Oleh: Tias Tatanka
Jakarta – Sekolah Alam Tunas Cendekia menggelar Diskusi dan Pentas Seni bertajuk “Pendidikan Seni Sastra bagi Anak” di Aula Sastra PDS HB Jassin, lantai 4, Jakarta, Sabtu (20/6). Kegiatan ini menjadi bagian dari perjalanan sekolah yang telah berdiri selama 15 tahun dalam mengembangkan pendidikan berbasis potensi anak.
Pembina Sekolah Alam Tunas Cendekia dalam sambutannya menyampaikan bahwa perjalanan sekolah selama ini menunjukkan eksistensi yang terus berkembang. Saat ini para murid telah menerima Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dan sekolah telah memperoleh akreditasi B.

“Hari ini membuktikan eksistensi Sekolah Alam Tunas Cendekia dalam rentang waktu perjalanan. Murid telah menerima NISN dan sekolah terakreditasi B. Semoga tahun depan, saat sudah meluluskan murid akan mendapat akreditasi A,” ujarnya.
Sekolah Alam Tunas Cendekia yang berlokasi di Ciater, Pamulang, Tangerang Selatan ini memulai perjalanannya sejak 15 tahun lalu melalui Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak. Sementara jenjang Sekolah Dasar kini memasuki tahun kelima.
Kepala Sekolah Alam Tunas Cendekia mengajak para orang tua dan pendidik untuk terus mendampingi anak sesuai dengan potensi yang dimiliki.

“Mari kita bimbing anak-anak sesuai bakat dan kecerdasannya, dengan mengembangkan multiple intelligences,” katanya.
Selain menampilkan pentas seni murid-murid yang disutradarai oleh Dewi Sinta, kegiatan ini juga menghadirkan diskusi bertajuk “Pendidikan Seni Sastra bagi Anak”.
Diskusi menghadirkan tiga narasumber yaitu Devie Komalasari dari Sanggar Matahari Jakarta, Tias Tatanka dari Komunitas Literasi Rumah Dunia Kota Serang, dan Iin Zakaria dari Dongeng Dakocan Lampung. Ketiganya merupakan penerima Apresiasi 25 Tahun Berkarya dari Badan Bahasa tahun ini.

Devie Komalasari yang akrab disapa Devie Matahari memaparkan perjalanan berkesenian selama lebih dari 30 tahun bersama Sanggar Matahari yang bergerak di bidang teater.
“Untuk berkesenian tidaklah mutlak karena keturunan atau bakat. Hal itu dapat dilakukan oleh siapa pun selama ia berlatih terus-menerus,” kata Devie.


Pembicara kedua, Tias Tatanka menjelaskan mengenai peran Komunitas Literasi Rumah Dunia dalam mengenalkan sastra sejak dini kepada anak-anak.
“Modal utama anak untuk memulai menulis adalah membaca buku. Jika anak malas, orang dewasa harus membacakan buku untuknya. Jika ia belum tertarik juga, alihwahanakan buku menjadi sebuah dongeng. Bahkan wujudkan dalam teatrikal,” tambah Tias.
Sementara itu, Iin Zakaria menerangkan mengenai konsep mendongeng bagi anak-anak.
“Setiap anak terlahir sebagai seniman. Buktinya dengan caranya sendiri ia belajar menghadapi tantangan mempelajari apa pun sejak bayi,” ujarnya.

Sebagai penutup acara, murid-murid Sekolah Alam Tunas Cendekia menampilkan drama musikal yang disutradarai oleh Dewi Sinta. Drama tersebut mengisahkan pentingnya menjaga hutan dari perusakan agar keseimbangan alam tetap terpelihara.



