(Udara dingin Sukabumi tidak pernah berhasil mendinginkan kulitnya yang terbakar. Bocah itu melipat diri menyerupai tanda tanya di sudut kamar. Ia merengkuh sepi sebagai sahabat tunggalnya. Haknya untuk bahagia dirampas paksa. Kisah ini membedah keputusasaan seorang anak yang menemui ajalnya setelah disiksa ibu tirinya.
Puisi ini menangkap setiap rintih yang gagal keluar dari mulut sang korban. Fakta autopsi membeberkan tingkat kebrutalan yang ia alami. Jejak kekejaman terlukis jelas lewat luka bakar yang meranggas luas di lengan, kaki, dan punggungnya. Hidung dan bibirnya melepuh, mengunci suara tangisnya untuk selamanya. Pembengkakan pada paru-parunya menandai akhir perjuangan napasnya yang berat dan menyiksa.

Link Berita: https://www.metrotvnews.com/read/bJECjze1-diduga-dianiaya-ibu-tiri-bocah-12-tahun-di-sukabumi-meninggal-dunia

-o0o-
Langit Sukabumi merendah menyentuh atap.
Menjahit rintik pada petang Februari yang luruh menahan ngilu.
Pintu kayu itu terkatup menelan sisa mentari.
Merapat.
Menyembunyikan sengkarut gigil.
Tubuh ringkih itu melipat diri menyerupai tanda tanya.
Di sudut dipan,
sepi beringsut merengkuhnya lebih karib dari selimut.
Bayang-bayang memanjang di dinding kamar.
Ketukan tumit di ubin mendaras ngeri,
ritmenya serupa detak jarum jam yang menghitung mundur usia.
Ibu pulang.
Sebutan itu mengabur.
Tanggal dari kamus kasih sayang.
Terganti oleh siluet tangan yang selalu membawa badai ke dalam ruangan sempit ini.
-o0o-
Pepatah kuno melantunkan surga senantias mekar di bawah telapak kaki perempuan bergelar ibu.
Di rumah beratap kelam ini, dogma itu hangus.
Menjadi arang.
Hancur lebur berserakan.
Bibir kecil nirmala itu merekah.
Luka bakar melepuh di sana.
Merampas senyumnya secara paksa.
Api hinggap pula di hidungnya yang bangir.
Menyumbat lara.
“Berdiamlah…” bisik bayang-bayang di langit-langit kamar yang retak.

Namun, bagaimana bisa bocah itu diam?
Lengan dan kakinya memahat perih yang tak berkesudahan.
Kulit arinya mengelupas perlahan.
Meninggalkan lapisan daging kemerahan.
Dicumbu paksa oleh setrika dan siraman air mendidih.
Belaian ibu tiri terasa amat asing.
Terlampau panas.
Terlampau tajam bak sembilu.
-o0o-
Malam merawat pekik yang dilumpuhkan.
Hujan turun rintik-rintik membasuh atap.
Daging melepuh memeluk lukanya sendiri begitu rekat.
Merah.
Menganga.
“Ibu, perih…” Suaranya meluruh,
luruh bagai guguran daun kering di teras kemarau.
Sebuah ciuman dari lidah api menyapa bibir dan hidungnya.
Jelaga melukis rona di wajah yang dulu pualam.
Membungkam kata.
Menghanguskan sisa doa.
Bibirnya yang ranum melepuh,
terkunci rapat menahan jerit.
Hidungnya dipaksa menghirup aroma getir tubuhnya sendiri.
Anyir.
Sangit.
Pejam.
Tangan perempuan itu menari.
Menabur bara.
Ia diam menelan perih.
Terus mengira begitulah cara aneh seorang ibu menyalurkan kehangatan…
-o0o-
Tuhan, inikah pelukan seorang ibu?
Mengapa hangatnya meremukkan tulangku?
Napasnya memburu di sudut ruangan redup.
Lengan dan kakinya meranggas,
mencatat riwayat panas.

Di mana letak surga pada telapak kaki ibu?
Ia hanya menemukan neraka yang dipindahkan ke ruang tamu.
Kasih sayang mewujud lebam dan melepuh.
Malam merayap terlampau lambat.
Mengulur waktu agar penderitaan ini terasa abadi.
Malaikat tersedak di sudut loteng…
-o0o-
Lampu neon rumah sakit menatapnya terlampau garang.
Ruang rawat berbau karbol.
Anyir duka menguar tajam.
Ranjang putih menopang tubuh babak belur itu.
Selang-selang bening merambat rakus, memeluknya jauh lebih erat.
Monitor berkedip sangat lelah.
Detaknya melambat.
Berhitung cemas dengan waktu.
Bibir yang melepuh itu tersenyum tipis di balik selang.
Pikirannya melayang mengingat-ingat rupa surga.
Kelopak matanya memberat tuntas.
Semesta meredup perlahan…
-o0o-
“Tidurlah, sayat ini lekas usai…” bisik bayang-bayang di dinding kamar.
Garis hijau di monitor itu membentang datar.
Sunyi merampas degup terakhirnya.
Tit…
Maut merapat menjelma ibu peri berselendang kasmir selembut awan.
Malaikat merengkuh tubuh hangus itu.
Ia anak yang sangat patuh.
Pelan-pelan, kelopak matanya meredup.
Sungguh ada lara yang melampaui kamus bahasa manusia.
Kematian menyelinap masuk dengan langkah selembut beludru.
-o0o-
Hujan lebat menderas tak karuan sore itu.
Membasuh keras atap seng rumah sakit dan aspal kota yang kelabu.
Air dari langit berusaha menyapu dosa-dosa manusia yang tertinggal mengering di lantai sebuah rumah.
Napas terakhir itu lepas.
Jatuh.
Mengambang ringan laksana kapas tertiup badai.
Di ambang nirwana, ia menengok ke belakang.
Menatap perempuan yang kini sibuk mencuci tangannya.
Mencoba menghapus noda yang selamanya akan mengutuk nadi.
Bocah itu tersenyum pias memaklumi lara.
Gilirannya memaafkan yang tak termaafkan.
Tentang Penulis:
Wahyu Kuncoro, hanyalah sosok biasa yang tidak bisa terbang ataupun meramal masa depan. Keajaibannya tersimpan di larut malam, saat ia merawat kewarasan melalui obrolan panjang dengan dirinya sendiri. Anggaplah puisi-puisinya sebagai oleh-oleh dari perdebatan batin yang sunyi itu. Jangan ragu menyapanya, walau mungkin ia tampak diam karena sedang sibuk berdiskusi di dalam pikiran. Selamat menikmati kepingan kewarasan yang ia bagikan lewat kata-kata. Ia sangat senang kamu menyempatkan waktu untuk membaca ini.
PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



