Kakak beradik yang terpaut umur cukup jauh, duduk-duduk berdampingan di tanah berumput. Di tengah keduanya, satu tombak bertangkai kayu tergeletak. Ujung tombaknya yang runcing berkilat masih tetap mulus—pertanda keduanya belum juga mendapatkan buruan.
Adik bertanya, “Kita sudah cukup lama ya tidak makan daging yang enak? Pada ke mana rusa-rusa di hutan alam ini pergi?”
“Kau harus sabar, baru saja matahari sepenggalah. Kau juga jangan mengeluh meskipun berpeluh. Mencari rusa tidaklah mudah Dik. Sifatnya lincah, juga dapat membedakan gerak-gerik semak belukar: mana yang tertiup angin, mana yang menjadi tempat manusia mengintip. Teranglah hewan-hewan itu terus bersembunyi.”
“Iya benar Kak. Tadi di dekat sebongkah batu, aku melihatnya, langsung saja berlari kencang.”
“Malah selain itu, rusa juga dari jarak sekian sudah tahu kedatangan kita, bisa membaui. Ya, kita beristirahat saja dulu di sini ya, siapa tahu ini hari keberuntungan mendapatkan rusa.”
Adiknya mengangguk.
Keduanya yang bertelanjang dada kemudian tetap duduk saling berdiam di bawah kanopi lebar pohon besar—namun dengan semampu pandangan mata, melihat-lihat ke kejauhan, ke kedua ruas jalan setapak di bawah, ke semak-semak belukar hutan di hadapan.
“Siang makin meninggi. Sekarang bagaimana? Mungkin usaha akan sia-sia?” Adik kembali bertanya.
“Oh aku lupa, mereka sudah tahu keberadaan kita. Ya, pastilah semuanya jauh-jauh menghindar. Sudahlah, lupakan berburu, kita sedari pagi sudah mencarinya tetapi tetap tak dapat-dapat, kita bidik burung saja. Bukankah sumpit selalu kau bawa?”
Adiknya meraih tas dari anyaman mendong, tangannya meraba-raba ke dalam, tersentuhlah sumpit dari bambu khusus, bambu sumpit. “Ya Kak, ini ada..”
“Jarum sumpitnya?” Kali ini kakak yang merogoh-rogoh isi tas lebih dalam. “Aw!” Kakak menjerit. Darah pun menetes. “Aku tertusuk. Jarumnya telah terlepas dari buntalan kulit kayu, tetapi kau tak usah cemas, ini tidak beracun. Tunggu ya, aku akan mencari obatnya.” Gegas kakak memandang berkeliling. Di belakanglah tertampak rimbunan perdu pisang. Didekatinya. Kemudian dengan sekali sentakan tangannya, terlepaslah satu pelepah dari batang.
“Ini pasti perih Dik. Getahnya aku oles-oleskan pada luka. Tak apa-apa.” Adik terus melihat kakaknya yang terus memejamkan mata menahan perih akibat dari getah yang bereaksi.
“Tunggu beberapa saat. Luka ini akan kering.” Kakaknya menghibur diri.
,
Tak lama, tertutup pula luka di ujung telunjuk kakak oleh getah. Kakak tak patah semangat. “Ayo, kita berjalan kembali, supaya tak begitu terasa rasa perihnya.”
Adik berjalan berposisi di depan, menerobos ke bawah, ke tanah yang berkontur lebih rendah, mengoyak semak belukar setinggi dada. Adik selalu berjalan agak cepat, kakaknya sampai harus mengingatkan, “Pelan-pelan. Supaya tidak menimbulkan bunyi semak belukar beradu. Kita kan mencari burung, sekalian juga mencari rusa.”
“Ya Kak, aku memang sedang menggebu. Tapi, ah Kakak, tadi bilang lupakan saja rusa, kini malah ingin lagi rusa, bukankah telunjuk kanan Kakak terluka?”
Kakaknya ngakak. “Daging rusa memang enak.”
“Kakak malah tertawa lagi. Buruan kita bisa kabur dong.”
Keduanya kemudian saling memandang, sama-sama terdiam tapi tak lama, lalu kembali berjalan—hingga tanah hutan di berbagai tempat dengan berbeda kelembapan, dilalui pula.
Di satu ruas jalan setapak, adik menengadahkan kepala, tertegun.
“Apa yang kau lihat?”
“Banyak burung terbang di sana. Di dekat rimbunan satu pohon, di bawah tebing cadas.”
Kakak beradik terus menyusuri arah jalan setapak. Kini di atas rimbunan pohon itu tegak berdiri, terlihatlah dengan jelas burung-burung itu melayang, yang hanya sesekali mengepakkan sayap, lalu menukik.
“Aku penasaran, ada apa di pohon itu? Kuyakin ada sesuatu yang menarik.” Kakak bersemangat.
Kali ini keduanya mempercepat melangkah. Tak ingin jika burung-burung itu keburu terbang, entah kapan akan kembali.
Tiba di satu rimbunan belukar yang cukup tinggi, kakak menyuruh adiknya membungkuk seraya berjalan. Mengendap-endap. Hingga sampailah pula pada posisi yang dekat dengan burung-burung.
“Kita berhenti.. Perhatikan apa yang dimakan burung-burung itu.”
Burung-burung itu tampak mematuk-matuki buah-buah kecil. “Buah apakah itu, setelah burung-burung itu memakannya, menjadi terlihat begitu senang?”
Adik malah menggebu membidik. “Bagaimana Kak? Kita sumpit salah satunya?”
“Ya, sasar dengan tepat.”
Adiknya mengondisikan arah keluar jarum dari ujung sumpit pada titik letak seekor burung dengan seakurat-akuratnya. Setelah dirasa pas, swing, satu jarum melayang. Crest! Mengenai seekornya, menggeleparlah. Namun ini mengakibatkan belasan burung yang sedang mematuk-matuki buah-buah menjadi berhamburan, burung-burung yang sedang terbang—yang hendak menuju ke rimbunan pun membelokan arah—tahu ada bahaya mengancam.
Kakaknya kini malah tak bereaksi, lebih tertarik pada beberapa buah merah yang berserakan di tanah. Segera diambilnya sebutir.
“Kenapa dengan buah itu Kak?”
“Aku akan mencobanya memakan sebiji.” Segeralah dibuka cangkangnya, lalu digigitnya. “Oh manis!” Kakak pun meneruskan mengunyah, namun bijinya dibuang, terus memakan lagi hingga habis dua butir. “Rasanya segar.”
Adiknya menjadi penasaran, mengikuti yang kakaknya lakukan.
“Bener Kak, manis, segar, tapi ada asam sedikit. Kita panen saja buah-buah ini ya Kak, bawa pulang. Mungkin ini sebagai pengganti rezeki dari Tuhan karena hari ini tidak mendapat rusa, dan burung pun hanya seekor.”
Keduanya sepakat beristirahat dahulu sebelum memanen. Kakak berkata, “Kita minum dulu. Sambil mengingat-ingat rute tadi yang telah dijejaki. Jangan sampai kita tersesat.”
Tak lama, kakak kemudian menyuruh adiknya untuk memanjat.
“Aku tidak bisa.” Kakaknya mendadak tertawa. “Kau kan laki-laki. Cobalah belajar memanjat, lagi pula pohonnya tidak terlalu tinggi seperti pohon-pohon lain, ukuran batangnya juga sedang.”
Adik tetap ragu. Kedua matanya ditengadahkan ke atas pohon, lalu ke permukaan tanah. Berkali-kali, dibayangkan bagaimana bila jatuh.
“Sudah jangan banyak berpikir, langsung saja berpraktik.”
“Caranya bagaimana?”
“Peluklah bagian atas pangkal batang dengan kedua tangan sekuat-kuatnya. Rekatkan kaki di batang bawahnya juga sekuat-kuatnya. Berposisilah seperti berjongok. Lalu, pindahkan kedua pelukan tangan ke batang yang lebih atas, berbarengan dengan pijakan kaki. Begitu terus. Sampai menemukan dahan. Ya, lalu rangkullah percabangan dahan dengan tangan kanan, diikuti seluruh tubuh. Ayo coba, kita kan hidup di kaki gunung, kau harus mahir memanjat.”
“Baiklah.”
Adik kemudian memulai.
“Kau harus sepenuh hati, jangan ada ragu.”
Kakak memandangi adiknya, merasa kagum karena adiknya cukup lancar menaiki pohon—tidak sekalipun hendak terpeleset apalagi terpeleset. Saat sampai di satu pertigaan dahan dan ranting—yang terdapat banyak buah, Adiknya berteriak, “Kak, aku petik satu-satu?”
“Bersama ranting saja! Patahkan!”
Kemudian, potongan-potongan ranting yang terdapat buah pun berjatuhan, satu per satu ditangkap dengan kedua tangan kakak.
“Sudah cukup!”

