Puisi Esai Gen Z: Seorang Ibu Menunggu Anaknya Pulang Karya Natasha Harris

Gedung DPRD Makassar porak-poranda dibakar massa aksi hingga membuat tiga orang tewas. Dua korban meninggal akibat terjebak di dalam ruangan, sementara satu korban lainnya tewas setelah melompat dari lantai empat gedung. Ketiga korban tewas yakni Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah Syaiful Akbar, staf humas DPRD Makassar Muh Akbar Basri alias Abay, dan staf anggota DPRD Makassar Sarina Wati. Ketiga korban telah dimakamkan oleh pihak keluarga masing-masing pada Sabtu (30/8/2025).

oOo

Ibu yang Menunggu di Pintu Senja

Aku adalah seorang ibu, menunggu senja di bibir jendela.
Tubuhku renta, kerudungku berbau asap duka lara ibu pertiwi
tangan gemetar menahan sebungkus kain kafan yang dingin.
Anakku, pergi di antara api yang menyambar gedung dewan,
gedung yang seharusnya jadi rumah aspirasi rakyat,
bukan kuburan terbakar tempat rakyat mengutuk dan menjerit.

Hari itu, Jumat sore yang ramai, debu dan asap kendaraan
langit Makassar murung—awan hitam jatuh di antara spanduk dan teriakan.
Orang-orang membawa tuntutan, rasa ketidakadilan dan sumpah serapah
tapi tuntutan menjelma kobaran. amarah membara bercampur teriakan
Gedung porak-poranda, kaca pecah berhamburan,
bendera robek, kursi berjatuhan.
Di dalam, anakku terjebak,
bersama dua jiwa lain yang sama takdirnya:
mereka abdi negara yang tulus melayani rakyat
yang biasa tersenyum ketika wartawan datang.
Mereka bertiga kini hanyalah nama yang dipanggil di liang kubur.

Aku, ibu yang menunggu kabar,
berlari-lari kecil di halaman rumah ketika suara telepon datang,
“Bu, putri ibu… putri ibu terjebak api di lantai empat!”
Aku masih berharap ia akan turun dengan selamat,
mungkin wajahnya berjelaga, tapi matanya tetap hidup.
Namun yang tiba di rumah sakit hanya kabar duka,
jenazah hangus yang nyaris tak kukenal,
tapi aku tahu, itu anakku—
anak yang dulu kukandung sembilan bulan,
kuberi susu, kubekali doa,
dan kini kukembalikan pada tanah yang merah dan panas.

Puisi ini bukan sekadar ratapan, tetapi catatan luka bangsa.
Di setiap aksi yang berubah ricuh, ada tubuh-tubuh yang tak pernah pulang.
Ada ibu yang meratap di malam panjang, tak akan hilang duka ini selamanya
ada bapak yang menatap liang lahat dengan keringat asin di pelipisnya,
ada anak kecil yang bertanya polos, “Kenapa mama tidak pulang, Bu?”
Pertanyaan cuuku itu menamparku, dan aku hanya bisa memeluknya,
karena jawabannya terlalu pahit untuk diucapkan.

Negeri ini tak henti mengulang kisah, demo jadi bencana,
api jadi hakim, dan nyawa rakyat kecil jadi tumbal.
Di televisi, pejabat berbicara dengan kalimat rapi:
“Ini tragedi, kita berduka, mari kita evaluasi.”
Tapi bagiku, evaluasi hanyalah kata asing.
Aku hanya tahu, anakku sudah pergi,
dimakamkan Sabtu itu,
tanpa sempat kusisir rambutnya terakhir kali.

Aku ingin bertanya: Apakah kematian ini tercatat di hati bangsa?
Apakah nama mereka akan dikenang lebih dari sekadar baris berita di koran pagi?
Atau mereka hanya akan jadi abu, hilang seperti lembaran arsip yang terbakar di ruang rapat?

Aku ibu. Suaraku lewat puisi mungkin pelan,
tapi darah yang kutumpahkan dalam doa lebih lantang dari pengeras suara massa.
Anakku gugur bukan di medan perang, tapi di gedung aspirasi yang terbakar oleh amarah.
Dan aku bertanya pada Tuhan, sampai kapan negeri ini menyalakan api
dengan tubuh anak-anak kami sebagai kayunya?

Maka, biarlah puisiku ini jadi batu nisan kata,
menandai luka yang tak akan sembuh.
Di atas pusara, kutanam doa:
semoga tanah Makassar menyalami mereka dengan sejuk,
semoga gedung yang terbakar tak hanya dibangun kembali,
tapi juga hati bangsa yang koyak.

Aku adalah seorang ibu, dan aku akan selalu menunggu anakku,
meski kutahu, ia hanya akan kembali dalam bentuk mimpi yang berbau asap
dan tangisan yang tak pernah kering.

*) Bandung 1 September 2025

oOo

Link:

Baca artikel detiksulsel, “Kondisi Memilukan 3 Korban Tewas Saat Gedung DPRD Makassar Dibakar Massa” selengkapnya https://www.detik.com/sulsel/makassar/d-8088496/kondisi-memilukan-3-korban-tewas-saat-gedung-dprd-makassar-dibakar-massa.

oOo

TENTANG PENULIS: Natasha Harris adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa Korea di UPI Bandung. Senang traveling naik kereta. Setelah Singapura dan Korea, rencananya Desember 2025 hingga Februari 2026 traveling ke Indocina, Asia Tengah, dan Eropa Timur.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==