Dari Piringan Hitam hingga Digital: Menyusuri Jejak Musik di Lokananta

Oleh Adila Fikri Muslimah

Matahari sore mulai merunduk ketika saya tiba di kawasan Kerten, Laweyan, Solo. Jalan Ahmad Yani yang ramai perlahan saya tinggalkan, hingga pandangan tertuju pada sebuah bangunan tua dengan papan sederhana bertuliskan “Lokananta.” Dari luar, fasadnya tidak tampak istimewa. Dinding bercat pudar, atap genteng lama, dan pintu kayu berwarna cokelat tua. Tetapi hati saya berdebar. Nama itu terlalu besar untuk dianggap biasa. Saya tahu, di balik tembok sederhana itu bersemayam sebuah bab penting dalam sejarah musik Indonesia.

Saya menurunkan langkah perlahan, melewati halaman yang tidak begitu luas, hingga masuk ke lobi bangunan. Ruangannya berplafon tinggi, dengan lampu temaram yang menimbulkan kesan hangat sekaligus melankolis. Rak kaca di sisi kiri menampilkan piringan hitam dan album-album kuno. Suasananya seperti museum modern dengan pencahayaan putih terang, dengan masih terdapat sentuhan bangunan hasil budidaya masa lampau. Saya berhenti sejenak, menghirup udara yang membawa aroma kayu tua dan debu tipis. Rasanya seperti masuk ke mesin waktu.

Jejak Awal: Dari Studio Negara ke Penjaga Suara Nusantara

Lokananta bukanlah tempat biasa. Ia adalah studio rekaman pertama milik negara di Indonesia, resmi berdiri pada 29 Oktober 1956. Inisiatif itu lahir dari R. Maladi, seorang tokoh olahraga sekaligus Menteri Penerangan, bersama pejabat RRI lain seperti Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto. Nama “Lokananta” diambil dari bahasa Jawa–Sansakerta yang berarti “gamelan dari kahyangan,” sebuah metafora indah tentang instrumen surgawi yang berbunyi tanpa penabuh.

Tujuan awal pendirian Lokananta sederhana namun visioner: menggandakan rekaman siaran RRI menjadi piringan hitam, agar bisa disebarkan ke 26 stasiun RRI di seluruh penjuru Nusantara. Dengan cara ini, lagu-lagu daerah, musik keroncong, gamelan, hingga pidato kenegaraan dapat menjangkau masyarakat luas. Lokananta menjadi benteng agar suara Nusantara tidak tenggelam oleh dominasi musik Barat yang kala itu merajalela di udara radio.

Seiring waktu, peran Lokananta meluas. Ia tidak hanya menjadi perpanjangan tangan RRI, tetapi juga rumah rekaman bagi musisi besar. Dari studio inilah lahir karya-karya Gesang dengan “Bengawan Solo,” Waldjinah dengan tembang Jawa-nya, serta nama-nama legendaris seperti Titiek Puspa, Bing Slamet, Buby Chen, dan Sam Saimun. Bahkan arsip pidato Bung Karno dan rekaman orkestra gamelan tersimpan di sini, menandakan peran Lokananta bukan sekadar tempat teknis, melainkan simpul identitas kebudayaan bangsa.

Menapaki Ruang Arsip dan Mesin Tua

Saya melangkah ke ruang arsip. Suasananya remang, dengan rak-rak tinggi yang dipenuhi piringan hitam dan kotak tape master. Beberapa label kertas sudah menguning, sebagian tinta menipis, tetapi aura sejarahnya begitu kental. Saya menempelkan wajah lebih dekat ke kaca display, menatap cover album lawas dengan judul yang asing namun terasa akrab: “Remaja Bahagia,” “Tegang Tanduk.” Judul-judul itu seakan memanggil ingatan kolektif sebuah bangsa.

Di salah satu sudut berdiri gramofon dengan corong besar, mesin pemotong piringan hitam, serta mixer analog tua. Saya membayangkan teknisi tahun 1960-an yang dengan teliti menurunkan jarum piringan, memastikan setiap denting gamelan terekam sempurna. Rasanya seperti bisa mendengar bisikan masa lalu melalui benda-benda itu.

Seorang pemandu menghampiri saya dan rombongan kecil lainnya. Dengan ramah ia menjelaskan bahwa Lokananta memiliki ribuan koleksi: piringan hitam (LP), master tape, hingga rekaman pidato nasional. Namun, tidak semua dalam kondisi prima. Beberapa piringan retak, sebagian reel tape perlu direstorasi, dan ada arsip yang buram dimakan waktu. “Kami berusaha mendigitalisasi semuanya,” kata sang pemandu. “Supaya suara lama ini bisa tetap hidup, dikenali generasi sekarang.”

Ucapan itu menggema di kepala saya. Betapa besar tanggung jawab menjaga ingatan kolektif bangsa hanya melalui gulungan pita dan piringan hitam.

