Oleh Kurniawan Adi Santoso
Guru SDN Sidorejo Kab. Sidoarjo, Jatim
Akhir April kemarin, Kepala Sekolah mengumpulkan guru, wali murid, serta komite sekolah guna membahas rapor pendidikan SDN Sidorejo tahun 2025. Dalam pertemuan tersebut direkomendasikan pada guru-guru untuk terus berinovasi terkait pembelajaran literasi. Ini karena capaian kompetensi literasi di SDN Sidorejo tahun 2025 mengalami penurunan skor 3,34 dari tahun 2024.
Rendahnya kemampuan literasi siswa kami memang disebabkan banyak hal. Di antaranya, pembelajaran membaca tidak berorientasi pada proses dan penguasaan kompetensi, tetapi untuk menguasai konten materi pembelajaran semata dengan orientasi pada nilai akhir.
Apalagi jika bacaan yang dipelajari siswa tidak terkait dengan konteks kehidupan nyata. Alhasil, siswa dapat membaca, tetapi tidak cakap menggunakan bahan bacaan untuk mengembangkan kemampuan bernalarnya dalam memecahkan masalah.
Hal itu terlihat ketika siswa diberi tugas menulis cerita atau puisi. Hasil tulisannya tidak bisa dipahami. Kalimat tidak lengkap, seperti tanpa subjek. Kemudian juga kalimatnya tidak logis. Serta ketidaktepatan dalam penggunaan kosa kata. Lantaran anak-anak kurang bergaul dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Membuat Perkumpulan
Inilah yang kemudian membuat saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi anak didik? Singkat cerita, pada saat pembelajaran Bahasa Indonesia dengan materi menulis cerita pendek berdasarkan gagasan, pengalaman, atau imajinasi, saya membawa koran ke kelas. Saya memperlihatkan Koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta tepatnya rubrik Kawanku pada anak-anak kelas VI-B. Di rubrik tersebut isinya cerita pendek, puisi, dan gambar yang dibuat oleh anak seusia mereka.
Siswa kelas VI terrnyata taunya cerita pendek atau puisi itu ditulis orang dewasa. Mereka tidak yakin bisa membuat tulisan semacam itu. Apalagi mereka kurang suka membaca buku nonpelajaran.

Saya memunculkan rasa penasaran pada mereka. Bagaimana ya bisa berkirim puisi dan dimuat di koran, kemudian dapat honor juga? Dari rasa penasaran itulah ada dua anak menyatakan siap diajari menulis. Lama-lama, anak yang berminat makin bertambah setelah ada satu anak yang tulisannya dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta. Kemudian saya buatkan perkumpulan yang saya namai “Gubuk Literasi Sidorejo”.
Hadirnya Gubuk Literasi Sidorejo sesungguhnya senada dengan isu strategis yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Sidoarjo Tahun 2021-2026. Yakni, tentang membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter melalui peningkatan akses pelayanan bidang pendidikan.
Gubuk Literasi Sidorejo berperan dalam meningkatkan kemampuan literasi anak didik. Dengan kemampuan literasi, anak didik nantinya akan menjadi manusia-manusia yang unggul yang produktif dan punya daya saing tinggi. Karena literasi tidak hanya soal kemampuan baca-tulis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis.
Metode Pengajaran Menulis
Lantas, bagaimana metode pengajaran menulis di Gubuk Literasi Sidorejo? Di setiap Sabtu sekitar jam sebelas siang, anak-anak yang bergabung di Gubuk Literasi Sidorejo berkumpul di kelas. Mulanya, saya mengenalkan koran maupun majalah anak pada mereka. Kami berdiskusi mengenai karakteristik karya tulis yang bisa dimuat di koran.
Setelah anak-anak kenal dengan karakteristik tulisan di koran atau majalah anak, mulailah saya mengenalkan bacaan sastra. Kami mengunjungi perpustakaan sekolah tiap Sabtu. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesukaan anak-anak pada bacaan nonfiksi.
Apa yang dibaca, kemudian anak bercerita secara lisan di depan teman-temannya. Sambil beberapa temannya mengomentari kecakapan berceritanya.

Dari bercerita secara lisan, saya alihkan ke bercerita secara tulisan. Temanya tentang kegiatan di sekolah yang menarik. Teknik menulis yang saya ajarkan adalah teknik bercerita. Mulanya mereka bercerita secara lisan, misalkan tentang kegiatan Pramuka. Dari cerita yang mereka ungkapkan, kemudian saya ajak mereka bertanya jawab. Lalu, mereka menuliskan pertanyaan dan jawaban tersebut. Seperti contoh di bawah ini.
Mengapa kamu suka pramuka?
Mulanya gara-gara kakak kelasku menang lomba Pramuka
Aku jadi rajin ikut ekstrakurikuler Pramuka di sekolahku
Apa saja yang dipelajari di Pramuka?
Aku mempelajari tentang apa saja yang ada di kepramukaan
Baris berbaris, tali temali, sandi, semaphore, panorama, memakai kompas,
Membuat prakarya hingga memasakpun juga diajarkan
Jawaban dari pertanyaan itulah yang kemudian ditulis oleh anak-anak. Tulisan mereka memang belum sempurna. Saya bersama anak-anak berdiskusi untuk memilih kata-kata yang pas untuk ditampilkan dalam tulisan dengan bantuan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau ini disebut sebagai proses editing.
Setelah editing selesai, kemudian anak-anak saya pandu untuk mengirimkan karyanya ke koran yang dituju lewat email. Sambil menunggu jawaban dari redaktur, kami terus memproses tulisan-tulisan yang lain.

Adanya Gubuk Literasi Sidorejo ini telah memberikan mafaat yang signifikan pada pembelajaran literasi di SDN Sidorejo. Di antaranya, budaya literasi di SDN Sidorejo makin meningkat. Perpustakaan sekolah menjadi digemari anak-anak untuk menjadi sumber belajar, mencari buku cerita sebagai bahan untuk mengembangkan ide menulis.
Siswa yang sudah tergabung di Gubuk Literasi Sidorejo SDN Sidorejo makin meminati menulis sebagai bentuk mengekspresikan perasaan juga kritik sosial. Beberapa siswa menunjukkan kehebatannya dalam mencipta puisi, maupun cerita pendek. Di antara mereka ada tulisannya dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.
Pun mereka juga menjadi tahu kegunaan email. Mereka makin sering memakai email untuk berkirim karya ke redaktur koran. Ini juga menjadikan penggunaan smartphone menjadi lebih bermanfaat bagi anak didik kami.

ESAI Upayakan tulisannya bukan sekadar mengkritik, tapi juga memberikan solusi. Jika ada pernyataan tentang suatu hal, maka harus ada pembuktiannya agar tidak jadi hoax atau fitnah. Panjang tulisan 700 hingga 1000 kata. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor WA, foto-foto yang mendukung esaimu, juga foto penulisnya. Ada honor Rp 100 ribu. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Esai.


