Polda Sumsel paa 8 Februari 2023, mengungkap kasus pelecehan seksual yang dilakukan TA (35) terhadap keponakan laki-lakinya yang berusia 9 tahun di Palembang, Sumsel. Aksi biadab itu direkam lalu disimpan di surat elektronik pelaku.

oOo
Namaku “anak-anak”. Aku sembilan tahun. Tinggal di Palembang.
Masih rajin belajar mengenal peta dunia, belum tahu arah
Kadang aku bingung, matahari kapan terbit dan tenggelam di mana
Dan mana yang harus aku percaya, rumah atau sekolah
Di ruang kecil dan pengap itu, ada nasihat dari kitab suci
Cahaya sore dengan topeng-topeng, tersenyum suram di dinding
Aku ingin berlari, seperti orang-orang gembira di Minggu pagi
Tapi langkahku seperti lumpuh, ada borgol mengikat kakiku yang kecil
Aku mendengar derit suara pintu, mencekam seperti film hantu
Seperti napas aneh tidak kukenal, menekan dada kurusku
Aku bertanya dalam hati, orang terdekat seolah binatang buas
Mengapa rumah terasa asing, penuh ancaman kepadaku
Aku masih suka menggambar, crayon warna-warni indanya dunia
Langit biru, burung kecil, sungai panjang, pelangi, dan bintang-bintang
Tapi tangan ini gemetar, masih terbayang tubuh kekar itu menghancurkanku
Saat mengingat hal menjijika itu, yang terjadi diam diam di balik dinding
Aku pernah punya tawa, pernah punya mimpi jadi orang sukses
Yang ingin terbang, ringan seperti kapas jauh mengangkasa
Sekarang awan hitam da angin topan menjatuhkanku lagi ke bumi
Seperti sebuah kota yang hancur lebur terkena peluru kendali
Kadang aku menutup mata: jangan lagi kuingat babak hitam penuh luka itu
Berharap semua hanya mimpi di siang bolong, usir saja dengan bangun dan mandi
Tapi bayangan berjubah dan bertopeng iblis itu selalu datang dengan senyum palsunya
Tanpa aku undang tanpa aku harapkan tanpa aku inginkan terus berulang
Aku mencoba bicara: aku keponakanmu, wahai tubuh kekar berlengan kasar
Tapi kata-kataku rasanya terbawa angin, patah dalam ketakutan anak kecil
Seperti tidak akan pernah lagi ada ruang untuk bersembunyi dan
Untuk suara sekecil ini
Aku menatap sedih muka Ibu: terdengarkah jeritanku?
Aku berteriak: cita-citaku terkubur di bumi! Hancur lebur!
Tapi suaraku terpendam, mulutku terkunci, karena takut ia kecewa
Aku takut suara-suara keji tetangga menghabisi Ibu
Aku merasa dunia tidak adil, maka aku menjaga rahasia kelam ini
Aku tidak ingin ketidakadilan ini semakin menjadi kepada Ibu
Aku tidak ingin kabar sedih dan memalukan ini menyebar ke sekolah
Biarlah kesedihan ini kupikul sendirian dan diam diam, tak boleh ada yang tahu
Aku tahu malam-malamku akan panjang dan melelahkan
Tapi aku tetap berharap, tidak semua orang berhati iblis
Aku yakin dunia masih punya tempat yang indah dan aman
Semuanya akan selesai, aku bisa memeluk bantal berharap pagi datang
Aku harus menghadapinya, menghapus hari-hari neraka itu
Langit tidak selamanya mendung, masih ada warna biru yang indah
Masih ada Ibu yang sayang padaku da melindungiku
Menemaniku tumbuh pelan-pelan, menjangkau matahari dengan riang
Aku mulai belajar dengan sungguh-sungguh, merangkai kata jadi kalimat
Menyusun adegan demi adegan walaupun luka dihatiku muncul lagi
Kepada Ibu yang selalu membuka hatinya untuk melindungiku
Supaya orang dewasa sedunia tahu, mahklk kecil sepertiku layak dilindungi

Aku percaya selain Ibu, ada banyak orang akan mendengar
Tanpa menghakimi aku yang membiarkan dan lama tutup mulut
Aku yakin hari itu tiba, luka itu akan hilang terkubur
Masa depanku akan terang karena kuat bertahan
oOo
Link:

TENTANG PENULIS: TENTANG PENULIS: Natasha Harris adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa Korea di UPI Bandung. Senang traveling naik kereta. Setelah Singapura dan Korea, rencananya Desember 2025 hingga Februari 2026 traveling ke Indocina, Asia Tengah, dan Eropa Timur.


PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