Adik pun turun dari pohon, kali ini dua kali hampir tergelincir. Meskipun pada akhirnya selamat tiba di atas permukaan tanah.
Beberapa saat pun berlalu, tibalah pula keduanya di rumah, tetapi tak mendapati ibu dan bapaknya yang juga sedang berburu.
Ketika bapak dan ibu datang, langsung terbengong. Bapak cemas melihat cangkang-cangkang buah yang bertebaran. “Buah-buahnya dikemanakan?”
“Kami baru saja memakannya banyak, kenyang. Memang kenapa Pak?” Kakaklah yang menjawab,
“Waktu zaman dulu, kata leluhurmu, rambut-rambut di seluruh permukaan kulit buahnya dianggap gatal, daging buahnya pun disangka beracun.” Bapak lalu mencoba memakan satu butir, kemudian berkata, “Ternyata enak.”
*) Bandung, Oktober 2025


TENTANG PENULIS: Penulis alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Saat ini bekerja di Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan. Akun medsos : Facebook https://web.facebook.com/gandi.sugandi.7564
Instagram https://www.instagram.com/gandi.sugandi.7564/
Alamat email : gandisugandi015@gmail.com
Buku Kumpulan cerpen yang sudah terbit: Keluarga Seni

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Redaksi menyediakan honor Rp. 100 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


