuan fokus manusia di era digital tetap relevan, terutama dalam konteks konsumsi informasi yang serba cepat dan instan.
Literasi yang Reflektif dan Kritis
Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri, bukan hanya bagi para penulis, tetapi juga bagi pembaca sastra. Sebab, membaca karya sastra tidak bisa dilakukan dalam delapan detik. Ia menuntut waktu, perhatian mendalam, dan kesediaan untuk terlibat dalam kontemplasi. Karya sastra seringkali membawa pembaca pada pengalaman intelektual dan emosional yang kompleks, tidak jarang menimbulkan ketidaknyamanan yang justru esensial bagi pemaknaan.
Di sinilah peran pendidikan literasi menjadi sangat penting. Literasi bukan sekadar kemampuan menulis atau membaca teks secara teknis, melainkan mencakup keterampilan untuk membaca secara kritis, apresiatif, dan reflektif. Tanpa bekal ini, sastra digital berisiko direduksi menjadi sekadar hiburan cepat saji—ringan, instan, dan mudah dikonsumsi, namun kehilangan daya subversif dan kekuatan reflektif yang selama ini menjadi inti dari pengalaman sastra sejati.
Daya subversif dan kekuatan reflektif inilah yang membuat sastra istimewa. Ia tidak hanya menyajikan kisah, tetapi juga menggugat yang mapan, mengguncang kesadaran, dan mengajak pembacanya berpikir ulang tentang dunia dan dirinya sendiri.
Fungsi transformatif inilah yang menjadikan sastra lebih dari sekadar bacaan yang indah. Ia adalah medan tafsir, ruang perlawanan, dan cermin bagi nurani kolektif. Sejarah mencatat bahwa karya sastra pernah memainkan peran penting dalam mengubah cara pandang masyarakat, memicu diskusi politik, bahkan menjadi alat perlawanan terhadap ketidakadilan.
Di masa penjajahan, misalnya, Chairil Anwar menulis puisi-puisi yang menyuarakan kemerdekaan dan eksistensi individu dalam suasana represi. Begitu pula Pramoedya Ananta Toer, yang kata-katanya dianggap cukup berbahaya hingga membuatnya dipenjara, bukan karena senjata, melainkan karena narasi.

Harapan untuk Masa Depan Sastra Digital
Lantas, mungkinkah penulis Wattpad masa kini menjadi agen perubahan? Mungkin saja, sepanjang karya-karya mereka mampu menembus lapisan hiburan dan menyentuh inti kemanusiaan.
“Words are flowing out like endless rain into a paper cup,” tulis The Beatles dalam lagu Across the Universe. Kata-kata mengalir, dan media digital adalah cangkir kertasnya.
Pertanyaannya kemudian adalah: apakah kita hanya mampu menumpahkan kata-kata, ataukah menuangkannya dengan niat, rasa, dan arah?
Masa depan sastra digital terletak pada cara kita menjembatani kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab estetik dan etis. Kurasi bisa bersifat kolektif, bukan hanya tugas institusi. Komunitas pembaca bisa menjadi penjaga kualitas bersama.
Dan penulis perlu didorong untuk terus bertumbuh, dari sekadar menulis untuk dibaca, menjadi menulis untuk menggugah. Dengan begitu, dari Balai Pustaka hingga Wattpad, sastra Indonesia tidak hanya berevolusi, tetapi juga berefek.
Karena pada akhirnya, ruang publik sastra bukan tentang di mana ia ditulis, tetapi untuk siapa, dan untuk apa ia ditulis.***
-Djoko ST, penulis lepas. Karyanya tersebar di sejumlah media, baik cetak maupun daring. Bisa disapa lewat IG @enambelaspas
—
Data penulis
Nama lengkap: Djoko Subinarto
Instagram: @enambelaspas



