Puisi Esai Gen Z: Makam Tak Bernisan Karya Anggi Farhans

“Temuan dua kerangka manusia yang diduga ibu dan anak di dalam rumah di Jawa
Barat, menggegerkan warga setempat. Karena ternyata dua jasad tersebut telah
wafat sejak tahun 2019, kali terakhir warga setempat melihat mereka.”

oOo

Dinding rapuh dengan cat luntur dan sarang laba-laba, itulah aku. Dijadikan saksi
kematian tragis seorang anak dan ibu yang hidup bahagia dan sederhana sejak
enam tahun lalu, secarik pesan tertulis di tubuhku sebelum mereka menjadi tulang
belulang yang rapuh, “Aku hanya minta uang sekolah, tapi kau seperti itu, katamu
raihlah cita-cita setinggi mungkin, tapi kau tidak membayar biaya sekolah. Maafkan
aku tidak bisa menjadi anak yang sempurna, Pak. Termasuk istrimu saja kau
tinggalkan karena kau menuntut dia menjadi sangat sempurna, tapi ketahuilah Pak,
hanya Tuhan yang sempurna.”

Dan pagi ini, rumah kosong dan rumpang
Warga berkumpul dihantui ketakutan dan rasa penasaran,
enam tahun berlalu, tiada yang tahu dan mencium bau
rumah yang mereka anggap tak bertuan
ternyata menjadi kuburan tak bernisan

Aku adalah saksi bagaimana rumah ini dibangun atas nama cinta dan pengorbanan.
seorang ayah yang sibuk siang dan malam bertaruh keringat mencari nafkah,
sosok ibu penyabar dan rendah hati yang setiap pagi menyiapkan sarapan dan
harapan,
serta anak mereka yang terlalu polos untuk mengerti kerasnya dunia luar.

“Pak, kalau sudah lulus dan dapat nilai bagus, aku boleh kan kuliah di kampus
favorit itu?” tanya anak polos ini kepada laki-laki yang menjadi cinta pertamanya,
“Untukmu, semua bapak lakukan.” jawabnya sembari tersenyum.

Dia penuh cinta dan pengorbanan,
tapi manusia hanyalah pendosa yang serakah,
belasan tahun usia pernikahan bukan sebuah jaminan atas kebahagiaan rumah
tangga.

“Pak, dihabiskan ke mana tabungan kita? Itu untuk biaya kuliah Dimas.”
laki-laki tua itu menjawab dengan keras sekeras kepalanya, “Tahu apa kamu tentang
mencari nafkah, sudahlah! Urusi saja urusan dapurmu itu, biaya sekolah biar aku
yang menanggung, kamu cukup diam, tak perlu bertanya-tanya!”

Rumah ini semula adalah tempat pulang
obrolan hangat dan menenangkan sering diceritakan
tempat di mana serangkai memori terukir di atmosfernya
“Jangan lupa kerjakan PR kamu, kalau Bapak sudah pulang, nanti kita makan
malam bersama.”

sampai ketika kebosanan dan kemunafikan
mengalahkan janji pernikahan
wanita penggoda dengan rayuan gila
merayu dan merasuk dalam hati si laki-laki tua

laki-laki tua yang terbiasa pulang malam
secara senyap menghidupi istri simpanan …
Aku adalah saksi perkelahian keluarga ini
ketika anak semata wayang
menjadi mata-mata atas perselingkuhan bapak kandungnya

“Bapak jahat, bapak tega menghancurkan hidup Dimas dan Ibu.”
tak lama amarah itu terlontar,
tamparan keras melayang ke wajah Dimas. “Dasar anak tak tahu diri!”

Rumah ini bising dengan cacian, murka, dan tangisan.
Aku membisu sebagai memori yang menyedihkan …
hingga tujuh hari berselang,
mereka masih berputar-putar pada kesedihan dan kemarahan

tatapan kosong, baju lusuh, barang-barang yang tak terawat,
halusinasi dan depresi, pikiran mereka menjadi sarang bagi bisikan-bisikan iblis
pembawa dosa.“Nak, temui ibu di surga ya, biarlah ibu mengadu langsung kepada
Tuhan, atas kelakuan ayahmu, maafkan Ibu ya, Ibu akan menjemputmu.”

Aku saksi atas penderitaan yang mereka alami di rumah sunyi ini
Aku saksi atas setiap tangisan dan amarah yang mereka luapkan di ubin-ubin ini
Aku saksi atas kematian yang mereka tanggung sendiri.
Sampai sebelum ruh meninggalkan jasad yang haus dan kelaparan, serangkai
pesan dan kutukan diukir pada tubuhku.

“Aku minta rumah ini diwakafkan untuk masjid Tanimulya. Kalau Mudjoyo Tjandra
tidak menyerahkan untuk didirikan masjid di tempat ini berati sudah menjadi
penjahat karena merebut hak saya dan warga Tanimulya untuk warga…. Pak RT
tolong tagih rumah ini dan harus jadi masjid atas kematian saja.”

Enam tahun lamanya,
Tepat terbaring di depan tubuhku,
Dua jasad terkapar mengerikan
Perlahan-lahan tubuh mereka usai termakan usia
Aku melihat sendiri bagaimana tangan-tangan lembut itu digrogoti belatung dan
serangga
Aku melihat sendiri, bagaimana

Ubin telah ternodai oleh darah dan bau
Udara telah tehantui oleh kesunyian dan kedinginan
rumah ini adalah peristirahatan
dan mereka terkaku menjadi tulang belulang

Aku, hanya diam ketika akhirnya warga menyadari bahwa tragedi mengenaskan
terjadi pada sudut rumah ini.
Kini aku adalah dinding tak bertuan, dan tugasku untuk menyampaikan pesan, telah
selesai, Ibu, Dimas, mereka sudah tahu, semoga kalian benar-benar bertemu di
sana.

oOo

*) Catatan kaki (link berita):

https://www.bbc.com/indonesia/articles/cz7e76edg7ko.amp

oOo

TENTANG PENULIS: Tabik! Aku Anggi Farhans, sama dari banyaknya anak muda yang lain, saat ini aku
menghabiskan waktu sebagai mahasiswa sembari bekerja di salah satu perusahaan
swasta, di sela-sela itu aku menghabiskan waktu untuk menulis dan sesekali
bergumam dengan imajinasi yang menumpuk, di samping itu aku juga berkhidmat di
Komunitas Penulis Muda Lampung sebagai pendiri.
Bagiku menulis adalah candu, dan cara menghentikannya hanya dengan kematian.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp 150 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==