Masa Kejayaan, Krisis, dan Nyaris Terlupakan

Di salah satu panel pameran, terpampang foto-foto Lokananta era 1970-an. Kala itu, studio ini sedang berada di puncak kejayaan. Produksi rekaman begitu sibuk, musisi datang silih berganti, dan distribusi piringan hitam menjangkau seluruh negeri. Lokananta menjadi saksi lahirnya musik yang kelak dianggap klasik dalam khazanah Indonesia.

Namun, teknologi tak pernah berhenti bergerak. Era kaset, CD, lalu digital mengguncang fondasi Lokananta. Krisis ekonomi 1998 semakin memperparah. Departemen Penerangan bubar, anggaran menyusut, mesin-mesin dipinggirkan, dan staf berkurang drastis. Ada masa ketika gudang rekaman dipakai untuk olahraga indoor, bahkan beberapa instrumen berharga hilang. Lokananta nyaris menjadi reruntuhan yang hanya disebut dalam buku sejarah.

Mendengar kisah itu, dada saya sedikit sesak. Bagaimana mungkin institusi sebesar ini bisa terlupakan begitu saja? Tetapi mungkin begitulah nasib banyak warisan budaya: rapuh di hadapan arus zaman, bergantung pada kepedulian segelintir orang untuk tetap bertahan.

Kebangkitan: Dari Museum ke Ruang Kreatif

Untungnya, Lokananta tidak benar-benar mati. Dalam dekade terakhir, semangat untuk membangkitkannya kembali muncul. Tidak hanya sebagai museum nostalgik, tetapi juga sebagai ruang kreatif bagi generasi baru. Pada 3 Juni 2023, Galeri Lokananta resmi dibuka kembali. Kini, pengunjung tidak hanya bisa melihat koleksi piringan hitam dan mesin tua, tetapi juga menikmati pameran interaktif, multimedia, bahkan konser kecil di ruang terbuka.

Saya melihat sendiri bagaimana halaman belakang Lokananta diubah menjadi ruang terbuka (open space) untuk pertunjukan musik komunitas, pameran kreatif, hingga bazar kuliner UMKM. Museum ini tidak lagi sekadar menyimpan masa lalu, melainkan juga menciptakan ruang bagi masa kini. Perpaduan itu terasa natural. Suara lama bersanding dengan energi baru.

Dialog dengan Masa Lalu

Di ruang audio, saya duduk di kursi putih dengan headphone besar terpasang. Dari panel digital, saya memilih lagu “Bengawan Solo.” Alunan suara Gesang mengalir lembut, jernih namun masih membawa gema khas rekaman lama. Sesaat, saya menutup mata. Rasanya seperti duduk di tepi sungai Bengawan Solo pada sore hari, ditemani suara yang menembus generasi.

Saya juga mendengarkan suara Waldjinah, ratu keroncong yang suaranya bak melodi langit. Dari headphone itu, saya seakan berbicara dengan masa lalu: bahwa mereka masih ada, meski zaman sudah berubah.

Pemandu kembali bercerita bahwa Lokananta bahkan menyimpan rekaman pidato asli Bung Karno, serta versi orisinal lagu “Indonesia Raya.” Mendengar itu, saya merinding. Bayangkan, suara proklamator bangsa ini masih tersimpan di ruangan ini, menunggu didengar kembali oleh anak-anak muda.

Refleksi: Lokananta sebagai Lorong Waktu

Senja semakin merayap ketika saya keluar menuju taman kecil di belakang museum. Lampu taman menyala kuning lembut, angin membawa aroma dedaunan, dan di kejauhan terdengar hiruk pikuk kota Solo. Saya duduk sebentar, menatap bangunan Lokananta yang berdiri kokoh meski penuh luka sejarah.

Saya merasa kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan. Ia adalah perjalanan menyusuri lorong waktu: dari era piringan hitam hingga digital, dari kejayaan hingga hampir dilupakan, dari krisis hingga lahir kembali. Lokananta adalah pengingat bahwa musik bukan hanya hiburan. Ia adalah arsip sejarah, medium identitas, dan nafas kolektif sebuah bangsa.

Bagi saya pribadi, pengalaman ini menghadirkan rasa syukur. Indonesia punya rumah suara seperti Lokananta, tempat di mana gamelan, keroncong, pidato kenegaraan, hingga musik rakyat Aceh sampai Papua dipelihara. Di sinilah kita belajar bahwa suara lama tidak mati; ia hanya menunggu kita untuk mendengarkannya kembali.

Saat meninggalkan halaman Lokananta, langit Solo sudah berubah menjadi biru tua. Lampu jalan menyala, kendaraan lalu lalang, dan papan nama “Lokananta” terlihat samar dari kejauhan. Saya melangkah pulang dengan hati penuh kesan.

Lokananta bukan sekadar museum, bukan pula sekadar studio tua. Ia adalah lorong waktu yang memungkinkan kita berdialog dengan masa lalu, sembari membuka ruang untuk kreativitas masa kini. Dari piringan hitam hingga digital, dari gesekan jarum gramofon hingga klik layar sentuh, ia tetap mengingatkan kita: suara adalah jiwa bangsa, dan selama Lokananta berdiri, jiwa itu akan terus bernapas.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==