“Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, sebanyak 61% anak muda (15-24 tahun) yang mengalami depresi pernah berpikiran untuk mengakhiri hidupnya. Hanya sekitar 10,4% diantaranya yang berusaha mencari pengobatan.” – Detik Health, 2024
Tentang puisi ini, Dialog Diri adalah potret batin seseorang yang bergumul dalam kerumitan dirinya – menyembunyikan luka di balik peran sosial dan penantian akan kesembuhan diri. Puisi ini berangkat dari realitas menyedihkan yang sering dialami oleh anak muda hari ini, depresi yang tidak dapat diraba, kehilangan kompas diri dan ketakutan untuk menunjukkan warna diri yang rapuh. Puisi ini hadir sebagai bentuk penerimaan diri bahwa tidak mengapa untuk merasa tidak baik-baik saja tetapi dilain sisi juga sebagai pengingat bahwa kita semua layak sembuh dan tidak sendirian dalam suara-suara yang mengelilingi isi kepala.

oOo
Sudut kamar ini menjadi saksi, kesekian kalinya ragaku mematung.
Seperti alarm yang diatur otomatis pukul dua pagi –
Kini jam 2 lagi… lagi…
Entah sejak kapan, aku menggantikan peran burung hantu yang nestapa.
Entah sejak kapan, aku menyanyikan sajak-sajak kehancuran di kepalaku.
Seperti kaset rusak, elegi-elegi itu membuai.
Mataku menari tanpa jeda dibuatnya.
Sajak-sajak itu, mengalun bersama suara sumbangku.
Sang gulita pun turut terharu mendengarnya.
Kami tenggelam bersama –
Memilih gerimis di pelupuk mata sebagai apresiasi pertunjukan lara ini.
Kami menyatu di panggung teater yang hampa.
Namun teater ini punya dua tirai – tak selalu gelap yang memimpin pertunjukan.
Di panggung bersama sang gulita,
Mimik dan watakku tak perlu repot menggunakan topeng.
Kadang terbesit, harusnya aku masuk nominasi piala citra.
Bagaimana tidak?
Di panggung berbeda,
Saat sang mentari jadi sutradaraku,
Dialog suka cita dengan mudahnya aku lafalkan – penuh kepalsuan.
Terima kasih untuk segenap pujiannya – aku memang aktor handal.
Aku tak tahu, bagaimana membuat pertunjukkan ini bermakna?
Apakah aku mesti bersyukur atas kelihaianku berdusta?
Karenanya seonggok jiwa lemah ini,
Tak akan tampak seperti siput yang membusuk di balik cangkangnya.
Sungguh memuakkan – aku tetap membusuk dari akar, tanpa cangkang.
Setelah kuselami benak yang keruh, aku rasa siput itu masih beruntung.
Tidak dengan jati diriku yang terluntang-lantung.
Aku tak lagi mampu menghitung detik, menit, jam bahkan hari…
Sudah berapa lama aku tersesat di labirin yang sesak ini?
Seperti terperangkap di dalam ruang tak berujung,
Dengan denting-denting nyaring yang memekakkan kepala.
“Bisakah aku menikmati dunia ini, sedangkan aku sendiri tak tahu di mana letak petaku?”
“Aku tak pernah cukup. Di setiap titik, mereka bilang: tak ada yang bersinar. Jadi… gagal,
seperti lem perekat yang tak ingin lepas dariku?”
Semuanya terasa asing,
Sial – aku bahkan tak kenal siapa orang di cermin itu.
Dia mengabur, perlahan menyisakan bayang.
Dan kini, bahkan bayangnya pun mulai redup.
Entah… apa lagi katanya ‘makna hidup’?
Satu… dua… tiga…
Kuhitung bintang-bintang keberuntungan,
Berharap satu saja sudi menyambangiku.
Menjelaskan, dengan rendah hati: mengapa harus hidup?
Aku terlalu sungkan bertanya kepada kepala-kepala putih,
Selalu merasa tidak ada hal sekecil semut pun yang tidak mereka ketahui.
Mereka pasti berkata: imanku hanya sebesar biji selasih.
Ya, mungkin… jiwa segelap ini tak pantas berharap kasih.
Aku mati dalam ketakutan.
Mungkin mereka benar,
Aku dikutuk, aku hina.
Namun setelah kurenungkan, Tuhan itu Maha Pengasih.
Dan saat ini… kusadari aku hanya sakit.
Dengan sabar, aku setia menanti kesembuhanku.
Setelah melewati seribu bulan dengan kerumitan di sarafku ini,
Aku tetap memutuskan untuk bertahan,
Aku tak punya alasan mencari celah tuk menghindar,
Penawar paling pertama yang harus kutenggak – penerimaan diri.
Biarkan saja luka-luka itu teroksidasi sendirinya.
Biarkan saja pasir di jam itu nanti hinggap pada pangkalnya.
Meski makna hidup berkutat dalam teka-teki.
Jujur, aku masih menggaungkan harap.
Suatu waktu, mungkin bunga lavender akan bermekaran di kamarku.
Dan aku pensiun dari peran burung hantu.
Hanya ada atmosfer kedamaian di plafon kamarku,
Aku tak lagi sepi walau sendiri,
Tidur pulas tanpa merangkai absurditas lagi,
Sajak-sajak itu akhirnya sunyi-senyap,
Remang-remang kupeluk diri,
Sambil berbisik lirih: terima kasih, aku.
oOo

Catatan kaki:


TENTANG PENULIS: Dewi Muthia Charissa Akhyudi, lahir di Banjarbaru tahun 1999.
Meski bukan berasal dari dunia sastra, menulis sejak lama telah menjadi ruang paling tenang
baginya untuk merawat pikiran. Masih dalam proses belajar merangkai kata demi kata.
Baginya, tulisan adalah wadah makna – karena kata-kata kerap lebih jujur dari suara.


PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:


